Total Tayangan Halaman

Jumat, 25 November 2016

Selamat Hari Guru Nasional!

Selamat Hari Guru Nasional!

Mungkin terkesan tidak kreatif karena saya meletakkan judul sebagai kalimat pembuka di postingan pertama di tahun 2016 ini, jadi ya mohon maaf.
 
Hari guru nasional sebenarnya merupakan hari dimana Kongres Guru Indonesia diadakan pada tahun 1945. Awalnya, pada tahun 1912, didirikan PGHB (Persatuan Guru Hindia Belanda) sebagai organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman penjajahan Belanda. Perjuangan PGHB untuk memperjuangkan nasib anggotanya terbilang sulit disebabkan oleh perbedaan latar belakang pendidikan dan status sosial dari anggotanya. Oleh karena itu, PGHB kemudian berkembang menjadi beberapa organisasi guru yang terpisah berdasarkan status sosial, latar belakang pendidikan, bahkan agama, seperti Perserikatan Guru Desa (PGD), Perserikatan Guru Ambachtsschool (PGA), Perserikatan Normaalschool (PNS), Persatuan Guru Bantu (PGB), Hogere Kweekschool Bond (HKSB), Christelijke Onderwijs Vereneging (COV), Katolieke Onderwijs Bond (KOB), Vereneging Van Muloleerkrachten (VVM), Nederlands Indische Onderwijs Genootschap (NIOG), dan lain-lain. Pada tahun 1932, PGHB diubah namanya menjadi PGI (Persatuan Guru Indonesia). Tentu saja ini membuat pihak pemerintah kolonial Belanda tidak senang atas digantinya nama "Hindia Belanda" dengan kata "Indonesia". Pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945), semua organisasi dilarang, termasuk PGI, sehingga organisasi ini harus vakum. Tepat 100 hari sejak diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, yaitu tanggal 24-25 November 1945, diadakan Kongres Guru Indonesia di Solo, Jawa Tengah. Dalam kongres ini, semua organisasi-organisasi guru yang berdasarkan status sosial, latar belakang pendidikan, dan agama sepakat dihapuskan. Semua guru di Indonesia sepakat untuk bersatu dalam satu wadah yang disebut Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Itu ringkasan sejarah PGRI, dari wikipedia (sumber mainstream saya selama 10 tahun terakhir), cuma sebagai intro kok.

------------------------oOo------------------------

Untuk guru pertama dalam kehidupan saya,
Untuk semua guru yang telah membentuk saya,
Untuk calon guru pertama dalam kehidupan calon anak-anak saya kelak,
Untuk murid-murid saya yang saya banggakan,

Dalam kepercayaan yang saya yakini beberapa tahun terakhir, saya sadari bahwa sebenarnya pendidikan itu bukanlah suatu hak, melainkan suatu kewajiban yang harus diemban oleh setiap warga negara. Ya, setiap masyarakat, menurut saya harus memperjuangkan dirinya agar jadi manusia yang terdidik. Jika pendidikan hanyalah sebuah hak, maka jika tidak diambil, orang tidak akan mendapat konsekuensi apapun. Namun, pada kenyataannya, jika orang tidak belajar, mendidik dirinya, serta memperjuangkan pendidikannya, orang tersebut akan merasakan pahitnya kebodohan, minimnya etika, serta kurangnya kesejahteraan dalam hidupnya. Selain setiap orang wajib memperjuangkan dirinya agar menjadi manusia yang berilmu dan terdidik, harus ada sinkronisasi dengan kewajiab setiap orang lainnya yang terdidik dan lebih berilmu, untuk mengajari orang lain. Anda tidak salah membaca, mengajar itu menurut saya wajib bagi setiap orang berilmu. Oleh karena itu, setiap orang itu merupakan guru bagi orang lain, idealnya.

Namun, apa yang terjadi di dunia pendidikan sekarang di negara ini? Saya melihat, pendidikan formal sekarang tidak lebih dari sekadar mesin cetak angkatan kerja, bukan sebagai tempat untuk mengasah dan membentuk potensi yang terpendam sejak lahir. Ini membuat murid-murid tidak memahami tujuan besar dari pendidikan formal yang mereka jalani selama kurang lebih dua belas tahun. Beberapa kali saya menanyakan hal yang sama kepada murid-murid saya mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Mereka mengaku tidak memahami sama sekali tentang sistem pendidikan yang mereka jalani. Ya, mereka berada di sistem pendidikan, mereka mengalami pendidikan, mereka sangat berpengalaman di dunia pendidikan, namun mereka tidak memahami apa yang mereka jalani. Bukankah ini aneh? Apakah ketika mereka berumur 6 tahun mereka memasuki sekolah dasar atas dasar disuruh orang tua semata lalu tidak pernah menyadari esensi dari apa yang mereka jalani selama ini selama 12 tahun? Bukankah ini berarti sekolah hanya menjadi ladang pekerja yang ditanam, diperlakukan sama, lalu dipanen tiap tahun?

Lebih lagi, saya melihat banyak orang yang telah menjadikan dunia pendidikan sebagai ladang bisnis, itu kenyataannya. Ketika dunia pendidikan dijadikan bisnis, maka akan ada beberapa keburukan yang terjadi (dan mungkin sudah terjadi).

Pertama, ilmu menjadi tidak berharga. Kapitalisasi pendidikan menjadikan ilmu sebagai komoditas yang berharga untuk dijual, seperti barang dagangan. Dalam pendidikan formal, institusi pendidikan sebagai perusahaan, murid sebagai raw material, angkatan kerja sebagai produk, ilmu sebagai zat untuk mentransformasikan murid menjadi angkatan kerja, dan guru sebagai proletar. Sedangkan dalam pendidikan nonformal, terkadang institusi pendidikan sebagai toko, murid sebagai pembeli, dan guru sebagai penjual. Ilmu bukan lagi disadari sebagai sesuatu hal yang harus dituntut oleh murid untuk menjadikannya lebih baik, bukan sebagai cara untuk beribadah (menuntut ilmu adalah ibadah), melaikan sebagai alat untuk mencapai nilai. Ya, nilai. Jika nilai murid tinggi, mereka lulus. Sesederhana itu. Akibat sistem pendidikan yang lebih mengutamakan nilai kuantitatif inilah yang menyebabkan murid merasa dituntut oleh ilmu, bukan sebaliknya. Tidak sedikit yang akhirnya yang malas belajar, bahkan membenci beberapa ilmu tertentu yang mereka anggap sulit. Padahal pada zaman dulu, orang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk menemui seorang yang memiliki ilmu yang ia butuhkan, yang ia cari. Ilmu sangat berharga pada saat itu.

Kedua, guru menjadi tidak berharga. Sekali lagi saya kembali tuliskan di paragraf ini agar anda tidak perlu repot scroll ke atas, menjadi guru (mendidik dan mengajarkan orang lain) itu seharusnya menjadi kewajiban bagi setiap orang yang memiliki ilmu kepada orang yang membutuhkan ilmu. Dari prinsip ini dapat diartikan bahwa seharusnya menjadi guru janganlah dijadikan profesi yang dapat menguntungkan secara materiil kepada anda. Jadikanlah mengajar sebagai pemberian terbaik kepada murid, bukan sebagai tuntutan profesi atau mata pencaharian. Namun, saya sadari bahwa kewajiban guru di sekolah untuk standby di sekolah selama 40 jam per pekan rasanya membuat hal itu menjadi sulit dijalankan. Selain itu, rasa terpaksa murid dalam menuntut ilmu akibat tidak menyadari betapa vitalnya pendidikan bagi kehidupannya berakibat pada rendahnya rasa hormat kepada guru. Etika murid menjadi sangat minim, kurang disiplin, cenderung seenaknya, kurang memiliki adab ketika menuntut ilmu. Demoralisasi ini menurut saya juga disebabkan oleh prinsip bisnis "pelanggan adalah raja". Banyak murid yang menganggap dirinya sebagai pelanggan yang "membayar" guru untuk membuatnya mendapat nilai tinggi (bukan menjadikan dirinya cerdas). Guru dijadikan "sapi perah" yang menghasilkan nilai yang baik di ijazah bagi sang murid. Padahal, bisa jadi, murid yang menyakiti gurunya menjadi salah satu sebab suatu ilmu menjadi tidak bermanfaat bagi sang murid.

Setidaknya, itu yang saya lihat dan saya rasakan selama ini, tidak hanya ketika mengajar, melainkan juga ketika saya belajar (di sekolah atau kampus). Jika anda seorang guru, jadilah emas di antara lumpur: jadilah guru yang sebenar-benarnya guru walaupun anda berada di dalam sistem pendidikan yang buruk. Jika anda seorang murid, introspeksi niat anda kembali, tanyakan kepada diri anda, "selama anda lebih kurang 12 tahun mengenyam bangku pendidikan, apa yang anda dapat selain bertambah tua?"

Mohon maaf jika ada yang kurang atau salah kata, nanti saya edit, jika sempat.

Selasa, 08 Desember 2015

Dari Sebuah Kiriman

pripun perasaan kamu ?

Saya tergelitik dengan obrolan sesama lelaki di sebuah forum FB.

Lelaki pertama bertanya ke lelaki kedua, kenapa sampai sekarang betah melajang, sementara umur sudah 35 thn.

Lelaki kedua menjawab santai, "Belum ketemu yang cocok. Jaman sekarang perempuan banyak maunya. Gak ada yang mau diajak susah. Gue maunya sih nyari istri, gak mau pacar-pacaran, tapi ya itu dia, gue mau istri yang bisa mengurus rumah tangga, beres-beres rumah, masak, dsb. Susah bro nyari perempuan yang begitu sekarang2 ini."

Dan jawaban dari lelaki pertama membuat saya nyesss...

Lelaki pertama membalas, "Bro. Sekedar masukan aja buat kita para lelaki nih, gue dulu juga maunya begitu. Dapet bini yang bisa ngurusin gue dan anak-anak. Pengennya dapat istri yang mau diajak susah. Tapi makin ke sini gue mikir lagi bro.

Perempuan mana sih yang mau diajak susah? Elo aja deh bro, kalau elo ada di posisi perempuan, ada yang mau ngelamar elo nih, tapi syaratnya elo mau diajak susah. Gue yakin elo gak bakal terima lamarannya kan? Mendingan sama laki-laki lain yang bisa menjamin masa depannya. Gak susah-susahan.

Kita laki-laki juga kadang egois banget. Istri harus bisa masak, nyuci, nyetrika, beres2 rumah, dsb dsb. Karena kita anggap itu tugas istri. Sekarang kalo dibalikin nih, kita bisa gak benerin genteng bocor, atau bikin pagar di halaman, atau apalah itu pekerjaan cowok lainnya. Elo bisa bro? Kalo gue ngaku aja sih, gue gak bisa.. Hahaha.. Padahal itu seharusnya tugas suami kan?

Berhubung kita gak bisa, trus kita sisihkan uang lebih untuk bayar orang lain yang bisa kerjakan semuanya. Gak adil banget kita ya bro.. Istri kita suruh kerjain apa-apa yang kita pikir itu tugasnya, sementara kita bayar orang utk kerjain tugas-tugas kita..

Harusnya  jangan bebankan tugas itu ke istri. Kita harus kerja keras supaya bisa bayar asisten rumah tangga yang bisa kerjain itu semua.

Istri adalah ratu. Dia yang mengandung anak kita. Yang ikhlas selama 9 bulan kemana2 bawa anak kita yang masih di dalam perut.
Yang rela bentuk badannya jadi tidak seindah dulu karena proses hamil dan melahirkan. Rela menyusui, rela mencurahkan kasih sayang untuk anak-anak kita.

Dan tau gak bro? Ini hal yang paling parah. Istri juga rela ikut kerja cari nafkah lhoo kalau kita gak mampu memenuhi semua kebutuhan rumah tangga. Dia kerja buat bantuin kewajiban kita bro. Supaya masa depan anak kita terjamin.

Jadi gimana bro?
Masih mau cari perempuan yang mau diajak susah?
Mendingan elo susah sendiri aja bro.. Jangan bawa-bawa anak orang.



(Sumber: Dari sebuah kiriman nyasar di Line saya)

Jumat, 30 Oktober 2015

Surat

Status: Feeling

Ada sebuah rasa, yang tidak pernah saya katakan, sekalipun itu dikatakan dalam hati, tidak.
Saya tidak berani mengatakannya, sekalipun kepada diri sendiri, terlebih lagi secara verbal kepada orang lain, tidak saya katakan.

Saya tidak mengatakan bahwa rasa itu adalah "cinta", karena saya tidak dapat membuktikan apa-apa kepadamu. Saya meyakini bahwa tidak ada yang namanya cinta sebelum sebuah pernikahan terjadi.

Bukan, bukannya saya tidak yakin, saya hanya takut, hanya khawatir, jika rasa itu saya katakan kepada diri sendiri ini, itu akan mengubah saya, sedikit demi sedikit.
Saya tidak mau itu terjadi. Namun percayalah, kepribadian saya ini tidak seganda yang kamu pikirkan.

Saya ingin mengunci rapat-rapat perasaan kepadamu itu, sebenarnya, walaupun terkadang berat.

Seandainya kamu tahu, mengapa saya tidak mendekatimu, itu karena semata-mata aku ingin menjagamu, membantumu menjaga dirimu, termasuk menjaga dirimu dari diriku. Ya, jika saya mendekatimu, saya khawatir itu akan merusak dirimu, merusak diriku juga, seperti sang surya yang akan merusak sang pertiwi jika ia mendekat. Kamu akan memahaminya jika kamu mengerti bahwa cinta sejati, yang hakiki, tidak pernah membuat orang yang dicintainya menjauh dari Allah, dengan cara yang diridhai-Nya. Semoga kamu mengerti.

Mungkin, kita bagaikan dua buah garis linear dengan nilai gradien yang sangat dekat. Ya, terkesan sangat dekat, padahal titik temunya sangat jauh, sangat jauh.

Lebih baik kita menjalani peran kita masing-masing, di lingkungan masing-masing, tak perlu memikirkan hal ini. Aku ingin menjaga diriku sebagaimana aku menginginkan kamu tetap terjaga hingga kita dipertemukan, semoga kamu juga demikian. Semoga.

Senin, 21 September 2015

Responsif

Dalam berkegiatan di kampus, dewasa ini banyak mahasiswa yang menggunakan gadget sebagai sarana komunkasi dan koordinasi. Baik itu urusan akademik maupun non akademik. Namun, disadari atau tidak disadari, disamping keuntungannya yaitu membuat penyebaran informasi menjadi lebih cepat dan praktis, ada juga dampak negatifnya: Kurang responsif.

Tidak, jangan anda menyangkal dengan kalimat "Ah tergantung orangnya", tapi itulah kenyataannya yang sering terjadi. Sejak orang-orang mengandalkan gadget dan telepon genggam, pertemuan secara fisik menjadi tidak penting ("toh hasil pertemuan bakal dishare di grup"). Orang bisa membatalkan perjanjian seenaknya dengan cepat dan tiba-tiba. Respon mereka lambat ketika mendapat pesan yang seringkali bersifat mendadak dan penting. Alasan pun terinvensi: Gak ada pulsa, gak ada paket internet, gak tiap waktu orang ngebuka grup, dan hal-hal remeh lainnya yang terkadang bikin kita "geregetan".

Coba bandingkan dengan tahun 1980an ke atas. Saya ambil contoh ketika momen ospek jurusan. Saat itu, belum ada handphone atau alat komunikasi lain selain telepon rumah yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari dalam satu kelurahan. Mahasiswa-mahasiswa saat itu mendapat informasi hanya dari pertemuan terakhir dengan teman-teman seangkatan mereka, tidak lebih. Keadaan seperti itu membuat mereka benar-benar memasang telinga mereka ketika suatu informasi penting datang dari ketua angkatan maupun senior mereka. Dan ketika pulang ke kosan masing-masing pun, mereka benar-benar komitmen dan mengingat-ingat apa yang harus dilakukan selanjutnya, kapan dan dimana pertemuan berikutnya, dan lain-lain. Mereka sadar, informasi itu mahal.

Lihatlah apa yang terjadi sekarang, gumaman ketika ada pengumuman "Ah selow, nanti juga ada reminder H-3, H-2, H-1, dan J-12". Informasi tidak seberharga dulu. Itu pun, ketika dijarkom dan diminta konfirmasi, mereka banyak yang ogah-ogahan dalam merespons, ah tepatnya: lamban, dengan berbagai alasan yang sudah diutarakan di atas. Atau karena ketidakpedulian semata? Saya tidak paham.

Saya paham kesibukan kuliah atau di tempat lain terkadang membuat orang jarang membuka media sosial sehingga tidak responsif. Namun untuk sebuah urusan yang membutuhkan respon cepat, kesibukan bukan alasan untuk tidak merespons dengan cepat. Sekali lagi, bukan

Benarkah media sosial merupakan sarana paling efektif dan efisien dalam berkoordinasi dengan orang banyak? Saya sangsi. Namun saya pikir bisa dijadikan alternatif dengan syarat: responsif.

Tolonglah.

Kamis, 27 Agustus 2015

Pengunduran

Status: Feeling - Judging

Selasa, 25 Agustus 2015 adalah hari yang buruk buat saya, terutama di sore hari. Hari itu adalah hari pertama pengajaran di panti pada semester ini setelah sebelumnya libur panjang selama hampir tiga bulan lamanya. Saya datang dengan bekal cukup niat dan beberapa buku sepeninggal SMA saya yang telah usang dan robek. Disambut oleh anak-anak SD yang telah menunggu kami, saya masuk ke dalam panti itu. Masih sepi. Jam menunjukkan pukul 15.50. Saya menanti.

Singkatnya, pukul 16.30, saya sudah dapat "jatah" murid, beberapa anak kelas XII SMA, yang di semester sebelumnya mereka kelas XI SMA. Entah mengapa, saya tidak menikmati pengajaran hari itu. Bukan, bukan karena tidak tersedianya papan tulis, melainkan lebih kepada ketidaknyamanan mereka (murid-murid) terhadap cara mengajar saya. Saya mengajar dengan cara seperti biasa, namun sepertinya tidak cocok untuk mereka, tidak seperti murid kelas XII di semester lalu yang cukup nyaman dengan cara mengajar saya. Sejujurnya, saya tidak punya cara lain dalam mengajar, begitu saja, apa adanya. Saya selama ini hanya nyaman mengajar SMA kelas XI atau XII, tidak di luar itu. Itulah sebabnya tadi saya diminta mengajar kelas XII SMA.

Ketika murid-murid itu dialihkan ke pengajar lain, mereka terlihat senang dan lega. Terdengar kata "yes!" dari salah satu mulut mereka. Saya cukup sedih. Ditambah lagi dengan keberadaan teman-teman saya yang lain yang semakin banyak, saya semakin tidak merasa dibutuhkan dan tidak dihargai lagi dalam agenda rutin mingguan ini.

Di sisi lain, saya juga bersyukur acara mingguan ini semakin ramai, semakin maju. Pengurus tahun ini lebih baik daripada periode sebelumnya, yaitu saya sendiri. Di tahun lalu, ketika saya mengurus agenda ini, teman-teman yang datang bisa dikatakan sepi, dengan rata-rata sekitar 8-9 orang saja, termasuk saya dan teman-teman sesama pengurus. Namun sekarang sepertinya lebih ramai. Orang-orang yang tadinya jarang datang, menjadi sering ikut datang. Entahlah, saya tak tahu mengapa tahun lalu begitu sepi.

Saya hanya menahan kesedihan dengan bermain dengan kucing-kucing di sekitar panti itu. Saya memikirkan hal itu dalam-dalam. "Sudah saatnya pindah pekerjaan". Itu keputusan saya ketika saya pulang. Ingin mengundurkan diri. Pindah tempat mengajar yang lebih membutuhkan saya. Walaupun, saya cukup mencintai agenda rutin dan panti ini, setelah tertanam dalam hati selama hampir dua tahun terakhir, sebuah waktu yang cukup untuk menanamkan ikatan emosional terhadap sesuatu. Namun, mau bagaimana lagi, merasa tidak dibutuhkan lagi, tidak dihargai lagi, adalah alasan logis mengapa sesuatu yang dicintaipun harus kita tinggalkan, sesegera mungkin.

Jika kamu mencintai seseorang atau sesuatu, lalu ia bersikap tidak membutuhkanmu dan tidak menghargaimu lagi, maka tinggalkanlah. Kamu hanya akan menjadi pengganggu baginya.

Meskipun begitu, meninggalkan seseorang atau sesuatu yang kamu cintai dengan alasan tersebut tidak akan mengobati sesuatu yang tertinggal: kerinduan.

Saya sadari itu, lekat-lekat.

Jumat, 14 Agustus 2015

Idolatri Tribus dan Idolatri Specus

Menurut Francis Bacon (1561-1626), ada dua jenis kesalahan yang dilakukan manusia: Kesalahan Umum (Idolatri Tribus) dan Kesalahan Individu (Idolatri Specus).

IDOLATRI TRIBUS
Kesalahan umum yang dilakukan manusia dibedakan atas:
1. Dramatisasi (melebih-lebihkan kenyataan). Hal yang dilebih-lebihkan: Frekuensi, kuantitas, tempat, waktu, aksi, dan pelaku/aktor.
2. Generalisasi (menyamaratakan). 'Beberapa', dianggap 'semua'.
3. Pemenuhan harapan (wishfulfilment). Harapan kita tentang sesuatu atau seseorang, acap kali membuat kita tidak berpikir jernih lagi.
4. Pembenaran diri. Biasanya terjadi saat kita melakukan kesalahan, diikuti usaha-usaha untuk mencari kambing hitam dan membuat alibi.
5. Reduksi & simplifikasi (menyederhanakan & mengecil-ngecilkan). Contoh: Faktor ekonomi sering dianggap sebagai akar berbagai masalah.
6. Primordialisme. Kesetiaan atau fanatisme dan pembenaran kelompok di mana kita termasuk di dalamnya. Padahal kelompok kita belum tentu benar.

IDOLATRI SPECUS
Berikut adalah hal-hal yang berkaitan dengan kesalahan individu:
1. Pengalaman. Terutama pengalaman pahit, karena lebih "terekam" ingatan.
2. Pendidikan. Pengaruh dari orang tua, pengajar, buku, doktrin, iklan, dll. Pendidikan menjadi penyalur dari kesalahan pemikiran dan prasangka.
3. Karakter. Perbedaan karakter seorang individu dengan individu lain bisa menyebabkan bentrokan (sekaligus bisa saling melengkapi). Terdapat beberapa jenis karakter yang saling berlawanan. Contohnya: Optimis-pesimis, Globalis-spesialis, Similaris-diferesia.

Senin, 10 Agustus 2015

Terkadang

Status: Sensing - Thinking

Terkadang, gue bingung dengan apa yang terjadi di sekitar gue. Bukan hal besar yang gue ingin pikirkan, lebih kepada hal-hal kecil. Gak tau kenapa, ini sangat mengganggu gue. Gue pengen ceritain beberapa hal aja. Gak banyak, cuma tiga poin aja dulu sekarang.

Pertama, gue bingung gimana cara berpikir orang-orang di sekitar gue ini. Contohnya, gue kan like fanpage National Geographic Indonesia. Lumayan langganan baca postingannya. Dia (NGI) kalo ngepost biasanya artikel tentang fakta ilmiah gitu. Nah gue gak ngerti kenapa, jarang banget yang ngomen di postingannya. Akan tetapi, kalo dia ngomongin hal yang nyerempet agama, politik, dan hal-hal yang kontoversial, yang komen banyak banget. Gak cuma NGI sih, di berita-berita online (detik.com, kompas, metrotv, dll) juga isi komennya kayak "lempar batu sembunyi tangan". Orang-orang yang ngomen pasti mikir gini, "toh ini medsos, bebas gue berkomen, diatur undang-undang kok, lagipula, toh gak ada yang kenal gue ini". Sampe gue mikir gini, "Orang Indonesia itu seneng banget sama hal-hal yang kontroversial. Politik dan Agama terutama. Tapi kalo lagi disuruh mikir hal-hal yang ilmiah, malesnya na'udzubillah. Dari sini gue ambil kesimpulan kalo sebenarnya, orang Indonesia itu kebutuhan pokoknya: Sandang, pangan, papan, dan eksistensi. Sayangnya, eksistensi sering kali lebih didahulukan daripada sandang/pangan/papan. Eksistensi ini bisa dalam bentuk 'ingin terlihat kaya, ingin terlihat cerdas, dan ingin terlihat berkuasa'. Media sosial bisa mengubah orang yang kalem dan bijaksana menjadi dungu dan acuh".

Kedua, gak tau kenapa, gue gak suka kalo denger orang manggil nama orang lain dengan status sosialnya. Jadi kadiv, dipanggil "Halo Pak Kadiv", baru naik haji, dipanggil, "Hai Pak Haji", baru nyebar kebaikan dikit (di medsos dan dunia nyata) dipanggil "Assalamu'alaykum Pak Ustadz" atau "Syeikh". "Bercanda itu, jangan dianggap serius lah". Benarkah? Terkadang kita kalo bercanda emang kelewatan. Kayak lo maen bullying waktu ospek: just for fun. Serupa namun berkebalikan. Kalo waktu ospek lo merendahkan orang lain karena 'just for fun', ini lo meninggikan orang lain karena 'just for fun'. Lagi pula, gini lho, misalnya ada orang yang baru nyebar kebaikan, langsung lo panggil syeikh, bukan tidak mungkin (bahkan sangat mungkin), setan menggunakan kesempatan itu untuk menggelincirkan niatnya untuk berbuat baik. Timbullah riya, ujub. Bisa jadi, who knows? Terkadang, prasangka buruk dapat mengintrospeksi orang yang tidak dapat mengintrospeksi dirinya sendiri. Emang bener kata Niccolo Machiavelli, "Gelar tidak memuliakan seseorang, melainkan orang-oranglah yang memuliakan gelar".

Ketiga, idealisme itu, sepengelihatan gue, adalah sahabat di mulut, namun musuh di dalam hati. Berapa banyak senior-senior lo yang dulu ngajarin soal sopan santun, tapi kalo berangkat kuliah pake pakaian kayak tante-tante ke mall? Berapa banyak temen-temen lo yang ngajarin ke junior lo soal kejujuran, tapi kalo ngerjain PR masih nyalin temen? Katanya sih kepepet. Tapi disanalah esensi dari idealisme sesungguhnya: memegang teguh prinsip dalam situasi kepepet. Berapa orang dari temen-temen lo yang berkoar anti-korupsi tapi masih belajar persiapan matkul X pada saat kuliah matkul Y? Berapa orang yang ngakunya "jaga pandangan" (untuk cowok) tapi masih suka ngelike foto-foto cewek yang ganti profile picture di medsos? Lo mikir gak sih? Kalo ngajarin anak orang dan memperlihatkan sesuatu yang ideal-ideal itu berat banget? "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" (Q.S. Ash-Shaff: 2-3). Dari SMA gue pikirin itu dan itulah sebabnya gue gak mau ikut-ikutan ngajarin anak orang lebih lanjut dari sekadar "ngasih contoh lalu ngasih tau secara personal".

Oke, gitu doang. Nanti kalo ada keluhan lagi gue lanjutin :v.