Menurut catatan sejarawan Roma Tacitus (56-120 M), agar dapat mendirikan
sebuah kota Roma yang baru, maka Nero dengan sengaja membakar kota
Roma. Setelah kebakaran besar terjadi, penduduk Roma umumnya percaya
bahwa biang keladi kebakaran itu adalah Nero, namun Nero
mengkambinghitamkan pengikut Nasrani sebagai penyebab kebakaran, dan
menggunakan cara yang sangat jahat untuk menghukum mereka.
Dalam sebuah arena perlombaan, sebagian pengikut Nasrani ditutupi
dengan kulit hewan lalu melepas serombongan anjing pemburu, untuk
menggigit dan mencabik-cabik mereka hingga mati. Bagi pengikut Nasrani
yang masih tersisa, Nero memerintahkan anak buahnya supaya mengikat
mereka bersama jerami kering untuk dijadikan obor, dan disusun di dalam
sebuah taman, dan dibakar pada tengah malam, menjadi hiburan bagi Nero
yang lalim. Pengikut Yesus yang bernama Peter dan Paul meninggal dalam
penindasan itu.
Dalam sejarah kekaisaran Roma, Nero diakui sebagai seorang yang paling kejam. Seperti apakah iblis yang bernama Nero itu?
Menuju Tangga Kekuasaan
Pada tahun 37 M, Nero lahir di sebuah kota pesisir yang ramai sekitar
Roma bernama Anchio. Ayahnya adalah seorang pejabat administrasi yang
mempunyai reputasi jelek dan berperilaku buruk, dia pernah membunuh
banyak rakyat yang tak berdosa dengan sewenang-wenang. Ibu Nero bernama
Aklibina, adik dari Kaisar Kaligula, cantik bagaikan bidadari tapi
jahatnya seperti ular berbisa, seorang yang penuh dengan tipu muslihat
dan licik, gemar akan kekuasaan dan serakah terhadap kedudukan. Suka
melakukan pembunuhan massal, dan menyiksa orang lain untuk meraih
kesenangan.
Dia menikah lagi dengan seorang bangsawan kaya, sehingga
berkesempatan menyediakan pendidikan kelas satu bagi Nero. Kemudian,
ketika istri ketiga dari kaisar imperialis Roma Klautikse meninggal
dunia, dengan mengandalkan hubungan famili berdalih bahwa kaisar yang
juga pamannya hendak menikahinya, dia pun memanfaatkan kecantikannya
untuk memikat kaisar tua itu. Akhirnya pada tahun 49 M, dia berhasil
menjadi seorang permaisuri. Tahun berikutnya, dia berusaha membuat
kaisar menerima Nero sebagai anak angkat, serta mengupayakan agar putri
kaisar menikah dengan Nero, dan menghapus kedudukan Bunitanix yang
tadinya putra mahkota, dan mengangkat Nero sebagai penggantinya. Ketika
kaisar tua merasa menyesal atas pengangkatan Nero sebagai pewaris
takhta, dia melancarkan intrik pembunuhan yang keji dengan seporsi
hidangan jamur beracun untuk meracuni kaisar tua itu, dan menggunakan
uang dalam jumlah besar untuk membeli pasukan pengawal istana, kemudian
memproklamirkan Nero yang baru berusia 17 tahun itu sebagai kaisar baru
Roma. Setelah Nero naik takhta, sudah tergenggam tampuk kekuasaan besar.
Disebabkan oleh pengaruh dan didikan sang ibu dalam jangka waktu
panjang, maka sejak kecil Nero sudah terdidik dengan sifat yang bengis,
serakah dan sewenang-wenang, serta haus kekuasaan.
Membunuh Ibu, Istri dan Adiknya
Begitu Nero yang masih belia itu naik takhta, dia sudah menganggap
Bunitanix sang adik sebagai musuh bebuyutan. Pada kesempatan sebuah
pesta kerajaan, dia berhasil meracuni Bunitanix yang masih berusia 14
tahun dengan arak beracun. Ketika pesta sedang berlangsung, pada saat
adiknya sekarat, Nero tetap dengan asyik menikmati hidangan, sambil
menjelaskan dengan tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. “Ini
hanyalah penyakit ayan yang sedang kumat saja,” katanya yang membuat
para tamu di pesta ini ketakutan.
Aklibina, sang ibu yang juga gila kekuasaan, sering
mengatasnamakan Nero untuk melakukan tindakan kekerasan dan acap kali
tampil dengan kedudukannya bagai seorang ratu. Ini membuat Nero sangat
marah. Disebabkan karena takut pada suatu hari kekuasaan di tangannya
akan direbut oleh sang ibu, maka dia berniat menghabisinya. Dia pun
merencanakan sebuah intrik jahat lalu menciptakan sebuah insiden kapal
tenggelam untuk membunuh ibunya, tapi ibunya berhasil berenang sampai
pantai, serta mengutus seorang untuk mengirim surat.
Ketika Nero menerima surat dan berbicara dengan pengantar surat itu,
dengan diam-diam dia menaruh sebilah belati di atas tanah dan melaporkan
pada pengawalnya bahwa ibunya mengirim seseorang untuk membunuhnya. Ini
dijadikan alasan untuk membunuh ibunya sesuai dengan fakta yang ada.
Aklibina pun menerima balasan yang setimpal untuk perbuatan jahatnya
selama ini.
Nero bahkan memukul hingga mati istrinya yang sedang hamil,
ketiga istrinya dibunuh satu per satu. Istri keduanya bernama Bobia
dibunuh karena mengeluh Nero pulang kemalaman. Istri ketiganya Statilia
yang didapatkan dengan membunuh suaminya, tak lama kemudian pun dibunuh
oleh Nero. Ia pun perintahkan gurunya untuk bunuh diri, sebab Nero
berpendapat bahwa sang gurunya itu mencoba mendominasi dirinya. Setelah
itu, Nero pun kehilangan kontrol diri dan berbuat sewenang-wenang serta
berfoya-foya, tenggelam dalam kemewahan, berpesta pora serta meboroskan
uang dengan seenaknya saja.
Negara Kuat yang Lemah
Ketika itu, daerah kekuasaan Nero sangatlah luas, membentang mulai
dari bagian utara daerah Britania selatan hingga ke selatan daerah
Marokko, daerah timur Atlantik hingga barat laut Kaspia, sedemikian kuat
penampilan luarnya. Namun Roma justru ada di pusat dari seluruh negara
imperialis itu, dan Nero pun memegang tampuk kekuasaan secara total,
segala kekuasaan negara berada di tangan sang kaisar seorang. Satuan
tentara Roma adalah basis dari kekuasaannya. Rakyat tak punya hak
bicara, lembaga tinggi negara sepertinya hanya nama saja. Kaisar ialah
penguasa tertinggi, hukum dan segala perangkatnya ada dalam
genggamannya. Nasib orang di seluruh negeri tergantung pada suka atau
tidaknya sang kaisar seorang, rakyat di seluruh negeri berfoya-foya dan
bercabulan, sama seperti negara China saat ini.
Pada saat Nero mewarisi takhta kerajaan, Roma waktu itu masih
tergolong sangat makmur, termasuk bagian dari tahun yang paling makmur
dan jaya di sejarah Roma. Di awal beberapa tahun sejak kekuasaan yang
diserobot oleh Nero pun masih berlangsung sedikit sisa kecemerlangan
dari matahari terbenam itu. Sama sekali persis dengan di awal beberapa
tahun ketika Jiang Zemin menyerobot kekuasaan tertinggi di negeri China.
Akan tetapi kecemerlangan segemerlap apa pun tetaplah sebuah
kecemerlangan yang tersisa, ditambah lagi dengan sifat bawaan Nero yang
jahat dan tidak terkendali, maka dengan cepat sekali mengembang, jadi
saat-saat yang baik pun layu dengan cepat seperti bunga. Dia mulai
menghambur-hamburkan uang seenaknya, berjudi gila-gilaan, ketika
bepergian dan piknik dia dikawal oleh 1.000 iring-iringan kereta mewah.
Ketika kas negara kosong, dia menyita harta kekayaan pribadi, membunuh
puluhan tuan tanah Spanyol dan Afrika Utara dan merampas harta-kekayaan
mereka. Dia pun menghapus pengurangan pajak serta subsidi terhadap fakir
miskin dan orang jompo yang diterapkan di masa lalu, menguasai paksa
harta kekayaan kuil dan mendepresiasi nilai mata uang. Nero bahkan
memaksa istri para anggota parlemen imperialis yang mengenakan perhiasan
emas dan perak itu agar masuk ke gelanggang gulat untuk saling
bunuh-membunuh, sedangkan dia sendiri justru menyaksikan adegan gumulan
berdarah dan gila-gilaan itu.
Nero merasa dirinya seorang yang serba bisa, baik melukis,
mengukir, bernyanyi, bermain musik, maupun bahasa Yunani dan bahasa
Latin serta berpuisi dan sebagainya, dikuasai semua. Dia sudah memulai
pertunjukan terbukanya di tahun 59 M. Sering mengundang rakyat kecil
untuk menyaksikan bermain musik dan nyanyi di teater terbuka pada taman
istana atau di jalanan. Pada hari raya, dia menyelenggarakan sebuah
pertunjukan sangat mewah di dalam istana, dia sendiri mengadakan
pertunjukan di atas panggung sebagai seorang penyair, penyanyi,
konduktor bahkan pegulat. Ketika dia mengadakan pertunjukan di teater,
pintu teater pun ditutup rapat olehnya tidak diizinkan penonton pulang
sebelum pertunjukan selesai. Bagi beberapa penonton yang tak tahan
terhadap suara nyanyian yang memekakkan telinga dan pertunjukannya yang
jelek itu, mereka satu per satu terpaksa kabur dengan meloncat tembok.
Merasa tidak mendapat pendengar yang setia di Roma, maka Nero mengadakan
dan memimpin rombongan teater untuk pertunjukan keliling di Yunani
selama setahun, orang-orang Yunani menikmatinya. Karena kegembiraan
sesaat, dia pun menganugerahkan hak otonomi kepada Yunani, karena orang
Yunani mengerti dan bisa menikmati keseniannya.
Karena berfoya-foya terhadap pemakaian uang dalam jumlah sangat
besar, negara imperialis Roma yang tampak kuat dan besar dari luar itu
dalam waktu cepat sudah mengeruk habis kas negara.
Sifat Keiblisannya Keluar
Pada malam tanggal 18 Juli 64 M, terjadi kebakaran besar di Roma.
Berlangsung selama 39 hari, 3 daerah musnah terbakar, 7 rusak berat,
sisanya 4 dari 14 daerah seluruhnya. Rakyat Roma mengalami bencana yang
tak pernah ada sebelumnya, mereka luntang-lantung tak bertempat tinggal.
Ada yang melihat, dalam menghadapi kondisi lautan api yang
menelan seluruh kota itu, Nero malah berpakaian opera, berdiri di menara
dan memetik instrumen Lira, melantunkan sebuah balada yang ada
hubungannya dengan musnahnya Troya, menikmati pemandangan kobaran api
yang takjub. Ada rumor di sana-sini mengatakan bahwa Nero-lah yang
melakukan pembakaran secara sengaja waktu itu, Nero-lah yang
memerintahkan pembakaran terhadap Roma supaya mendirikan sebuah kota
baru.
Sungguh, setelah kebakaran besar terjadi, ia tidak pergi menolong
rakyat korban bencana itu, malah sibuk melakukan pembangunan
besar-besaran dan bikin “rumah emas” untuk pribadi. Dekorasi dalam
istananya dihiasi dengan emas, intan permata dan mutiara serta bingkai
langit-langit yang ditatah gading, langit-langit yang bisa berputar itu
bisa menaburkan bunga dan menyemperotkan parfum ke arah bawah, istananya
itu terletak di tempat paling sentral kota Roma, beraneka bunga,
pemandangan gunung dan danau, kolam mandi di dalamnya dapat medatangkan
air laut sekaligus air dari mata air. Ketika bangunan mentereng dan
mewah ini rampung dibangun, Nero memuji dan mengagumi dengan gembira
ria: “Ini baru mirip tempat tinggal manusia.”
Untuk menghadapi kecaman dari kebakaran yang disengaja, maka Nero
memilih penganut Nasrani untuk mengemban tanggung jawab, pertama-tama
ia menuduh merekalah yang melakukan pembakaran secara sengaja, lalu
menuduh mereka “bermusuhan terhadap umat manusia”. Karena kebanyakan
penganut Nasrani waktu itu orang miskin semuanya, budak belian dan orang
asing, jadi untuk menindas mereka itu sangatlah mudah.
Tapi justru karena Nero dalam kedudukan yang sangat kuat dan lupa
daratan, tiba-tiba di Italia bagian tengah kota Napules muncul seorang
ahli kebatinan, dia beteriak dengan keras dari bawah tembok dan mencela
Nero adalah seorang raja lalim serta bengis dan juga mengatakan bahwa
arwah Bunitanix tidak akan membiarkan selamanya. Akhirnya, ahli
kebatinan ini dijebloskan ke dalam penjara, setiap orang mengira bahwa
pasti dia bakal mati karena siksaan berat, namun siapa pula bakal tahu
bahwa dia adalah seorang yang sakti, tak sampai setengah hari sudah
lolos dari penjara. Sejak saat itu, orang Roma menyebutnya seorang ahli
kebatinan pembalas dendam, Nero yang marah besar karena dipermalukan,
mengutus orang untuk menangkapnya ke semua tempat, namun ternyata gagal.
Setahun kemudian, ahli kebatinan ini meninggal dunia, bukan karena
dibunuh tapi karena sakit, kalimat terakhir yang diucapkan sebelum
meninggal: “Kekaisaran Nero pasti tidak lebih dari 15 tahun.” Kala itu
kekuasaan Nero sudah memasuki 11 tahun setengah.
Sepeninggalnya ahli kebatinan itu, Nero pun berubah menjadi orang
yang lebih curiga, kalau melakukan sesuatu pun lebih gila-gilaan lagi.
Dia membunuh orang terus-menerus, dia tega melakukan cara sekejam apa
pun apalagi terhadap kaum Nasrani itu. Akan tetapi menurut informasi
pengawal yang dekat dengan Nero mengatakan bahwa Nero sering mendengar
suara teriakan arwah Bunitanix, dia takut bercampur benci, jika
melakukan sesuatu lebih dipenuhi dengan emosi sesat.
Pembunuhan secara kejam oleh Nero akhirnya menimbulkan tantangan
rakyat Roma. Saat itu Nero terus-menerus timbul rasa curiga terhadap
orang di sekelilingnya, dia memastikan ada sebuah komplotan makar sedang
kontra dengannya. Dalam kondisi yang teramat takut serta mata gelap
itu, dia pun mengumumkan bahwa seluruh negeri dalam kondisi darurat
perang. Seluruh Roma diselimuti suasana ketakutan. Begitu dia menyebut
nama seseorang, maka orang tersebut akan dihukum mati. Banyak anggota
parlemen, birokrat senior, tokoh terkemuka serta petugas pasukan
pengawal pun dihukum mati. Ada beberapa orang dipenggal kepalanya,
beberapa lagi diperintahkan untuk bunuh diri, dan sejumlah lagi dibelah
urat nadinya. Bahkan guru dan Shonyka sang penasihat pun dipotong kedua
tangannya.
Pengkhianat Massal dan Dijauhi Sanak Saudara
Kemewahan Nero yang luar biasa, kekuasaan yang mengerikan, pembunuhan
secara gila-gilaan dan penindasan terhadap kaum Nasrani itu,
membangkitkan rasa kontra bagi lembaga tinggi negara. Tak seorang rakyat
yang tidak terasa benci terhadapnya. Dari kalangan rakyat kecil,
tentara, orang terkemuka dan terpandang hingga pejabat tinggi, serta
parlemen, tidak tahan terhadap pemerintahan tirani itu. Akhirnya pada 68
M, gubernur jenderal sementara dari Provinsi Kaolu dan Spanyol
mengimbau agar rakyat bangkit untuk memberontak. Sementara pasukan Roma
memberontak di daerah Kaolu, bahkan induk pasukan di Spanyol dan Afrika
Utara nan jauh itu pun menyusul memberontak, pasukan-pasukan yang ada di
masing-masing daerah menuju ke Roma, pejabat daerah pun satu per satu
mengumumkan pembelotannya terhadap Nero. Lembaga tinggi negara di Roma
menghapuskan takhta kerajaan Nero, memproklamirkan bahwa dia itu ilegal,
sekaligus merupakan musuh rakyat.
Pasukan tentara beserta rakyat mengepung istana hendak memberi
perhitungan dengan Nero. Sampai saat itu, Nero sudah ditentang oleh
rakyatnya dan ditinggalkan pengikutnya. Dia minta tolong pada pengawal
istana untuk membantunya dalam pelarian, tapi ditolak. Dia menulis
sepucuk surat agar rakyat mengampuninya, akan tetapi ia tidak berani
keluar dari istana untuk menyerahkannya. Dia tahu bahwa dosanya sudah
amat berat, akhirnya pada malam hari dia dengan mengenakan mantel tanpa
lengan melarikan diri dengan menunggangi kuda bersama empat orang jongos
ke tempat liar.
Nasib Orang yang Memalukan
Akhirnya Nero kabur di sebuah rumah mantan budak istananya. Dia duduk
di ruang bawah dan membiarkan budaknya menggali sebuah kubur di
belakang rumah untuknya. Budaknya menggali liang kubur buatnya, Nero
yang enggan berpisah itu terus berkata: “Dunia ini telah kehilangan
seorang seniman yang hebat!” Saat itu pesuruhnya datang memberi tahu:
Lembaga tinggi negara mengumumkan bahwa Nero itu adalah musuh rakyat,
serta mengeksekusi mati Nero dengan cara leluhur yakni hukuman mati
dengan cambuk.
Nero tahu bahwa ini berarti akan melucuti bajunya, lalu memakai
pasung kayu untuk menopang tengkuknya dan diayunkan cambuk oleh sang
algojo, hingga akhir napasnya. Tak terpikirkan bahwa Nero yang selalu
kejam sejak dulu malah ketakutan setengah mati oleh siksaan kejam itu,
dia merasa lebih baik bunuh diri untuk mengurangi penderitaan, lalu
memutuskan untuk melakukan itu.
Sebelum ajal tiba, Nero pun tak lupa untuk mempertunjukkan
kebolehannya, dia pegang belati tajam lalu mengayunkan ke sana kemari,
tetapi tidak berani menusuk tenggorokannya sendiri. Sebab dia tidak
punya keberanian, lalu dengan tak diduga-duga dia mohon pada seorang
budak untuk bunuh diri lebih duluan, memperagakan untuknya, tapi
ditolak. Kaisar yang lalim itu sebenarnya seorang pengecut bernyali
kecil.
Pada saat menjelang fajar, tiba-tiba dari kejauhan sana terdengar
suara teriakan manusia dan pekikan kuda, karena tempat persembunyiannya
telah diketahui. Nero yang sudah putus asa itu meletakkan sebilah belati
ke tangan seorang jongos, lalu menggenggam tangan sang budak untuk
menusukkannya ke leher dia sendiri. Dia berteriak dengan kencang sekali
dan tersungkur ke dalam genangan darah, tamat sudah riwayatnya. Nero
meninggal pada usia 31 tahun, dia bertakhta 14 tahun.
Total Tayangan Halaman
Selasa, 23 Desember 2014
Tuhan Sembilan Senti (karya Taufiq Ismail)
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak
merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak
merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Penderitaan dan Kebahagiaan
Mengapa manusia berkehendak berbuat sesuatu ataupun berkehendak menjauhi sesuatu?
Faktor yang tidak dapat diabaikan ialah adanya naluri dalam diri manusia untuk menjauhi diri dari penderitaan dan berusaha meraih kebahagiaan. Takut dari penderitaan itulah yang memacu seseorang meninggalkan sesuatu dan mengerjakan sesuatu yang menjadi kebalikannya. Jika perasaan takut kepada penderitaan itu memacu dari belakang, maka kecenderungan menikmati kebahagiaan itulah yang merangsangnya dari depan.
Pendorong dan perangsang kelakuan manusia sehingga dapat melakukan perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan jahat sesuai dengan nalurinya itu, dinyatakan dalam Al-Qur'an berupa:
Faktor yang tidak dapat diabaikan ialah adanya naluri dalam diri manusia untuk menjauhi diri dari penderitaan dan berusaha meraih kebahagiaan. Takut dari penderitaan itulah yang memacu seseorang meninggalkan sesuatu dan mengerjakan sesuatu yang menjadi kebalikannya. Jika perasaan takut kepada penderitaan itu memacu dari belakang, maka kecenderungan menikmati kebahagiaan itulah yang merangsangnya dari depan.
Pendorong dan perangsang kelakuan manusia sehingga dapat melakukan perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan jahat sesuai dengan nalurinya itu, dinyatakan dalam Al-Qur'an berupa:
- Tandzir, yakni peringatan berupa neraka/siksaan akan ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat jahat.
- Tabsyir, yakni berita gembira bahwa surga/kebahagiaan yang kekal dan abadi dijanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.
Jumat, 01 Agustus 2014
Satu Ajaran Tentang Mengajar
Status: Thinking - Sensing
"Pendidikan tidak menciptakan kemampuan, melainkan hanya mengembangkan kemampuan"
"Pendidikan tidak menciptakan kemampuan, melainkan hanya mengembangkan kemampuan"
-Voltaire-
Terima kasih untuk Bapak Priadi Tri Handoko, guru Bimbingan Konseling
SMA Negeri 8 Jakarta yang telah memberi pencerahan kepada saya apa itu guru,
maknanya, serta segalanya. Maaf jikalau saya menambahkan, mengurangi, dan
mengubah kalimat bapak.
Bukit Duri, Jakarta Selatan, 15
Juli 2014, pukul 10.30 WIB.
Dengan bermodalkan secarik kertas
dan sebatang pena, saya mencari masukan yang bertujuan:
1. menjawab
hasil evaluasi mengajar selama satu semester yang lalu,
2. menjadi
guru yang lebih baik,
3. berkomunikasi
lebih baik.
Ya, pengajaran bukanlah sekadar
tergantung pada banyak atau tidaknya ilmu seseorang, tetapi juga tekniknya,
yakni bagaimana strategi dalam berkomunikasi dengan baik.
Narasumber yang saya datangi ini
merupakan guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah saya, SMA Negeri 8 Jakarta,
yakni Pak Priadi Tri Handoko.
Awalnya, saya bertanya,
“Bagaimana sebenarnya menjadi guru yang baik itu? Kami kemarin mendapat kritik
bahwa kami mengajar terlalu cepat, bahasa tingkat
dewa, serta sikap kurang baik lain dari kami selama mengajar satu semester
belakangan. Adakah saran dan solusinya?”
Beliau menjelaskan, bahwa guru
yang baik itu ada tiga kriteria:
1. Membumi.
Janganlah menggunakan
bahasa alien yang tidak dimengerti oleh murid. Gunakan bahasa paling dasar,
sangat dasar, sehingga orang normal yang awam pun memahaminya. Cobalah untuk
menyetarakan derajat anda dengan murid. Manusia dilengkapi kewaspadaan ketika
menghadapi orang yang baru dalam hidupnya (termasuk guru), masukilah jarak
personal murid dengan sedikit gurauan dan intermezzo
sebelum belajar, jangan to the point,
langsung belajar secara serius. Contohnya, anda bisa mengikuti gaya bahasa anak
alay zaman sekarang, walaupun itu agaknya menggelikan, tapi itu cukup membuat
mereka percaya bahwa anda adalah bagian dari mereka dan akan menjadi bagian
penting dari kehidupan si murid. Dekatkanlah. Tidak ada teknik khusus untuk
bisa memahami tingkat bahasa suatu kelompok anak berdasarkan jenjang
pendidikan, pengalaman saja.
Selain itu,
buatlah pula agar murid-murid anda tertarik dengan ilmu yang anda ajarkan,
sadar bahwa ilmu yang anda ajarkan bukanlah sebuah teori hafalan semata, tapi ada manfaatnya. Misalkan, ketika anda
sedang mengajarkan konsep tekanan hidrostatik, berilah pertanyaan, misal: “Saya
punya dua pohon kelapa, A dan B, pohon A lebih tinggi dari pohon B, pohon
manakah yang memiliki air kelapa lebih banyak?”, tentu, ini bukan pelajaran
biologi atau terka-terkaan jenaka yang sudah umum: ini fisika. Beri mereka
waktu untuk berpikir. Dengan berpikir, mereka akan memikirkan apa yang mereka
ingat, tentang pelajaran yang mereka pelajari, saat itulah, konsep pemahaman
mereka akan tumbuh, dengan cara yang sederhana ini. Berilah contoh yang mudah
dibayangkan, tak perlu memikirkan jauh-jauh.
2. Pemahaman
Materi yang cukup.
Tidak semua guru
di Indonesia sebenarnya memahami apa yang diajarkannya. Banyak, sebenarnya,
guru yang berharap “semoga ada murid saya yang lebih mengerti dari saya”. Maka
dari itu, banyak guru yang belum memberi pemahaman dasar tapi sudah memberikan
PR yang banyak dengan tujuan, katanya, “agar murid aktif membaca”, itu tidak
sepenuhnya benar.
Guru-guru yang
kurang berkualitas, seringkali, disebabkan oleh dosen-dosen yang kurang
berkualitas pula di universitas keguruan tempat mereka menimba ilmu. Calon guru
yang mendapat pengajaran kuliah yang kurang berkualitas akan menjadi guru yang
kurang kualitasnya pula, ogah-ogahan
mengajar, terlambat ke sekolah, sering mangkir dari pekerjaan, dll.
Sebenarnya,
menjadi sarjana pendidikan itu bukan syarat mutlak untuk menjadi seorang guru
(walaupun sarjana pendidikan dibekali teknik tertentu untuk berkomunikasi dalam
mengajar). Contohnya, di sekolah saya, ada beberapa guru yang bukan sarjana
pendidikan, yaitu guru matematika saya yang mengenyam ilmu statistika di IPB,
dan guru fisika saya (yang saya dengar beliau menjadi guru matematika sekarang)
yang merupakan lulusan Fisika ITB. Mereka, awalnya, diprotes oleh banyak murid
karena “ngejelasinnya ngejelimet; terlalu
cepet; gak ngerti; bahasanya aneh; Cuma anak OSN yang bisa ngerti omongannya”.
Ya memang, mereka tidak mendapat pelatihan khusus sebelum bertugas mengajar
sebagai guru honorer, tapi, mereka belajar dari sana, bagaimana guru itu
sebenarnya, perjuangan seorang guru itu bukan rutinitas yang bersifat monoton.
3. Memahami
metode mengajar, khususnya berdasarkan tingkat penangkapan informasi muridnya.
Jika anda
mendapati murid anda kurang dalam menangkap informasi, jangan menggunakan
metode soal à
teori, untuk “brainstorming” si
murid. Kembali ke tujuan. Tujuan pengajaran formal (guru) dan informal (bimbel)
cukuplah berbeda. Tujuan pengajaran formal ialah menanamkan cara berpikir,
sedangkan tujuan pengajaran informal ialah memenuhi target pelanggan (lulus UN,
lulus SBMPTN, nilai rapor bagus, lulus SNMPTN, dll), yang kadang
“menghancurkan” logika dan pemahaman murid dengan berbagai cara cepat, cara
kedip-kedip, cara kilat, atau apapun namanya.
Jikalau ada salah
satu murid yang kurang tanggap, sedang yang lain lebih baik, sebaiknya
dipisahkan. Murid yang kurang namun digeneralisasi oleh gurunya, seringkali
terjadi dua hal: ketergantungan dengan temannya (malas) atau minder (kurang
percaya diri). Murid yang kurang percaya diri akan merasa tersisihkan dari
teman-temannya dan berpikir “ah, gue bukan bagian dari mereka, gue gak nyambung
sendiri”. Contoh nyatanya, coba lihat anak-anak yang setiap hari nongkrong di
warung untuk merokok dan hanya tidur ketika di kelas. Ini juga tidak lepas dari
kesalahan guru yang menggeneralisasi murid-murid di kelasnya.
Susah? Memang. Siapa bilang jadi
guru hanya ongkang-ongkang kaki di kelas menyuruh murid mengerjakan ini-itu
sambil bertutur kata hingga mulut berbusa di depan kelas? Setidaknya ada dua
tantangan untuk menjadi guru:
1. Memahami
kemampuan dan tingkat pemahaman setiap murid. Sudah dijelaskan di atas.
2. Waktu,
dimana dalam paling dua jam, guru ditantang untuk “kejar setoran”, tanpa
mengabaikan nilai mangkus dan sangkil dalam proses kegiatan belajar mengajar
tersebut.
Selain mengajar, tugas guru
terpenting adalah mendidik, dalam artian penanaman nilai-nilai karakter
positif, yang wajib tercermin oleh perilaku guru itu sendiri –keteladanan,
mungkin itu kata yang tepat untuk hal ini-. Misalnya, guru olahraga saya,
beliau bercerita setelah saya mendapat masukan dari pak Priadi, akan merasa
malu sekali untuk masuk ke kelas jikalau ia sedang flu, karena guru olahraga,
baginya, haruslah tetap sehat di mata murid-muridnya, “Bagaimana mungkin saya mendidik anak murid saya agar tetap sehat jika
saya sendiri kurang sehat?”, katanya. Nilai lain yang harus selalu ada pada
guru (idealnya) adalah cinta pada ilmu pengetahuan, semangat, dan disiplin
dengan waktu serta aturan dasar pada sekolah.
Sekali lagi,
Bukit Duri, Jakarta Selatan, 15
Juli 2014, pukul 10.30,
Muhammad Iqbal Tawakkal
Sabtu, 25 Januari 2014
The Lone-"Greget" Journey bag I: Mengawali dengan Mengawal Diri.
Sabtu sore, 04 Januari 2014, saya menginjakkan kaki di Terminal Pulo Gadung, Jakarta Timur. Bermodal satu tas 45 liter dan satu tiket bus malam, saya menunggu bus. Menunggu hingga maghrib menjelang, kepercayaan dirilah yang harus ditegakkan. Saya berpikir buruk sekali, punya firasat buruk akan "kecacatan" yang timbul pada rencana perjalanan saya, takut juga: Perjalanan soliter dari Jakarta, menuju Semarang, dilanjutkan ke Yogyakarta selama tujuh malam ke depan, tanpa keluarga.
Setelah sekian lama yang membosankan sehingga saya lupa persisnya berapa lama saya menunggu, seorang petugas memanggil saya dan memintanya untuk mengikutinya menuju pool bus, sekitar satu kilometer kurang dari terminal. Ketika saya tiba di pool, saya kaget dan bingung, saya ternyata mendapatkan bus AC Ekonomi, bukan eksekutif seperti yang saya pesan. Oke lah, mungkin saya bodoh, saya akui itu, namun saya maklumi pula kebodohan ini, karena saya miskin pengalaman akan perjalanan dengan menggunakan bus AKAP lintas-dua-provinsi.
Dari sifat saya pribadi, saya cenderung akan lebih marah kepada diri sendiri daripada menyalahkan "orang yang berperan sebagai kriminal di dunia ini". Saya terdiam di bus. Cemberut. Tidak ada keinginan untuk melakukan apapun. Sejenak berpikir, "Saya tidak bisa memutar arah apalagi memutar waktu. Mundur itu kerugian yang lebih besar. Saya percaya bahwa di ujung perjalanan ini, sesuatu yang menyenangkan, jauh lebih dari apa yang saya harapkan dapat mengobati kekecewaan saya malam ini. Saya sendiri, berdiri di atas kaki sendiri, dipimpin oleh pikiran sendiri, menanggung resiko sendiri. Maju adalah pilihan satu-satunya, walaupun terasa 'pincang'. Kebahagiaan memang terasa murah kalau hanya menjalankan apa yang kita rencanakan". Saya tersenyum sendiri, merasa optimis.
Bus memasuki Gerbang Tol Pulo Gadung pukul 21.00. Saya tidak bisa tidur dan memang tidak biasa tertidur dalam kendaraan yang melaju. Bus kemudian keluar dari tol pada Gerbang Tol Karawang Timur, bukan Gerbang Tol Cikampek. Adalah cukup membosankan ketika melalui ruas jalan Cikampek - Pamanukan (56 km) dan Pamanukan - Lohbener (46 km): Sepi dan monoton. Rasanya seperti jalan tak berujung, seperti ruas jalan Banjar - Wangon di jalur selatan. Sepanjang jalan yang sepi dan panjang itu terdapat banyak sekali warung remang-remang dan sejenisnya di pinggiran. Tempat-tempat itu, di pantura, tidak di tempat yang tersembunyi lagi, terang-terangan malah.
Setelah sekian jam, sampai di Palimanan. Saya heran, busnya tidak masuk ke tol Palimanan, melainkan ke arah Plumbon. Bus memasuki tol dari Plumbon, Cirebon. Keluar pun bukan dari Pejagan, melainkan Tanjung. "Namanya juga bus Ekonomi", dengus saya, berpikir. GPS saya tetap standby untuk mengamati letak dan posisi.
Setelah sekian jam, sampai di Palimanan. Saya heran, busnya tidak masuk ke tol Palimanan, melainkan ke arah Plumbon. Bus memasuki tol dari Plumbon, Cirebon. Keluar pun bukan dari Pejagan, melainkan Tanjung. "Namanya juga bus Ekonomi", dengus saya, berpikir. GPS saya tetap standby untuk mengamati letak dan posisi.
Saya menikmati terbitnya sang fajar di kota Pekalongan, Jawa Tengah. Sudah sembilan jam ternyata. Pegal dalam diam, capek dalam diam. Dua jam kemudian, pukul 07.30, saya tiba di Terminal Mangkang, sendirian, sepi, bersih. Seperti entah bandara atau stasiun. Bingung harus kemana. Saya akhirnya istirahat dulu, duduk, menikmati kue-kue bekal yang saya bawa dari Jakarta.
Pukul 09.00 saya meninggalkan Terminal Mangkang dengan Bus Trans Semarang. Saya menuju Pangakalan travel Cipaganti untuk memesan tiket travel Semarang - Yogyakarta yang jam 16.00 dan menitipkan tas bawaan saya di sana (ya susah kan kalau jalan-jalan tapi bawa tas besar). Memulai perjalanan di Semarang pun, saya bingung, karena keterbatasan wawasan akan Semarang, keterbatasan waktu dan keterbatasan biaya. Saya akhirnya "cari aman" dengan hanya berkeliling di sekitaran Tugu Pemuda, Lawang Sewu, dan Pandanaran.
Lawang Sewu, sebuah objek wisata kota Semarang yang merupakan bekas kantor perusahaan kereta api pada zaman kompeni dulu. Untuk seukuran saya dan seukuran sebuah museum, saya pikir cukup mahal tarifnya: Rp10k per orang dan Rp30k untuk tour guide. Belum lagi jika ingin ke lantai bawah tanah dan menyewa sepatu boot. Oke lah, merogoh kocek Rp10k saja sudah cukup membuat saya menikmati sejarah Lawang Sewu dan sejarah kereta api di Indonesia. Cukup menarik tempat ini, memang, mulai dari pintu yang banyak, pameran kereta api, hingga suasana angker menyelimuti bangunan tua ini. Sebuah lokomotif uap menghiasi halaman Lawang Sewu ini dan tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin berfoto.
Pukul 14.00, saya keluar dari Lawang Sewu, selanjutnya ke Pandanaran. Sepanjang jalan ini dipenuhi oleh toko-toko dan pedagang yang menjual penganan khas Semarang seperti lumpia, wingko babat, bandeng, dll. Awalnya, saya ingin membeli lumpia mentah untuk keluarga di Jakarta, namun ternyata batas kadaluarsanya hanya seminggu. Akhirnya saya beli lima buah lumpia untuk Bayu Siwi Farma Putra, seorang kawan saya yang menunggu di Yogyakarta dan keluarga. Ternyata harga lumpia naik jika dibanding harga saya membelinya lima tahun lalu. Dulu saya membelinya dengan harga Rp4500 per buah, sekarang mencapai Rp8000 per buah.
Hari mulai sore, saatnya pergi ke pangkalan travel Cipaganti. Berat rasanya. Baru delapan jam saya di Semarang, sudah berpindah lagi. Pukul 16.15, saya meninggalkan kota Semarang, menuju kota Yogyakarta yang berjarak 134 km ke selatan jauhnya.
-Bersambung-
Langganan:
Postingan (Atom)