Total Tayangan Halaman

Selasa, 08 Desember 2015

Dari Sebuah Kiriman

pripun perasaan kamu ?

Saya tergelitik dengan obrolan sesama lelaki di sebuah forum FB.

Lelaki pertama bertanya ke lelaki kedua, kenapa sampai sekarang betah melajang, sementara umur sudah 35 thn.

Lelaki kedua menjawab santai, "Belum ketemu yang cocok. Jaman sekarang perempuan banyak maunya. Gak ada yang mau diajak susah. Gue maunya sih nyari istri, gak mau pacar-pacaran, tapi ya itu dia, gue mau istri yang bisa mengurus rumah tangga, beres-beres rumah, masak, dsb. Susah bro nyari perempuan yang begitu sekarang2 ini."

Dan jawaban dari lelaki pertama membuat saya nyesss...

Lelaki pertama membalas, "Bro. Sekedar masukan aja buat kita para lelaki nih, gue dulu juga maunya begitu. Dapet bini yang bisa ngurusin gue dan anak-anak. Pengennya dapat istri yang mau diajak susah. Tapi makin ke sini gue mikir lagi bro.

Perempuan mana sih yang mau diajak susah? Elo aja deh bro, kalau elo ada di posisi perempuan, ada yang mau ngelamar elo nih, tapi syaratnya elo mau diajak susah. Gue yakin elo gak bakal terima lamarannya kan? Mendingan sama laki-laki lain yang bisa menjamin masa depannya. Gak susah-susahan.

Kita laki-laki juga kadang egois banget. Istri harus bisa masak, nyuci, nyetrika, beres2 rumah, dsb dsb. Karena kita anggap itu tugas istri. Sekarang kalo dibalikin nih, kita bisa gak benerin genteng bocor, atau bikin pagar di halaman, atau apalah itu pekerjaan cowok lainnya. Elo bisa bro? Kalo gue ngaku aja sih, gue gak bisa.. Hahaha.. Padahal itu seharusnya tugas suami kan?

Berhubung kita gak bisa, trus kita sisihkan uang lebih untuk bayar orang lain yang bisa kerjakan semuanya. Gak adil banget kita ya bro.. Istri kita suruh kerjain apa-apa yang kita pikir itu tugasnya, sementara kita bayar orang utk kerjain tugas-tugas kita..

Harusnya  jangan bebankan tugas itu ke istri. Kita harus kerja keras supaya bisa bayar asisten rumah tangga yang bisa kerjain itu semua.

Istri adalah ratu. Dia yang mengandung anak kita. Yang ikhlas selama 9 bulan kemana2 bawa anak kita yang masih di dalam perut.
Yang rela bentuk badannya jadi tidak seindah dulu karena proses hamil dan melahirkan. Rela menyusui, rela mencurahkan kasih sayang untuk anak-anak kita.

Dan tau gak bro? Ini hal yang paling parah. Istri juga rela ikut kerja cari nafkah lhoo kalau kita gak mampu memenuhi semua kebutuhan rumah tangga. Dia kerja buat bantuin kewajiban kita bro. Supaya masa depan anak kita terjamin.

Jadi gimana bro?
Masih mau cari perempuan yang mau diajak susah?
Mendingan elo susah sendiri aja bro.. Jangan bawa-bawa anak orang.



(Sumber: Dari sebuah kiriman nyasar di Line saya)

Jumat, 30 Oktober 2015

Surat

Status: Feeling

Ada sebuah rasa, yang tidak pernah saya katakan, sekalipun itu dikatakan dalam hati, tidak.
Saya tidak berani mengatakannya, sekalipun kepada diri sendiri, terlebih lagi secara verbal kepada orang lain, tidak saya katakan.

Saya tidak mengatakan bahwa rasa itu adalah "cinta", karena saya tidak dapat membuktikan apa-apa kepadamu. Saya meyakini bahwa tidak ada yang namanya cinta sebelum sebuah pernikahan terjadi.

Bukan, bukannya saya tidak yakin, saya hanya takut, hanya khawatir, jika rasa itu saya katakan kepada diri sendiri ini, itu akan mengubah saya, sedikit demi sedikit.
Saya tidak mau itu terjadi. Namun percayalah, kepribadian saya ini tidak seganda yang kamu pikirkan.

Saya ingin mengunci rapat-rapat perasaan kepadamu itu, sebenarnya, walaupun terkadang berat.

Seandainya kamu tahu, mengapa saya tidak mendekatimu, itu karena semata-mata aku ingin menjagamu, membantumu menjaga dirimu, termasuk menjaga dirimu dari diriku. Ya, jika saya mendekatimu, saya khawatir itu akan merusak dirimu, merusak diriku juga, seperti sang surya yang akan merusak sang pertiwi jika ia mendekat. Kamu akan memahaminya jika kamu mengerti bahwa cinta sejati, yang hakiki, tidak pernah membuat orang yang dicintainya menjauh dari Allah, dengan cara yang diridhai-Nya. Semoga kamu mengerti.

Mungkin, kita bagaikan dua buah garis linear dengan nilai gradien yang sangat dekat. Ya, terkesan sangat dekat, padahal titik temunya sangat jauh, sangat jauh.

Lebih baik kita menjalani peran kita masing-masing, di lingkungan masing-masing, tak perlu memikirkan hal ini. Aku ingin menjaga diriku sebagaimana aku menginginkan kamu tetap terjaga hingga kita dipertemukan, semoga kamu juga demikian. Semoga.

Senin, 21 September 2015

Responsif

Dalam berkegiatan di kampus, dewasa ini banyak mahasiswa yang menggunakan gadget sebagai sarana komunkasi dan koordinasi. Baik itu urusan akademik maupun non akademik. Namun, disadari atau tidak disadari, disamping keuntungannya yaitu membuat penyebaran informasi menjadi lebih cepat dan praktis, ada juga dampak negatifnya: Kurang responsif.

Tidak, jangan anda menyangkal dengan kalimat "Ah tergantung orangnya", tapi itulah kenyataannya yang sering terjadi. Sejak orang-orang mengandalkan gadget dan telepon genggam, pertemuan secara fisik menjadi tidak penting ("toh hasil pertemuan bakal dishare di grup"). Orang bisa membatalkan perjanjian seenaknya dengan cepat dan tiba-tiba. Respon mereka lambat ketika mendapat pesan yang seringkali bersifat mendadak dan penting. Alasan pun terinvensi: Gak ada pulsa, gak ada paket internet, gak tiap waktu orang ngebuka grup, dan hal-hal remeh lainnya yang terkadang bikin kita "geregetan".

Coba bandingkan dengan tahun 1980an ke atas. Saya ambil contoh ketika momen ospek jurusan. Saat itu, belum ada handphone atau alat komunikasi lain selain telepon rumah yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari dalam satu kelurahan. Mahasiswa-mahasiswa saat itu mendapat informasi hanya dari pertemuan terakhir dengan teman-teman seangkatan mereka, tidak lebih. Keadaan seperti itu membuat mereka benar-benar memasang telinga mereka ketika suatu informasi penting datang dari ketua angkatan maupun senior mereka. Dan ketika pulang ke kosan masing-masing pun, mereka benar-benar komitmen dan mengingat-ingat apa yang harus dilakukan selanjutnya, kapan dan dimana pertemuan berikutnya, dan lain-lain. Mereka sadar, informasi itu mahal.

Lihatlah apa yang terjadi sekarang, gumaman ketika ada pengumuman "Ah selow, nanti juga ada reminder H-3, H-2, H-1, dan J-12". Informasi tidak seberharga dulu. Itu pun, ketika dijarkom dan diminta konfirmasi, mereka banyak yang ogah-ogahan dalam merespons, ah tepatnya: lamban, dengan berbagai alasan yang sudah diutarakan di atas. Atau karena ketidakpedulian semata? Saya tidak paham.

Saya paham kesibukan kuliah atau di tempat lain terkadang membuat orang jarang membuka media sosial sehingga tidak responsif. Namun untuk sebuah urusan yang membutuhkan respon cepat, kesibukan bukan alasan untuk tidak merespons dengan cepat. Sekali lagi, bukan

Benarkah media sosial merupakan sarana paling efektif dan efisien dalam berkoordinasi dengan orang banyak? Saya sangsi. Namun saya pikir bisa dijadikan alternatif dengan syarat: responsif.

Tolonglah.

Kamis, 27 Agustus 2015

Pengunduran

Status: Feeling - Judging

Selasa, 25 Agustus 2015 adalah hari yang buruk buat saya, terutama di sore hari. Hari itu adalah hari pertama pengajaran di panti pada semester ini setelah sebelumnya libur panjang selama hampir tiga bulan lamanya. Saya datang dengan bekal cukup niat dan beberapa buku sepeninggal SMA saya yang telah usang dan robek. Disambut oleh anak-anak SD yang telah menunggu kami, saya masuk ke dalam panti itu. Masih sepi. Jam menunjukkan pukul 15.50. Saya menanti.

Singkatnya, pukul 16.30, saya sudah dapat "jatah" murid, beberapa anak kelas XII SMA, yang di semester sebelumnya mereka kelas XI SMA. Entah mengapa, saya tidak menikmati pengajaran hari itu. Bukan, bukan karena tidak tersedianya papan tulis, melainkan lebih kepada ketidaknyamanan mereka (murid-murid) terhadap cara mengajar saya. Saya mengajar dengan cara seperti biasa, namun sepertinya tidak cocok untuk mereka, tidak seperti murid kelas XII di semester lalu yang cukup nyaman dengan cara mengajar saya. Sejujurnya, saya tidak punya cara lain dalam mengajar, begitu saja, apa adanya. Saya selama ini hanya nyaman mengajar SMA kelas XI atau XII, tidak di luar itu. Itulah sebabnya tadi saya diminta mengajar kelas XII SMA.

Ketika murid-murid itu dialihkan ke pengajar lain, mereka terlihat senang dan lega. Terdengar kata "yes!" dari salah satu mulut mereka. Saya cukup sedih. Ditambah lagi dengan keberadaan teman-teman saya yang lain yang semakin banyak, saya semakin tidak merasa dibutuhkan dan tidak dihargai lagi dalam agenda rutin mingguan ini.

Di sisi lain, saya juga bersyukur acara mingguan ini semakin ramai, semakin maju. Pengurus tahun ini lebih baik daripada periode sebelumnya, yaitu saya sendiri. Di tahun lalu, ketika saya mengurus agenda ini, teman-teman yang datang bisa dikatakan sepi, dengan rata-rata sekitar 8-9 orang saja, termasuk saya dan teman-teman sesama pengurus. Namun sekarang sepertinya lebih ramai. Orang-orang yang tadinya jarang datang, menjadi sering ikut datang. Entahlah, saya tak tahu mengapa tahun lalu begitu sepi.

Saya hanya menahan kesedihan dengan bermain dengan kucing-kucing di sekitar panti itu. Saya memikirkan hal itu dalam-dalam. "Sudah saatnya pindah pekerjaan". Itu keputusan saya ketika saya pulang. Ingin mengundurkan diri. Pindah tempat mengajar yang lebih membutuhkan saya. Walaupun, saya cukup mencintai agenda rutin dan panti ini, setelah tertanam dalam hati selama hampir dua tahun terakhir, sebuah waktu yang cukup untuk menanamkan ikatan emosional terhadap sesuatu. Namun, mau bagaimana lagi, merasa tidak dibutuhkan lagi, tidak dihargai lagi, adalah alasan logis mengapa sesuatu yang dicintaipun harus kita tinggalkan, sesegera mungkin.

Jika kamu mencintai seseorang atau sesuatu, lalu ia bersikap tidak membutuhkanmu dan tidak menghargaimu lagi, maka tinggalkanlah. Kamu hanya akan menjadi pengganggu baginya.

Meskipun begitu, meninggalkan seseorang atau sesuatu yang kamu cintai dengan alasan tersebut tidak akan mengobati sesuatu yang tertinggal: kerinduan.

Saya sadari itu, lekat-lekat.

Jumat, 14 Agustus 2015

Idolatri Tribus dan Idolatri Specus

Menurut Francis Bacon (1561-1626), ada dua jenis kesalahan yang dilakukan manusia: Kesalahan Umum (Idolatri Tribus) dan Kesalahan Individu (Idolatri Specus).

IDOLATRI TRIBUS
Kesalahan umum yang dilakukan manusia dibedakan atas:
1. Dramatisasi (melebih-lebihkan kenyataan). Hal yang dilebih-lebihkan: Frekuensi, kuantitas, tempat, waktu, aksi, dan pelaku/aktor.
2. Generalisasi (menyamaratakan). 'Beberapa', dianggap 'semua'.
3. Pemenuhan harapan (wishfulfilment). Harapan kita tentang sesuatu atau seseorang, acap kali membuat kita tidak berpikir jernih lagi.
4. Pembenaran diri. Biasanya terjadi saat kita melakukan kesalahan, diikuti usaha-usaha untuk mencari kambing hitam dan membuat alibi.
5. Reduksi & simplifikasi (menyederhanakan & mengecil-ngecilkan). Contoh: Faktor ekonomi sering dianggap sebagai akar berbagai masalah.
6. Primordialisme. Kesetiaan atau fanatisme dan pembenaran kelompok di mana kita termasuk di dalamnya. Padahal kelompok kita belum tentu benar.

IDOLATRI SPECUS
Berikut adalah hal-hal yang berkaitan dengan kesalahan individu:
1. Pengalaman. Terutama pengalaman pahit, karena lebih "terekam" ingatan.
2. Pendidikan. Pengaruh dari orang tua, pengajar, buku, doktrin, iklan, dll. Pendidikan menjadi penyalur dari kesalahan pemikiran dan prasangka.
3. Karakter. Perbedaan karakter seorang individu dengan individu lain bisa menyebabkan bentrokan (sekaligus bisa saling melengkapi). Terdapat beberapa jenis karakter yang saling berlawanan. Contohnya: Optimis-pesimis, Globalis-spesialis, Similaris-diferesia.

Senin, 10 Agustus 2015

Terkadang

Status: Sensing - Thinking

Terkadang, gue bingung dengan apa yang terjadi di sekitar gue. Bukan hal besar yang gue ingin pikirkan, lebih kepada hal-hal kecil. Gak tau kenapa, ini sangat mengganggu gue. Gue pengen ceritain beberapa hal aja. Gak banyak, cuma tiga poin aja dulu sekarang.

Pertama, gue bingung gimana cara berpikir orang-orang di sekitar gue ini. Contohnya, gue kan like fanpage National Geographic Indonesia. Lumayan langganan baca postingannya. Dia (NGI) kalo ngepost biasanya artikel tentang fakta ilmiah gitu. Nah gue gak ngerti kenapa, jarang banget yang ngomen di postingannya. Akan tetapi, kalo dia ngomongin hal yang nyerempet agama, politik, dan hal-hal yang kontoversial, yang komen banyak banget. Gak cuma NGI sih, di berita-berita online (detik.com, kompas, metrotv, dll) juga isi komennya kayak "lempar batu sembunyi tangan". Orang-orang yang ngomen pasti mikir gini, "toh ini medsos, bebas gue berkomen, diatur undang-undang kok, lagipula, toh gak ada yang kenal gue ini". Sampe gue mikir gini, "Orang Indonesia itu seneng banget sama hal-hal yang kontroversial. Politik dan Agama terutama. Tapi kalo lagi disuruh mikir hal-hal yang ilmiah, malesnya na'udzubillah. Dari sini gue ambil kesimpulan kalo sebenarnya, orang Indonesia itu kebutuhan pokoknya: Sandang, pangan, papan, dan eksistensi. Sayangnya, eksistensi sering kali lebih didahulukan daripada sandang/pangan/papan. Eksistensi ini bisa dalam bentuk 'ingin terlihat kaya, ingin terlihat cerdas, dan ingin terlihat berkuasa'. Media sosial bisa mengubah orang yang kalem dan bijaksana menjadi dungu dan acuh".

Kedua, gak tau kenapa, gue gak suka kalo denger orang manggil nama orang lain dengan status sosialnya. Jadi kadiv, dipanggil "Halo Pak Kadiv", baru naik haji, dipanggil, "Hai Pak Haji", baru nyebar kebaikan dikit (di medsos dan dunia nyata) dipanggil "Assalamu'alaykum Pak Ustadz" atau "Syeikh". "Bercanda itu, jangan dianggap serius lah". Benarkah? Terkadang kita kalo bercanda emang kelewatan. Kayak lo maen bullying waktu ospek: just for fun. Serupa namun berkebalikan. Kalo waktu ospek lo merendahkan orang lain karena 'just for fun', ini lo meninggikan orang lain karena 'just for fun'. Lagi pula, gini lho, misalnya ada orang yang baru nyebar kebaikan, langsung lo panggil syeikh, bukan tidak mungkin (bahkan sangat mungkin), setan menggunakan kesempatan itu untuk menggelincirkan niatnya untuk berbuat baik. Timbullah riya, ujub. Bisa jadi, who knows? Terkadang, prasangka buruk dapat mengintrospeksi orang yang tidak dapat mengintrospeksi dirinya sendiri. Emang bener kata Niccolo Machiavelli, "Gelar tidak memuliakan seseorang, melainkan orang-oranglah yang memuliakan gelar".

Ketiga, idealisme itu, sepengelihatan gue, adalah sahabat di mulut, namun musuh di dalam hati. Berapa banyak senior-senior lo yang dulu ngajarin soal sopan santun, tapi kalo berangkat kuliah pake pakaian kayak tante-tante ke mall? Berapa banyak temen-temen lo yang ngajarin ke junior lo soal kejujuran, tapi kalo ngerjain PR masih nyalin temen? Katanya sih kepepet. Tapi disanalah esensi dari idealisme sesungguhnya: memegang teguh prinsip dalam situasi kepepet. Berapa orang dari temen-temen lo yang berkoar anti-korupsi tapi masih belajar persiapan matkul X pada saat kuliah matkul Y? Berapa orang yang ngakunya "jaga pandangan" (untuk cowok) tapi masih suka ngelike foto-foto cewek yang ganti profile picture di medsos? Lo mikir gak sih? Kalo ngajarin anak orang dan memperlihatkan sesuatu yang ideal-ideal itu berat banget? "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" (Q.S. Ash-Shaff: 2-3). Dari SMA gue pikirin itu dan itulah sebabnya gue gak mau ikut-ikutan ngajarin anak orang lebih lanjut dari sekadar "ngasih contoh lalu ngasih tau secara personal".

Oke, gitu doang. Nanti kalo ada keluhan lagi gue lanjutin :v.

Rabu, 05 Agustus 2015

ABCD (part II)

"Terima kasih Alpha", kata Delta, menyeringai. "Kau selalu berkata seolah-olah kau benar-benar mengenal kami"

Bravo mengambil biskuit kaleng di meja Alpha. Tak ada yang ia katakan selain suara remukan biskuit di rahangnya.

"Begini, kawan-kawan", Charlie memulai pembicaraan kembali, setelah meneguk sodanya. "Dalam organisasi kita yang seumur jagung ini, apa saja yang belum rampung?"

"Pengembangan Anggota", sahut Delta.

"Sistem Pemilihan Kebijakan", kata Bravo, sambil mengunyah biskuit kaleng.

"Dua itu saja, Charlie. Masalah pribadi kawanmu yang lain perlu dibicarakan", kata Alpha tajam.

"Okay", kata Charlie, merapikan posisi duduknya, mengambil sekeping biskuit kaleng. "Untuk pertama tentang Sistem Pemilihan Kebijakan. Aku berharap adanya sistem musyawarah di setiap kita akan memilih jalan cagak. Kalian tahu, ya, ini akan demokratis. Setiap orang dari kita sangat bebas berpendapat ketika kita menghadapi jalan cagak, tentu disertai alasan yang cukup memadai dan jelas. Ini akan membantu. Ada hal lain? Ambilkan segelas air, Alpha, sodamu membuatku tak nyaman"

Alpha mengambilkan sebotol air mineral dari dalam kardus di sudut ruangan, agak berdebu. "Kau tak perlu membayar", katanya setengah bercanda.

"Aku akan memberikan pemikiranku tentang voting, Charlie", kali ini Bravo berbicara, bersemangat. "Menurutku, voting dapat digunakan dalam dua keadaan: butuh keputusan cepat dan orang yang terlibat banyak. Cepat di sini dalam hal mutlak dan banyak di sini dalam konteks yang relatif. Sifat anggota itu banyak tergantung parameter yang kita gunakan, tidak ada Standar Internasional, Charlie, percayalah. Adalah kurang proyek jika International Standard Organization mengurusi hal itu. Itu tergantung seberapa nyamannya kita dalam mengenal setiap anggota secara mendalam, seperti yang dijelaskan oleh Alpha. Poin selanjutnya adalah cepat. Kalian tentu sangat memahami bahwa organisasi kita mengutamakan progress dalam mencapai tujuan di atas kepentingan individu. Maka dari itu kecepatan pengambilan keputusan adalah yang utama. Voting yang ideal adalah voting yang menggunakan 100% intuisi semata, tanpa insting, data, fakta, pencerdasan, atau apapun. Jika sebelum dilakukan voting diadakan diskusi dan pemaparan data dan fakta, itu hanya menjadi sistem campuran, tidak punya pendirian, abu-abu. Voting sama sekali tidak membutuhkan alasan mengapa pemilihnya memilih A, B, atau C, sama sekali tidak. Pertimbangan dalam diri mereka sendiri pun sama sekali tidak dibutuhkan. Itu hanya memperlambat proses. Jangan pula seseorang sebelum voting itu, seseorang mengumumkan pilihannya kepada orang lain. Itu akan membuat orang lain menarik diri, bukan merasa golongannya. Kau paham itu, Charlie"

"Positif, Bravo", kata Charlie, meneguk sebotol air mineral yang diberikan Alpha.

"Bagaimana jika aku mempercayaimu saja, Charlie?", kata Delta, tiba-tiba.

"Kau tahu, mempercayaimu itu dari dua sisi. Kau sebagai seorang sahabat, dan kau sebagai seorang pemimpin". Aku pikir, aku akan selalu mempercayai apa yang kau putuskan, seganjil apapun keputusanmu"

"Kau tidak menganggapku sebagai manusia, Delta", kata Charlie, serius. "Di dunia ini, memusatkan keputusan dalam satu tangan tanpa alasan seakan bersifat intuitif itu sama sekali tidak proporsional, Delta. Lalu bagaimana dengan kau, Alpha?"

Alpha yang sejak tadi hanya memperhatikan, bergidik. "Ya, aku harap ini diskusi dua arah terakhir dalam organisasi kita. Aku tak suka voting, tapi penjelasan Bravo sangat bisa diterima olehku. Hanya itu pendapatku"

"Maksudmu?", kata Bravo.

"Kau tahu maksudku, Bravo", kata Alpha.

Melihat ekspresi Alpha, Charlie memahaminya.

Charlie menuliskan sesuatu pada buku catatan kecilnya. Delta mengintipnya.

"Dalam pengambilan keputusan, pemimpin adalah pembuat keputusan mutlak. Jika tidak dibutuhkan, pemimpin layak mengambil keputusan tanpa meminta pendapat anggotanya. Jika dibutuhkan, pemimpin layak meminta pendapat dari anggota lain tanpa sanggahan terang-terangan dari anggota lain ataupun dari pemimpin. I'm a leader, the decision maker"

"Perlu kukatakan padamu, Charlie", Alpha memulai lagi. "Mengapa kita membutuhkan pengembangan anggota? Kita berkumpul di organisasi ini karena tujuan yang sama, mengembangkan anggota dengan sistem tertentu sama saja dengan menjadikan organisasi ini menjadi mesin pencetak kue."

"Ya, Alpha", jawab Charlie. "Aku percaya kalian sudah cukup dewasa dalam memahat dirinya sendiri"

"Aku sejujurnya tidak menyukai pembahasan ini, Charlie, tapi aku menghormatimu, Delta, seperti aku menghormati diriku sendiri", kata Bravo tiba-tiba, gusar.

"Akan tetapi, akan kuberikan satu kecenderunganku yang kupercaya hingga saat ini. Charlie, kau hanya membutuhkan dua hal untuk pewaris kita di organisasi ini: Doktrin dan Keteladanan. Tidak kurang, tidak lebih. Itu bisa dilakukan tanpa sistem namun dapat diawasi dengan mudah jika dilakukan oleh setiap individu diantara kita memberikan doktrin dan keteladanan yang terbaik. Sekali lagi, Charlie, setiap individu. Kau tahu, sebuah organisasi yang berisikan anggota yang seluruhnya sadar dan meresapi tujuan organisasinya akan selalu sadar pula untuk mewarisi apa yang ia miliki kepada pewarisnya. Jika diantara kita ada yang tidak memiliki semangat dalam mewarisi doktrin dan keteladanan kepada anggota baru, itu berarti, orang itu menganggap tujuan organisasi ini bukan hal yang penting untuk dicapai, atau loyalitas terhadap dirinya sedang meningkat. Untuk waktu, itu tidak terlalu penting bagi kita. Kita memang membuat setiap anggota baru memahat dirinya sendiri, bukan kita mencetak dia seperti cetakan agar-agar yang rapuh. Tidak ada invisible big hand yang akan mengekang kita jika kita sibuk menanak nasi di daput, walaupun progresif dan cepat dalam menjalankan misi itulah yang diutamakan, bukan? Doktrin akan sangat sulit jika dilakukan dari nol, Charlie, percayalah padaku. Pastikan mereka memiliki landasan niat dan pemikiran yang bagus, itu pesanku".

Bravo kembali mengunyah biskuit kaleng.

"Kuemu enak, Alpha, beli dimana?", tanya Bravo tersenyum lebar.

"Diberi tetangga", kata Alpha dingin.

"Ah ya, satu lagi", lanjut Bravo, menutup kaleng biskuit. "Prinsip penghuni baru harus menghormati penghuni lama kupikir, harus dikurangi hingga ke titik nol, Charlie. Setiap orang memiliki standar penghormatan yang berbeda-beda, sadari itu. Bagaimana jika ternyata kemudian kita akan kedatangan anggota baru dari suku Maori? Aku bertaruh kau akan melemparnya ke jurang sebelum dia hafal nama kita. Peribahasa dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung dalam konteks organisasi dan anggota baru tidak akan pernah membuat anggota baru benar-benar merasa memiliki organisasi ini, Charlie. Cobalah kau tulis di buku kecilmu: Setiap anggota menghormati anggota lain sama seperti ia menghormati dirinya sendiri. Itu akan lebih baik kurasa. Kita sudah merasa lebih baik setelah kita mentertawakan gaya kaderisasi baris-berbaris ala anak organisasi di sekolahmu dulu bukan?"

"Bagus, Bravo", kata Delta. "Kau bicara seolah kita sudah sepakat sebelumnya"

"Belajar lebih banyak, nak muda. Jadikan setiap orang di tempat ini adalah dirimu sendiri", kata Bravo, mengejek Delta.