Total Tayangan Halaman

Selasa, 23 Desember 2014

Kaisar Nero

Menurut catatan sejarawan Roma Tacitus (56-120 M), agar dapat mendirikan sebuah kota Roma yang baru, maka Nero dengan sengaja membakar kota Roma. Setelah kebakaran besar terjadi, penduduk Roma umumnya percaya bahwa biang keladi kebakaran itu adalah Nero, namun Nero mengkambinghitamkan pengikut Nasrani sebagai penyebab kebakaran, dan menggunakan cara yang sangat jahat untuk menghukum mereka.
Dalam sebuah arena perlombaan, sebagian pengikut Nasrani ditutupi dengan kulit hewan lalu melepas serombongan anjing pemburu, untuk menggigit dan mencabik-cabik mereka hingga mati. Bagi pengikut Nasrani yang masih tersisa, Nero memerintahkan anak buahnya supaya mengikat mereka bersama jerami kering untuk dijadikan obor, dan disusun di dalam sebuah taman, dan dibakar pada tengah malam, menjadi hiburan bagi Nero yang lalim. Pengikut Yesus yang bernama Peter dan Paul meninggal dalam penindasan itu.
Dalam sejarah kekaisaran Roma, Nero diakui sebagai seorang yang paling kejam. Seperti apakah iblis yang bernama Nero itu?
Menuju Tangga Kekuasaan Pada tahun 37 M, Nero lahir di sebuah kota pesisir yang ramai sekitar Roma bernama Anchio. Ayahnya adalah seorang pejabat administrasi yang mempunyai reputasi jelek dan berperilaku buruk, dia pernah membunuh banyak rakyat yang tak berdosa dengan sewenang-wenang. Ibu Nero bernama Aklibina, adik dari Kaisar Kaligula, cantik bagaikan bidadari tapi jahatnya seperti ular berbisa, seorang yang penuh dengan tipu muslihat dan licik, gemar akan kekuasaan dan serakah terhadap kedudukan. Suka melakukan pembunuhan massal, dan menyiksa orang lain untuk meraih kesenangan.
Dia menikah lagi dengan seorang bangsawan kaya, sehingga berkesempatan menyediakan pendidikan kelas satu bagi Nero. Kemudian, ketika istri ketiga dari kaisar imperialis Roma Klautikse meninggal dunia, dengan mengandalkan hubungan famili berdalih bahwa kaisar yang juga pamannya hendak menikahinya, dia pun memanfaatkan kecantikannya untuk memikat kaisar tua itu. Akhirnya pada tahun 49 M, dia berhasil menjadi seorang permaisuri. Tahun berikutnya, dia berusaha membuat kaisar menerima Nero sebagai anak angkat, serta mengupayakan agar putri kaisar menikah dengan Nero, dan menghapus kedudukan Bunitanix yang tadinya putra mahkota, dan mengangkat Nero sebagai penggantinya. Ketika kaisar tua merasa menyesal atas pengangkatan Nero sebagai pewaris takhta, dia melancarkan intrik pembunuhan yang keji dengan seporsi hidangan jamur beracun untuk meracuni kaisar tua itu, dan menggunakan uang dalam jumlah besar untuk membeli pasukan pengawal istana, kemudian memproklamirkan Nero yang baru berusia 17 tahun itu sebagai kaisar baru Roma. Setelah Nero naik takhta, sudah tergenggam tampuk kekuasaan besar.
Disebabkan oleh pengaruh dan didikan sang ibu dalam jangka waktu panjang, maka sejak kecil Nero sudah terdidik dengan sifat yang bengis, serakah dan sewenang-wenang, serta haus kekuasaan.
Membunuh Ibu, Istri dan Adiknya Begitu Nero yang masih belia itu naik takhta, dia sudah menganggap Bunitanix sang adik sebagai musuh bebuyutan. Pada kesempatan sebuah pesta kerajaan, dia berhasil meracuni Bunitanix yang masih berusia 14 tahun dengan arak beracun. Ketika pesta sedang berlangsung, pada saat adiknya sekarat, Nero tetap dengan asyik menikmati hidangan, sambil menjelaskan dengan tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. “Ini hanyalah penyakit ayan yang sedang kumat saja,” katanya yang membuat para tamu di pesta ini ketakutan.

Aklibina, sang ibu yang juga gila kekuasaan, sering mengatasnamakan Nero untuk melakukan tindakan kekerasan dan acap kali tampil dengan kedudukannya bagai seorang ratu. Ini membuat Nero sangat marah. Disebabkan karena takut pada suatu hari kekuasaan di tangannya akan direbut oleh sang ibu, maka dia berniat menghabisinya. Dia pun merencanakan sebuah intrik jahat lalu menciptakan sebuah insiden kapal tenggelam untuk membunuh ibunya, tapi ibunya berhasil berenang sampai pantai, serta mengutus seorang untuk mengirim surat.
Ketika Nero menerima surat dan berbicara dengan pengantar surat itu, dengan diam-diam dia menaruh sebilah belati di atas tanah dan melaporkan pada pengawalnya bahwa ibunya mengirim seseorang untuk membunuhnya. Ini dijadikan alasan untuk membunuh ibunya sesuai dengan fakta yang ada. Aklibina pun menerima balasan yang setimpal untuk perbuatan jahatnya selama ini.

Nero bahkan memukul hingga mati istrinya yang sedang hamil, ketiga istrinya dibunuh satu per satu. Istri keduanya bernama Bobia dibunuh karena mengeluh Nero pulang kemalaman. Istri ketiganya Statilia yang didapatkan dengan membunuh suaminya, tak lama kemudian pun dibunuh oleh Nero. Ia pun perintahkan gurunya untuk bunuh diri, sebab Nero berpendapat bahwa sang gurunya itu mencoba mendominasi dirinya. Setelah itu, Nero pun kehilangan kontrol diri dan berbuat sewenang-wenang serta berfoya-foya, tenggelam dalam kemewahan, berpesta pora serta meboroskan uang dengan seenaknya saja.
Negara Kuat yang Lemah Ketika itu, daerah kekuasaan Nero sangatlah luas, membentang mulai dari bagian utara daerah Britania selatan hingga ke selatan daerah Marokko, daerah timur Atlantik hingga barat laut Kaspia, sedemikian kuat penampilan luarnya. Namun Roma justru ada di pusat dari seluruh negara imperialis itu, dan Nero pun memegang tampuk kekuasaan secara total, segala kekuasaan negara berada di tangan sang kaisar seorang. Satuan tentara Roma adalah basis dari kekuasaannya. Rakyat tak punya hak bicara, lembaga tinggi negara sepertinya hanya nama saja. Kaisar ialah penguasa tertinggi, hukum dan segala perangkatnya ada dalam genggamannya. Nasib orang di seluruh negeri tergantung pada suka atau tidaknya sang kaisar seorang, rakyat di seluruh negeri berfoya-foya dan bercabulan, sama seperti negara China saat ini.

Pada saat Nero mewarisi takhta kerajaan, Roma waktu itu masih tergolong sangat makmur, termasuk bagian dari tahun yang paling makmur dan jaya di sejarah Roma. Di awal beberapa tahun sejak kekuasaan yang diserobot oleh Nero pun masih berlangsung sedikit sisa kecemerlangan dari matahari terbenam itu. Sama sekali persis dengan di awal beberapa tahun ketika Jiang Zemin menyerobot kekuasaan tertinggi di negeri China.

Akan tetapi kecemerlangan segemerlap apa pun tetaplah sebuah kecemerlangan yang tersisa, ditambah lagi dengan sifat bawaan Nero yang jahat dan tidak terkendali, maka dengan cepat sekali mengembang, jadi saat-saat yang baik pun layu dengan cepat seperti bunga. Dia mulai menghambur-hamburkan uang seenaknya, berjudi gila-gilaan, ketika bepergian dan piknik dia dikawal oleh 1.000 iring-iringan kereta mewah. Ketika kas negara kosong, dia menyita harta kekayaan pribadi, membunuh puluhan tuan tanah Spanyol dan Afrika Utara dan merampas harta-kekayaan mereka. Dia pun menghapus pengurangan pajak serta subsidi terhadap fakir miskin dan orang jompo yang diterapkan di masa lalu, menguasai paksa harta kekayaan kuil dan mendepresiasi nilai mata uang. Nero bahkan memaksa istri para anggota parlemen imperialis yang mengenakan perhiasan emas dan perak itu agar masuk ke gelanggang gulat untuk saling bunuh-membunuh, sedangkan dia sendiri justru menyaksikan adegan gumulan berdarah dan gila-gilaan itu.

Nero merasa dirinya seorang yang serba bisa, baik melukis, mengukir, bernyanyi, bermain musik, maupun bahasa Yunani dan bahasa Latin serta berpuisi dan sebagainya, dikuasai semua. Dia sudah memulai pertunjukan terbukanya di tahun 59 M. Sering mengundang rakyat kecil untuk menyaksikan bermain musik dan nyanyi di teater terbuka pada taman istana atau di jalanan. Pada hari raya, dia menyelenggarakan sebuah pertunjukan sangat mewah di dalam istana, dia sendiri mengadakan pertunjukan di atas panggung sebagai seorang penyair, penyanyi, konduktor bahkan pegulat. Ketika dia mengadakan pertunjukan di teater, pintu teater pun ditutup rapat olehnya tidak diizinkan penonton pulang sebelum pertunjukan selesai. Bagi beberapa penonton yang tak tahan terhadap suara nyanyian yang memekakkan telinga dan pertunjukannya yang jelek itu, mereka satu per satu terpaksa kabur dengan meloncat tembok. Merasa tidak mendapat pendengar yang setia di Roma, maka Nero mengadakan dan memimpin rombongan teater untuk pertunjukan keliling di Yunani selama setahun, orang-orang Yunani menikmatinya. Karena kegembiraan sesaat, dia pun menganugerahkan hak otonomi kepada Yunani, karena orang Yunani mengerti dan bisa menikmati keseniannya.

Karena berfoya-foya terhadap pemakaian uang dalam jumlah sangat besar, negara imperialis Roma yang tampak kuat dan besar dari luar itu dalam waktu cepat sudah mengeruk habis kas negara.
Sifat Keiblisannya Keluar Pada malam tanggal 18 Juli 64 M, terjadi kebakaran besar di Roma. Berlangsung selama 39 hari, 3 daerah musnah terbakar, 7 rusak berat, sisanya 4 dari 14 daerah seluruhnya. Rakyat Roma mengalami bencana yang tak pernah ada sebelumnya, mereka luntang-lantung tak bertempat tinggal.

Ada yang melihat, dalam menghadapi kondisi lautan api yang menelan seluruh kota itu, Nero malah berpakaian opera, berdiri di menara dan memetik instrumen Lira, melantunkan sebuah balada yang ada hubungannya dengan musnahnya Troya, menikmati pemandangan kobaran api yang takjub. Ada rumor di sana-sini mengatakan bahwa Nero-lah yang melakukan pembakaran secara sengaja waktu itu, Nero-lah yang memerintahkan pembakaran terhadap Roma supaya mendirikan sebuah kota baru.
Sungguh, setelah kebakaran besar terjadi, ia tidak pergi menolong rakyat korban bencana itu, malah sibuk melakukan pembangunan besar-besaran dan bikin “rumah emas” untuk pribadi. Dekorasi dalam istananya dihiasi dengan emas, intan permata dan mutiara serta bingkai langit-langit yang ditatah gading, langit-langit yang bisa berputar itu bisa menaburkan bunga dan menyemperotkan parfum ke arah bawah, istananya itu terletak di tempat paling sentral kota Roma, beraneka bunga, pemandangan gunung dan danau, kolam mandi di dalamnya dapat medatangkan air laut sekaligus air dari mata air. Ketika bangunan mentereng dan mewah ini rampung dibangun, Nero memuji dan mengagumi dengan gembira ria: “Ini baru mirip tempat tinggal manusia.”

Untuk menghadapi kecaman dari kebakaran yang disengaja, maka Nero memilih penganut Nasrani untuk mengemban tanggung jawab, pertama-tama ia menuduh merekalah yang melakukan pembakaran secara sengaja, lalu menuduh mereka “bermusuhan terhadap umat manusia”. Karena kebanyakan penganut Nasrani waktu itu orang miskin semuanya, budak belian dan orang asing, jadi untuk menindas mereka itu sangatlah mudah.

Tapi justru karena Nero dalam kedudukan yang sangat kuat dan lupa daratan, tiba-tiba di Italia bagian tengah kota Napules muncul seorang ahli kebatinan, dia beteriak dengan keras dari bawah tembok dan mencela Nero adalah seorang raja lalim serta bengis dan juga mengatakan bahwa arwah Bunitanix tidak akan membiarkan selamanya. Akhirnya, ahli kebatinan ini dijebloskan ke dalam penjara, setiap orang mengira bahwa pasti dia bakal mati karena siksaan berat, namun siapa pula bakal tahu bahwa dia adalah seorang yang sakti, tak sampai setengah hari sudah lolos dari penjara. Sejak saat itu, orang Roma menyebutnya seorang ahli kebatinan pembalas dendam, Nero yang marah besar karena dipermalukan, mengutus orang untuk menangkapnya ke semua tempat, namun ternyata gagal. Setahun kemudian, ahli kebatinan ini meninggal dunia, bukan karena dibunuh tapi karena sakit, kalimat terakhir yang diucapkan sebelum meninggal: “Kekaisaran Nero pasti tidak lebih dari 15 tahun.” Kala itu kekuasaan Nero sudah memasuki 11 tahun setengah.
Sepeninggalnya ahli kebatinan itu, Nero pun berubah menjadi orang yang lebih curiga, kalau melakukan sesuatu pun lebih gila-gilaan lagi. Dia membunuh orang terus-menerus, dia tega melakukan cara sekejam apa pun apalagi terhadap kaum Nasrani itu. Akan tetapi menurut informasi pengawal yang dekat dengan Nero mengatakan bahwa Nero sering mendengar suara teriakan arwah Bunitanix, dia takut bercampur benci, jika melakukan sesuatu lebih dipenuhi dengan emosi sesat.
Pembunuhan secara kejam oleh Nero akhirnya menimbulkan tantangan rakyat Roma. Saat itu Nero terus-menerus timbul rasa curiga terhadap orang di sekelilingnya, dia memastikan ada sebuah komplotan makar sedang kontra dengannya. Dalam kondisi yang teramat takut serta mata gelap itu, dia pun mengumumkan bahwa seluruh negeri dalam kondisi darurat perang. Seluruh Roma diselimuti suasana ketakutan. Begitu dia menyebut nama seseorang, maka orang tersebut akan dihukum mati. Banyak anggota parlemen, birokrat senior, tokoh terkemuka serta petugas pasukan pengawal pun dihukum mati. Ada beberapa orang dipenggal kepalanya, beberapa lagi diperintahkan untuk bunuh diri, dan sejumlah lagi dibelah urat nadinya. Bahkan guru dan Shonyka sang penasihat pun dipotong kedua tangannya.
Pengkhianat Massal dan Dijauhi Sanak Saudara Kemewahan Nero yang luar biasa, kekuasaan yang mengerikan, pembunuhan secara gila-gilaan dan penindasan terhadap kaum Nasrani itu, membangkitkan rasa kontra bagi lembaga tinggi negara. Tak seorang rakyat yang tidak terasa benci terhadapnya. Dari kalangan rakyat kecil, tentara, orang terkemuka dan terpandang hingga pejabat tinggi, serta parlemen, tidak tahan terhadap pemerintahan tirani itu. Akhirnya pada 68 M, gubernur jenderal sementara dari Provinsi Kaolu dan Spanyol mengimbau agar rakyat bangkit untuk memberontak. Sementara pasukan Roma memberontak di daerah Kaolu, bahkan induk pasukan di Spanyol dan Afrika Utara nan jauh itu pun menyusul memberontak, pasukan-pasukan yang ada di masing-masing daerah menuju ke Roma, pejabat daerah pun satu per satu mengumumkan pembelotannya terhadap Nero. Lembaga tinggi negara di Roma menghapuskan takhta kerajaan Nero, memproklamirkan bahwa dia itu ilegal, sekaligus merupakan musuh rakyat.
Pasukan tentara beserta rakyat mengepung istana hendak memberi perhitungan dengan Nero. Sampai saat itu, Nero sudah ditentang oleh rakyatnya dan ditinggalkan pengikutnya. Dia minta tolong pada pengawal istana untuk membantunya dalam pelarian, tapi ditolak. Dia menulis sepucuk surat agar rakyat mengampuninya, akan tetapi ia tidak berani keluar dari istana untuk menyerahkannya. Dia tahu bahwa dosanya sudah amat berat, akhirnya pada malam hari dia dengan mengenakan mantel tanpa lengan melarikan diri dengan menunggangi kuda bersama empat orang jongos ke tempat liar.
Nasib Orang yang Memalukan Akhirnya Nero kabur di sebuah rumah mantan budak istananya. Dia duduk di ruang bawah dan membiarkan budaknya menggali sebuah kubur di belakang rumah untuknya. Budaknya menggali liang kubur buatnya, Nero yang enggan berpisah itu terus berkata: “Dunia ini telah kehilangan seorang seniman yang hebat!” Saat itu pesuruhnya datang memberi tahu: Lembaga tinggi negara mengumumkan bahwa Nero itu adalah musuh rakyat, serta mengeksekusi mati Nero dengan cara leluhur yakni hukuman mati dengan cambuk.
Nero tahu bahwa ini berarti akan melucuti bajunya, lalu memakai pasung kayu untuk menopang tengkuknya dan diayunkan cambuk oleh sang algojo, hingga akhir napasnya. Tak terpikirkan bahwa Nero yang selalu kejam sejak dulu malah ketakutan setengah mati oleh siksaan kejam itu, dia merasa lebih baik bunuh diri untuk mengurangi penderitaan, lalu memutuskan untuk melakukan itu.
Sebelum ajal tiba, Nero pun tak lupa untuk mempertunjukkan kebolehannya, dia pegang belati tajam lalu mengayunkan ke sana kemari, tetapi tidak berani menusuk tenggorokannya sendiri. Sebab dia tidak punya keberanian, lalu dengan tak diduga-duga dia mohon pada seorang budak untuk bunuh diri lebih duluan, memperagakan untuknya, tapi ditolak. Kaisar yang lalim itu sebenarnya seorang pengecut bernyali kecil.
Pada saat menjelang fajar, tiba-tiba dari kejauhan sana terdengar suara teriakan manusia dan pekikan kuda, karena tempat persembunyiannya telah diketahui. Nero yang sudah putus asa itu meletakkan sebilah belati ke tangan seorang jongos, lalu menggenggam tangan sang budak untuk menusukkannya ke leher dia sendiri. Dia berteriak dengan kencang sekali dan tersungkur ke dalam genangan darah, tamat sudah riwayatnya. Nero meninggal pada usia 31 tahun, dia bertakhta 14 tahun.

Tuhan Sembilan Senti (karya Taufiq Ismail)

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak
merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Penderitaan dan Kebahagiaan

Mengapa manusia berkehendak berbuat sesuatu ataupun berkehendak menjauhi sesuatu?

Faktor yang tidak dapat diabaikan ialah adanya naluri dalam diri manusia untuk menjauhi diri dari penderitaan dan berusaha meraih kebahagiaan. Takut dari penderitaan itulah yang memacu seseorang meninggalkan sesuatu dan mengerjakan sesuatu yang menjadi kebalikannya. Jika perasaan takut kepada penderitaan itu memacu dari belakang, maka kecenderungan menikmati kebahagiaan itulah yang merangsangnya dari depan.

Pendorong dan perangsang kelakuan manusia sehingga dapat melakukan perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan jahat sesuai dengan nalurinya itu, dinyatakan dalam Al-Qur'an berupa:


  1. Tandzir, yakni peringatan berupa neraka/siksaan akan ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat jahat.
  2. Tabsyir, yakni berita gembira bahwa surga/kebahagiaan yang kekal dan abadi dijanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.
Takut kepada neraka dan keinginan kepada surga adalah faktor penting yang membuat seorang selalu memelihara diri (taqwa). Karena hal ini memang sesuai dengan naluri manusia, maka berkali-kali dalam Al-Qur'an, Allah memperingatkan kepedihan adzab neraka dan kenikmatan surga. Dan untuk terhindar daripada azab dan memperoleh kebahagiaan abadi, "kuncinya" terletak pada "mardhatillah" (keridhaan Allah swt.)

Jumat, 01 Agustus 2014

Satu Ajaran Tentang Mengajar

Status: Thinking - Sensing



"Pendidikan tidak menciptakan kemampuan, melainkan hanya mengembangkan kemampuan"
-Voltaire-

Terima kasih untuk Bapak Priadi Tri Handoko, guru Bimbingan Konseling SMA Negeri 8 Jakarta yang telah memberi pencerahan kepada saya apa itu guru, maknanya, serta segalanya. Maaf jikalau saya menambahkan, mengurangi, dan mengubah kalimat bapak.
Bukit Duri, Jakarta Selatan, 15 Juli 2014, pukul 10.30 WIB.
Dengan bermodalkan secarik kertas dan sebatang pena, saya mencari masukan yang bertujuan:
1.       menjawab hasil evaluasi mengajar selama satu semester yang lalu,
2.       menjadi guru yang lebih baik,
3.       berkomunikasi lebih baik.
Ya, pengajaran bukanlah sekadar tergantung pada banyak atau tidaknya ilmu seseorang, tetapi juga tekniknya, yakni bagaimana strategi dalam berkomunikasi dengan baik.
Narasumber yang saya datangi ini merupakan guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah saya, SMA Negeri 8 Jakarta, yakni Pak Priadi Tri Handoko.
Awalnya, saya bertanya, “Bagaimana sebenarnya menjadi guru yang baik itu? Kami kemarin mendapat kritik bahwa kami mengajar terlalu cepat, bahasa tingkat dewa, serta sikap kurang baik lain dari kami selama mengajar satu semester belakangan. Adakah saran dan solusinya?”
Beliau menjelaskan, bahwa guru yang baik itu ada tiga kriteria:
1.       Membumi.
Janganlah menggunakan bahasa alien yang tidak dimengerti oleh murid. Gunakan bahasa paling dasar, sangat dasar, sehingga orang normal yang awam pun memahaminya. Cobalah untuk menyetarakan derajat anda dengan murid. Manusia dilengkapi kewaspadaan ketika menghadapi orang yang baru dalam hidupnya (termasuk guru), masukilah jarak personal murid dengan sedikit gurauan dan intermezzo sebelum belajar, jangan to the point, langsung belajar secara serius. Contohnya, anda bisa mengikuti gaya bahasa anak alay zaman sekarang, walaupun itu agaknya menggelikan, tapi itu cukup membuat mereka percaya bahwa anda adalah bagian dari mereka dan akan menjadi bagian penting dari kehidupan si murid. Dekatkanlah. Tidak ada teknik khusus untuk bisa memahami tingkat bahasa suatu kelompok anak berdasarkan jenjang pendidikan, pengalaman saja.
Selain itu, buatlah pula agar murid-murid anda tertarik dengan ilmu yang anda ajarkan, sadar bahwa ilmu yang anda ajarkan bukanlah sebuah teori hafalan semata, tapi ada manfaatnya. Misalkan, ketika anda sedang mengajarkan konsep tekanan hidrostatik, berilah pertanyaan, misal: “Saya punya dua pohon kelapa, A dan B, pohon A lebih tinggi dari pohon B, pohon manakah yang memiliki air kelapa lebih banyak?”, tentu, ini bukan pelajaran biologi atau terka-terkaan jenaka yang sudah umum: ini fisika. Beri mereka waktu untuk berpikir. Dengan berpikir, mereka akan memikirkan apa yang mereka ingat, tentang pelajaran yang mereka pelajari, saat itulah, konsep pemahaman mereka akan tumbuh, dengan cara yang sederhana ini. Berilah contoh yang mudah dibayangkan, tak perlu memikirkan jauh-jauh.
2.       Pemahaman Materi yang cukup.
Tidak semua guru di Indonesia sebenarnya memahami apa yang diajarkannya. Banyak, sebenarnya, guru yang berharap “semoga ada murid saya yang lebih mengerti dari saya”. Maka dari itu, banyak guru yang belum memberi pemahaman dasar tapi sudah memberikan PR yang banyak dengan tujuan, katanya, “agar murid aktif membaca”, itu tidak sepenuhnya benar.
Guru-guru yang kurang berkualitas, seringkali, disebabkan oleh dosen-dosen yang kurang berkualitas pula di universitas keguruan tempat mereka menimba ilmu. Calon guru yang mendapat pengajaran kuliah yang kurang berkualitas akan menjadi guru yang kurang kualitasnya pula, ogah-ogahan mengajar, terlambat ke sekolah, sering mangkir dari pekerjaan, dll.
Sebenarnya, menjadi sarjana pendidikan itu bukan syarat mutlak untuk menjadi seorang guru (walaupun sarjana pendidikan dibekali teknik tertentu untuk berkomunikasi dalam mengajar). Contohnya, di sekolah saya, ada beberapa guru yang bukan sarjana pendidikan, yaitu guru matematika saya yang mengenyam ilmu statistika di IPB, dan guru fisika saya (yang saya dengar beliau menjadi guru matematika sekarang) yang merupakan lulusan Fisika ITB. Mereka, awalnya, diprotes oleh banyak murid karena “ngejelasinnya ngejelimet; terlalu cepet; gak ngerti; bahasanya aneh; Cuma anak OSN yang bisa ngerti omongannya”. Ya memang, mereka tidak mendapat pelatihan khusus sebelum bertugas mengajar sebagai guru honorer, tapi, mereka belajar dari sana, bagaimana guru itu sebenarnya, perjuangan seorang guru itu bukan rutinitas yang bersifat monoton.
3.       Memahami metode mengajar, khususnya berdasarkan tingkat penangkapan informasi muridnya.
Jika anda mendapati murid anda kurang dalam menangkap informasi, jangan menggunakan metode soal à teori, untuk “brainstorming” si murid. Kembali ke tujuan. Tujuan pengajaran formal (guru) dan informal (bimbel) cukuplah berbeda. Tujuan pengajaran formal ialah menanamkan cara berpikir, sedangkan tujuan pengajaran informal ialah memenuhi target pelanggan (lulus UN, lulus SBMPTN, nilai rapor bagus, lulus SNMPTN, dll), yang kadang “menghancurkan” logika dan pemahaman murid dengan berbagai cara cepat, cara kedip-kedip, cara kilat, atau apapun namanya.
Jikalau ada salah satu murid yang kurang tanggap, sedang yang lain lebih baik, sebaiknya dipisahkan. Murid yang kurang namun digeneralisasi oleh gurunya, seringkali terjadi dua hal: ketergantungan dengan temannya (malas) atau minder (kurang percaya diri). Murid yang kurang percaya diri akan merasa tersisihkan dari teman-temannya dan berpikir “ah, gue bukan bagian dari mereka, gue gak nyambung sendiri”. Contoh nyatanya, coba lihat anak-anak yang setiap hari nongkrong di warung untuk merokok dan hanya tidur ketika di kelas. Ini juga tidak lepas dari kesalahan guru yang menggeneralisasi murid-murid di kelasnya.
Susah? Memang. Siapa bilang jadi guru hanya ongkang-ongkang kaki di kelas menyuruh murid mengerjakan ini-itu sambil bertutur kata hingga mulut berbusa di depan kelas? Setidaknya ada dua tantangan untuk menjadi guru:
1.       Memahami kemampuan dan tingkat pemahaman setiap murid. Sudah dijelaskan di atas.
2.       Waktu, dimana dalam paling dua jam, guru ditantang untuk “kejar setoran”, tanpa mengabaikan nilai mangkus dan sangkil dalam proses kegiatan belajar mengajar tersebut.
Selain mengajar, tugas guru terpenting adalah mendidik, dalam artian penanaman nilai-nilai karakter positif, yang wajib tercermin oleh perilaku guru itu sendiri –keteladanan, mungkin itu kata yang tepat untuk hal ini-. Misalnya, guru olahraga saya, beliau bercerita setelah saya mendapat masukan dari pak Priadi, akan merasa malu sekali untuk masuk ke kelas jikalau ia sedang flu, karena guru olahraga, baginya, haruslah tetap sehat di mata murid-muridnya, “Bagaimana mungkin saya mendidik anak murid saya agar tetap sehat jika saya sendiri kurang sehat?”, katanya. Nilai lain yang harus selalu ada pada guru (idealnya) adalah cinta pada ilmu pengetahuan, semangat, dan disiplin dengan waktu serta aturan dasar pada sekolah.
Sekali lagi,
Bukit Duri, Jakarta Selatan, 15 Juli 2014, pukul 10.30,


Muhammad Iqbal Tawakkal

Sabtu, 25 Januari 2014

The Lone-"Greget" Journey bag I: Mengawali dengan Mengawal Diri.

Sabtu sore, 04 Januari 2014, saya menginjakkan kaki di Terminal Pulo Gadung, Jakarta Timur. Bermodal satu tas 45 liter dan satu tiket bus malam, saya menunggu bus. Menunggu hingga maghrib menjelang, kepercayaan dirilah yang harus ditegakkan. Saya berpikir buruk sekali, punya firasat buruk akan "kecacatan" yang timbul pada rencana perjalanan saya, takut juga: Perjalanan soliter dari Jakarta, menuju Semarang, dilanjutkan ke Yogyakarta selama tujuh malam ke depan, tanpa keluarga.
Setelah sekian lama yang membosankan sehingga saya lupa persisnya berapa lama saya menunggu, seorang petugas memanggil saya dan memintanya untuk mengikutinya menuju pool bus, sekitar satu kilometer kurang dari terminal. Ketika saya tiba di pool, saya kaget dan bingung, saya ternyata mendapatkan bus AC Ekonomi, bukan eksekutif seperti yang saya pesan. Oke lah, mungkin saya bodoh, saya akui itu, namun saya maklumi pula kebodohan ini, karena saya miskin pengalaman akan perjalanan dengan menggunakan bus AKAP lintas-dua-provinsi.
Dari sifat saya pribadi, saya cenderung akan lebih marah kepada diri sendiri daripada menyalahkan "orang yang berperan sebagai kriminal di dunia ini". Saya terdiam di bus. Cemberut. Tidak ada keinginan untuk melakukan apapun. Sejenak berpikir, "Saya tidak bisa memutar arah apalagi memutar waktu. Mundur itu kerugian yang lebih besar. Saya percaya bahwa di ujung perjalanan ini, sesuatu yang menyenangkan, jauh lebih dari apa yang saya harapkan dapat mengobati kekecewaan saya malam ini. Saya sendiri, berdiri di atas kaki sendiri, dipimpin oleh pikiran sendiri, menanggung resiko sendiri. Maju adalah pilihan satu-satunya, walaupun terasa 'pincang'. Kebahagiaan memang terasa murah kalau hanya menjalankan apa yang kita rencanakan". Saya tersenyum sendiri, merasa optimis.
Bus memasuki Gerbang Tol Pulo Gadung pukul 21.00. Saya tidak bisa tidur dan memang tidak biasa tertidur dalam kendaraan yang melaju. Bus kemudian keluar dari tol pada Gerbang Tol Karawang Timur, bukan Gerbang Tol Cikampek. Adalah cukup membosankan ketika melalui ruas jalan Cikampek - Pamanukan (56 km) dan Pamanukan - Lohbener (46 km): Sepi dan monoton. Rasanya seperti jalan tak berujung, seperti ruas jalan Banjar - Wangon di jalur selatan. Sepanjang jalan yang sepi dan panjang itu terdapat banyak sekali warung remang-remang dan sejenisnya di pinggiran. Tempat-tempat itu, di pantura, tidak di tempat yang tersembunyi lagi, terang-terangan malah.
Setelah sekian jam, sampai di Palimanan. Saya heran, busnya tidak masuk ke tol Palimanan, melainkan ke arah Plumbon. Bus memasuki tol dari Plumbon, Cirebon. Keluar pun bukan dari Pejagan, melainkan Tanjung. "Namanya juga bus Ekonomi", dengus saya, berpikir. GPS saya tetap standby untuk mengamati letak dan posisi.
Saya menikmati terbitnya sang fajar di kota Pekalongan, Jawa Tengah. Sudah sembilan jam ternyata. Pegal dalam diam, capek dalam diam. Dua jam kemudian, pukul 07.30, saya tiba di Terminal Mangkang, sendirian, sepi, bersih. Seperti entah bandara atau stasiun. Bingung harus kemana. Saya akhirnya istirahat dulu, duduk, menikmati kue-kue bekal yang saya bawa dari Jakarta.
Pukul 09.00 saya meninggalkan Terminal Mangkang dengan Bus Trans Semarang. Saya menuju Pangakalan travel Cipaganti untuk memesan tiket travel Semarang - Yogyakarta yang jam 16.00 dan menitipkan tas bawaan saya di sana (ya susah kan kalau jalan-jalan tapi bawa tas besar). Memulai perjalanan di Semarang pun, saya bingung, karena keterbatasan wawasan akan Semarang, keterbatasan waktu dan keterbatasan biaya. Saya akhirnya "cari aman" dengan hanya berkeliling di sekitaran Tugu Pemuda, Lawang Sewu, dan Pandanaran.
Lawang Sewu, sebuah objek wisata kota Semarang yang merupakan bekas kantor perusahaan kereta api pada zaman kompeni dulu. Untuk seukuran saya dan seukuran sebuah museum, saya pikir cukup mahal tarifnya: Rp10k per orang dan Rp30k untuk tour guide. Belum lagi jika ingin ke lantai bawah tanah dan menyewa sepatu boot. Oke lah, merogoh kocek Rp10k saja sudah cukup membuat saya menikmati sejarah Lawang Sewu dan sejarah kereta api di Indonesia. Cukup menarik tempat ini, memang, mulai dari pintu yang banyak, pameran kereta api, hingga suasana angker menyelimuti bangunan tua ini. Sebuah lokomotif uap menghiasi halaman Lawang Sewu ini dan tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin berfoto.
Pukul 14.00, saya keluar dari Lawang Sewu, selanjutnya ke Pandanaran. Sepanjang jalan ini dipenuhi oleh toko-toko dan pedagang yang menjual penganan khas Semarang seperti lumpia, wingko babat, bandeng, dll. Awalnya, saya ingin membeli lumpia mentah untuk keluarga di Jakarta, namun ternyata batas kadaluarsanya hanya seminggu. Akhirnya saya beli lima buah lumpia untuk Bayu Siwi Farma Putra, seorang kawan saya yang menunggu di Yogyakarta dan keluarga. Ternyata harga lumpia naik jika dibanding harga saya membelinya lima tahun lalu. Dulu saya membelinya dengan harga Rp4500 per buah, sekarang mencapai Rp8000 per buah.
Hari mulai sore, saatnya pergi ke pangkalan travel Cipaganti. Berat rasanya. Baru delapan jam saya di Semarang, sudah berpindah lagi. Pukul 16.15, saya meninggalkan kota Semarang, menuju kota Yogyakarta yang berjarak 134 km ke selatan jauhnya.
-Bersambung-