Total Tayangan Halaman

Jumat, 14 Agustus 2015

Idolatri Tribus dan Idolatri Specus

Menurut Francis Bacon (1561-1626), ada dua jenis kesalahan yang dilakukan manusia: Kesalahan Umum (Idolatri Tribus) dan Kesalahan Individu (Idolatri Specus).

IDOLATRI TRIBUS
Kesalahan umum yang dilakukan manusia dibedakan atas:
1. Dramatisasi (melebih-lebihkan kenyataan). Hal yang dilebih-lebihkan: Frekuensi, kuantitas, tempat, waktu, aksi, dan pelaku/aktor.
2. Generalisasi (menyamaratakan). 'Beberapa', dianggap 'semua'.
3. Pemenuhan harapan (wishfulfilment). Harapan kita tentang sesuatu atau seseorang, acap kali membuat kita tidak berpikir jernih lagi.
4. Pembenaran diri. Biasanya terjadi saat kita melakukan kesalahan, diikuti usaha-usaha untuk mencari kambing hitam dan membuat alibi.
5. Reduksi & simplifikasi (menyederhanakan & mengecil-ngecilkan). Contoh: Faktor ekonomi sering dianggap sebagai akar berbagai masalah.
6. Primordialisme. Kesetiaan atau fanatisme dan pembenaran kelompok di mana kita termasuk di dalamnya. Padahal kelompok kita belum tentu benar.

IDOLATRI SPECUS
Berikut adalah hal-hal yang berkaitan dengan kesalahan individu:
1. Pengalaman. Terutama pengalaman pahit, karena lebih "terekam" ingatan.
2. Pendidikan. Pengaruh dari orang tua, pengajar, buku, doktrin, iklan, dll. Pendidikan menjadi penyalur dari kesalahan pemikiran dan prasangka.
3. Karakter. Perbedaan karakter seorang individu dengan individu lain bisa menyebabkan bentrokan (sekaligus bisa saling melengkapi). Terdapat beberapa jenis karakter yang saling berlawanan. Contohnya: Optimis-pesimis, Globalis-spesialis, Similaris-diferesia.

Senin, 10 Agustus 2015

Terkadang

Status: Sensing - Thinking

Terkadang, gue bingung dengan apa yang terjadi di sekitar gue. Bukan hal besar yang gue ingin pikirkan, lebih kepada hal-hal kecil. Gak tau kenapa, ini sangat mengganggu gue. Gue pengen ceritain beberapa hal aja. Gak banyak, cuma tiga poin aja dulu sekarang.

Pertama, gue bingung gimana cara berpikir orang-orang di sekitar gue ini. Contohnya, gue kan like fanpage National Geographic Indonesia. Lumayan langganan baca postingannya. Dia (NGI) kalo ngepost biasanya artikel tentang fakta ilmiah gitu. Nah gue gak ngerti kenapa, jarang banget yang ngomen di postingannya. Akan tetapi, kalo dia ngomongin hal yang nyerempet agama, politik, dan hal-hal yang kontoversial, yang komen banyak banget. Gak cuma NGI sih, di berita-berita online (detik.com, kompas, metrotv, dll) juga isi komennya kayak "lempar batu sembunyi tangan". Orang-orang yang ngomen pasti mikir gini, "toh ini medsos, bebas gue berkomen, diatur undang-undang kok, lagipula, toh gak ada yang kenal gue ini". Sampe gue mikir gini, "Orang Indonesia itu seneng banget sama hal-hal yang kontroversial. Politik dan Agama terutama. Tapi kalo lagi disuruh mikir hal-hal yang ilmiah, malesnya na'udzubillah. Dari sini gue ambil kesimpulan kalo sebenarnya, orang Indonesia itu kebutuhan pokoknya: Sandang, pangan, papan, dan eksistensi. Sayangnya, eksistensi sering kali lebih didahulukan daripada sandang/pangan/papan. Eksistensi ini bisa dalam bentuk 'ingin terlihat kaya, ingin terlihat cerdas, dan ingin terlihat berkuasa'. Media sosial bisa mengubah orang yang kalem dan bijaksana menjadi dungu dan acuh".

Kedua, gak tau kenapa, gue gak suka kalo denger orang manggil nama orang lain dengan status sosialnya. Jadi kadiv, dipanggil "Halo Pak Kadiv", baru naik haji, dipanggil, "Hai Pak Haji", baru nyebar kebaikan dikit (di medsos dan dunia nyata) dipanggil "Assalamu'alaykum Pak Ustadz" atau "Syeikh". "Bercanda itu, jangan dianggap serius lah". Benarkah? Terkadang kita kalo bercanda emang kelewatan. Kayak lo maen bullying waktu ospek: just for fun. Serupa namun berkebalikan. Kalo waktu ospek lo merendahkan orang lain karena 'just for fun', ini lo meninggikan orang lain karena 'just for fun'. Lagi pula, gini lho, misalnya ada orang yang baru nyebar kebaikan, langsung lo panggil syeikh, bukan tidak mungkin (bahkan sangat mungkin), setan menggunakan kesempatan itu untuk menggelincirkan niatnya untuk berbuat baik. Timbullah riya, ujub. Bisa jadi, who knows? Terkadang, prasangka buruk dapat mengintrospeksi orang yang tidak dapat mengintrospeksi dirinya sendiri. Emang bener kata Niccolo Machiavelli, "Gelar tidak memuliakan seseorang, melainkan orang-oranglah yang memuliakan gelar".

Ketiga, idealisme itu, sepengelihatan gue, adalah sahabat di mulut, namun musuh di dalam hati. Berapa banyak senior-senior lo yang dulu ngajarin soal sopan santun, tapi kalo berangkat kuliah pake pakaian kayak tante-tante ke mall? Berapa banyak temen-temen lo yang ngajarin ke junior lo soal kejujuran, tapi kalo ngerjain PR masih nyalin temen? Katanya sih kepepet. Tapi disanalah esensi dari idealisme sesungguhnya: memegang teguh prinsip dalam situasi kepepet. Berapa orang dari temen-temen lo yang berkoar anti-korupsi tapi masih belajar persiapan matkul X pada saat kuliah matkul Y? Berapa orang yang ngakunya "jaga pandangan" (untuk cowok) tapi masih suka ngelike foto-foto cewek yang ganti profile picture di medsos? Lo mikir gak sih? Kalo ngajarin anak orang dan memperlihatkan sesuatu yang ideal-ideal itu berat banget? "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" (Q.S. Ash-Shaff: 2-3). Dari SMA gue pikirin itu dan itulah sebabnya gue gak mau ikut-ikutan ngajarin anak orang lebih lanjut dari sekadar "ngasih contoh lalu ngasih tau secara personal".

Oke, gitu doang. Nanti kalo ada keluhan lagi gue lanjutin :v.

Rabu, 05 Agustus 2015

ABCD (part II)

"Terima kasih Alpha", kata Delta, menyeringai. "Kau selalu berkata seolah-olah kau benar-benar mengenal kami"

Bravo mengambil biskuit kaleng di meja Alpha. Tak ada yang ia katakan selain suara remukan biskuit di rahangnya.

"Begini, kawan-kawan", Charlie memulai pembicaraan kembali, setelah meneguk sodanya. "Dalam organisasi kita yang seumur jagung ini, apa saja yang belum rampung?"

"Pengembangan Anggota", sahut Delta.

"Sistem Pemilihan Kebijakan", kata Bravo, sambil mengunyah biskuit kaleng.

"Dua itu saja, Charlie. Masalah pribadi kawanmu yang lain perlu dibicarakan", kata Alpha tajam.

"Okay", kata Charlie, merapikan posisi duduknya, mengambil sekeping biskuit kaleng. "Untuk pertama tentang Sistem Pemilihan Kebijakan. Aku berharap adanya sistem musyawarah di setiap kita akan memilih jalan cagak. Kalian tahu, ya, ini akan demokratis. Setiap orang dari kita sangat bebas berpendapat ketika kita menghadapi jalan cagak, tentu disertai alasan yang cukup memadai dan jelas. Ini akan membantu. Ada hal lain? Ambilkan segelas air, Alpha, sodamu membuatku tak nyaman"

Alpha mengambilkan sebotol air mineral dari dalam kardus di sudut ruangan, agak berdebu. "Kau tak perlu membayar", katanya setengah bercanda.

"Aku akan memberikan pemikiranku tentang voting, Charlie", kali ini Bravo berbicara, bersemangat. "Menurutku, voting dapat digunakan dalam dua keadaan: butuh keputusan cepat dan orang yang terlibat banyak. Cepat di sini dalam hal mutlak dan banyak di sini dalam konteks yang relatif. Sifat anggota itu banyak tergantung parameter yang kita gunakan, tidak ada Standar Internasional, Charlie, percayalah. Adalah kurang proyek jika International Standard Organization mengurusi hal itu. Itu tergantung seberapa nyamannya kita dalam mengenal setiap anggota secara mendalam, seperti yang dijelaskan oleh Alpha. Poin selanjutnya adalah cepat. Kalian tentu sangat memahami bahwa organisasi kita mengutamakan progress dalam mencapai tujuan di atas kepentingan individu. Maka dari itu kecepatan pengambilan keputusan adalah yang utama. Voting yang ideal adalah voting yang menggunakan 100% intuisi semata, tanpa insting, data, fakta, pencerdasan, atau apapun. Jika sebelum dilakukan voting diadakan diskusi dan pemaparan data dan fakta, itu hanya menjadi sistem campuran, tidak punya pendirian, abu-abu. Voting sama sekali tidak membutuhkan alasan mengapa pemilihnya memilih A, B, atau C, sama sekali tidak. Pertimbangan dalam diri mereka sendiri pun sama sekali tidak dibutuhkan. Itu hanya memperlambat proses. Jangan pula seseorang sebelum voting itu, seseorang mengumumkan pilihannya kepada orang lain. Itu akan membuat orang lain menarik diri, bukan merasa golongannya. Kau paham itu, Charlie"

"Positif, Bravo", kata Charlie, meneguk sebotol air mineral yang diberikan Alpha.

"Bagaimana jika aku mempercayaimu saja, Charlie?", kata Delta, tiba-tiba.

"Kau tahu, mempercayaimu itu dari dua sisi. Kau sebagai seorang sahabat, dan kau sebagai seorang pemimpin". Aku pikir, aku akan selalu mempercayai apa yang kau putuskan, seganjil apapun keputusanmu"

"Kau tidak menganggapku sebagai manusia, Delta", kata Charlie, serius. "Di dunia ini, memusatkan keputusan dalam satu tangan tanpa alasan seakan bersifat intuitif itu sama sekali tidak proporsional, Delta. Lalu bagaimana dengan kau, Alpha?"

Alpha yang sejak tadi hanya memperhatikan, bergidik. "Ya, aku harap ini diskusi dua arah terakhir dalam organisasi kita. Aku tak suka voting, tapi penjelasan Bravo sangat bisa diterima olehku. Hanya itu pendapatku"

"Maksudmu?", kata Bravo.

"Kau tahu maksudku, Bravo", kata Alpha.

Melihat ekspresi Alpha, Charlie memahaminya.

Charlie menuliskan sesuatu pada buku catatan kecilnya. Delta mengintipnya.

"Dalam pengambilan keputusan, pemimpin adalah pembuat keputusan mutlak. Jika tidak dibutuhkan, pemimpin layak mengambil keputusan tanpa meminta pendapat anggotanya. Jika dibutuhkan, pemimpin layak meminta pendapat dari anggota lain tanpa sanggahan terang-terangan dari anggota lain ataupun dari pemimpin. I'm a leader, the decision maker"

"Perlu kukatakan padamu, Charlie", Alpha memulai lagi. "Mengapa kita membutuhkan pengembangan anggota? Kita berkumpul di organisasi ini karena tujuan yang sama, mengembangkan anggota dengan sistem tertentu sama saja dengan menjadikan organisasi ini menjadi mesin pencetak kue."

"Ya, Alpha", jawab Charlie. "Aku percaya kalian sudah cukup dewasa dalam memahat dirinya sendiri"

"Aku sejujurnya tidak menyukai pembahasan ini, Charlie, tapi aku menghormatimu, Delta, seperti aku menghormati diriku sendiri", kata Bravo tiba-tiba, gusar.

"Akan tetapi, akan kuberikan satu kecenderunganku yang kupercaya hingga saat ini. Charlie, kau hanya membutuhkan dua hal untuk pewaris kita di organisasi ini: Doktrin dan Keteladanan. Tidak kurang, tidak lebih. Itu bisa dilakukan tanpa sistem namun dapat diawasi dengan mudah jika dilakukan oleh setiap individu diantara kita memberikan doktrin dan keteladanan yang terbaik. Sekali lagi, Charlie, setiap individu. Kau tahu, sebuah organisasi yang berisikan anggota yang seluruhnya sadar dan meresapi tujuan organisasinya akan selalu sadar pula untuk mewarisi apa yang ia miliki kepada pewarisnya. Jika diantara kita ada yang tidak memiliki semangat dalam mewarisi doktrin dan keteladanan kepada anggota baru, itu berarti, orang itu menganggap tujuan organisasi ini bukan hal yang penting untuk dicapai, atau loyalitas terhadap dirinya sedang meningkat. Untuk waktu, itu tidak terlalu penting bagi kita. Kita memang membuat setiap anggota baru memahat dirinya sendiri, bukan kita mencetak dia seperti cetakan agar-agar yang rapuh. Tidak ada invisible big hand yang akan mengekang kita jika kita sibuk menanak nasi di daput, walaupun progresif dan cepat dalam menjalankan misi itulah yang diutamakan, bukan? Doktrin akan sangat sulit jika dilakukan dari nol, Charlie, percayalah padaku. Pastikan mereka memiliki landasan niat dan pemikiran yang bagus, itu pesanku".

Bravo kembali mengunyah biskuit kaleng.

"Kuemu enak, Alpha, beli dimana?", tanya Bravo tersenyum lebar.

"Diberi tetangga", kata Alpha dingin.

"Ah ya, satu lagi", lanjut Bravo, menutup kaleng biskuit. "Prinsip penghuni baru harus menghormati penghuni lama kupikir, harus dikurangi hingga ke titik nol, Charlie. Setiap orang memiliki standar penghormatan yang berbeda-beda, sadari itu. Bagaimana jika ternyata kemudian kita akan kedatangan anggota baru dari suku Maori? Aku bertaruh kau akan melemparnya ke jurang sebelum dia hafal nama kita. Peribahasa dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung dalam konteks organisasi dan anggota baru tidak akan pernah membuat anggota baru benar-benar merasa memiliki organisasi ini, Charlie. Cobalah kau tulis di buku kecilmu: Setiap anggota menghormati anggota lain sama seperti ia menghormati dirinya sendiri. Itu akan lebih baik kurasa. Kita sudah merasa lebih baik setelah kita mentertawakan gaya kaderisasi baris-berbaris ala anak organisasi di sekolahmu dulu bukan?"

"Bagus, Bravo", kata Delta. "Kau bicara seolah kita sudah sepakat sebelumnya"

"Belajar lebih banyak, nak muda. Jadikan setiap orang di tempat ini adalah dirimu sendiri", kata Bravo, mengejek Delta.

ABCD (part I)

Status: Feeling - Thinking

"Bravo, masuklah", suara itu terdengar dari dalam ruangan berpintu kayu itu, meskipun derasnya hujan, tidak mampu menutupi suara lantang itu.

"Baiklah, Alpha", kata Bravo membuka pintu, agak berderit sedikit.

"Duduklah"
Bravo duduk di kursi reot dalam ruangan itu.

"Tahukah?", Alpha memulai. "Mengapa aku menerimamu di ruanganmu? Aku bahkan tidak memintamu untuk ke sini, kukira, eh?"

"Aku tak tahu, tapi aku memerlukan sesuatu.....", Bravo berkata dengan percaya diri di ruangan agak remang tersebut.

"Intuisi", potong Alpha, "selalu benar, Bravo, kau tahu? Kamu adalah kawanku.... yang lebih aku percaya daripada firasatku. Jika kamu punya masalah, akan ku bantu. Itu sudah kemauanku, Bravo, jangan kau melarangku. Bukan, bukan karena kamu harus percaya aku, tapi karena aku mempercayaimu, sekali lagi. Ah, silahkan masuk, Charlie, jangan sungkan, Delta. Masih ada bangku kosong untuk kawanku"

Pintu terbuka, dua orang memasuki ruangan. Wajah mereka tersenyum akrab kepada Bravo dan Alpha. Memang, bisa dikatakan bahwa empat orang ini adalah empat serangkai, yang membentuk ikatan kuat antar manusianya. Saling mengenal seperti mereka mengenal ibu mereka sendiri.
Mereka duduk. Terdiam sesaat. Kemudian Charlie memecah keheningan.

"Begini Alpha, kita harus mendiskusikan...."

"You are my decision maker, Charlie. Aku hanya penasehatmu, lebih dari itu adalah pelanggaran bagi organisasi kita.", kata Alpha memotong lagi, dengan tenang. "Delta, kau mau minum soda?"

"Kau mengatakannya, membuatku menginginkannya, Alpha", kata Delta. Ia kemudian mengambil beberapa gelas dan sebotol soda, menuangkannya untuk dirinya dan tiga orang kawannya.

"Cinta, Pemimpin, dan Pergaulan, benarkan, eh, Bravo, Charlie, dan kau, Delta?", kata Alpha tenang sambil kemudian meneguk sedikit gelas soda miliknya.
Bravo, Charlie, dan Delta terdiam, tertunduk, sedikit mengangguk.

"Aku mengenal kalian seperti masing-masing kalian mengenal tiga orang lainnya di dalam ruangan ini, jangan berpura-pura, santai saja, mengapa bermuram begitu?", lanjut Alpha.

"Bravo. Cinta kepada seorang wanita itu hanya bisa dibuktikan dengan menikah, kau tahu itu kan. Sama sekali tidak valid jika hanya membuktikannya dari pemberian seisi dunia atau sekadar rangkaian kata. Tidak, Bravo, sikap romantis itu bukan sikap seorang pria yang jantan. Tidaklah sama. Hanya mendatangi orang tua atau walinya lah yang dapat membuktikan bahwa kau benar-benar mencintainya. Akan kutarik kata-kataku barusan, Bravo, setelah kubicara dengan Charlie dan Delta"

"Charlie. Izinkan aku mengoreksi. Bukan kepemimpinan, melainkan lebih ke soal organisasi dan kerjasama tim, bukan? Organisasi akan menjadi lebih baik, Charlie, bukan sekadar mengolah anggotanya menjadi sesuatu yang kau sebut hasil. Kamu tahu itu, seperti aku memahamimu. Tujuan yang bersifat siklik, hanya akan membuat organisasi jalan di tempat, seperti roda gigi yang tejebak di dalam mesin, untuk menghasilkan sesuatu. Itu membuat sebuah organisasi tidak hidup, seperti mesin. Organisasi hanya akan menjadi bulan-bulanan anggota yang memiliki tujuan yang berbeda-beda,  yang jumlahnya seperti jumlah simeti lipat dari roda gigi tersebut, tak terbatas, namun mengaku sama, mengaku satu. Itu berbahaya. Kita -aku tidak mengharapkan kukatakan kamu-, harus fokus pada tujuan yang disepakati, berapapun generasi yang akan mengerjakannya. Progresif."

"Delta. Sebagai kawanku yang muda, pikirkanlah, mencari jati diri adalah hal berbahaya, seperti mencari gading gajah India yang tak retak: sulit, berbahaya, dan dapat menjadi kesalahan fatalmu yang dapat membunuhmu, ah tidak, lebih buruk daripada itu, membunuh karaktermu, sebelum berkembang. Ketika kau menemukannya pun, kau tak tahu apakah dia gajah afrika atau gajah india. Serba rancu, karena itulah kau dalam perjalananmu di tengah hutan, bertanya pada penduduk hutan, yang bodoh, kadang menyesatkanmu. Namun, teman perjalanan yang bodoh, lebih berbahaya daripada musuh yang pintar. Mengapa? Sebab, teman yang bodoh akan menjerumuskanmu ke jurang, padahal niatnya terlihat tulus ikhlas menjalin persahabatan yang baik dan menyenangkan. Berhati-hatilah dalam memilih kawan dalam perjalanan mencai jati diri, kawan."

"Bravo. Sesuai janjiku beberapa menit lalu, aku akan sedikit menarik kata-kataku. Menurutku, aku akan menanyakan suatu hal sebelumnya, Mengapa kau mencintainya dan membuktikan rasa cintamu? Apakah dapat dilakukan jika cinta itu kau rasakan baru setelah kau menikahinya? Kau harusnya curiga kepada dirimu sendiri ketika kau mengaku memiliki rasa cinta sebelum kau membuktikannya. Menikah itu, menurutku, bukan hanya membuktikan bahwa ada cinta yang akan berkembang kepada orang lain (istrimu), melainkan itu membuktikan pula kepada dirimu sendiri. Jangan bohongi dirimu sendiri, Bravo. Banyak orang terlena akan cinta. Cinta itu fitrah yang selalu menjadi fitnah, jika dirasakan sebelum menikah. Pahami itu, Bravo. Trust me"

"Charlie. Apakah kamu pikir, mana yang lebih diutamakan, loyal pada organisasi atau loyal pada pemimpin? Tentu saja orang akan cenderung loyal kepada diri sendiri. Di dalam hati terdalam, orang akan loyal kepada diri sendiri dengan cara melarikan diri dari organisasi, jika keadaan organisasi dan pemimpinnya dapat membahayakan dirinya, sekecil apapun bahayanya. Jangan konyol soal loyalitas, Charlie. Kau harus membuat anggota dalam organisasi ini senyaman mungkin agar dapat bekerja secara optimal tanpa memikirkan apa yang akan mereka dapatkan. Jika diri mereka merasa aman, mereka akan melonggarkan loyalitas kepada diri sendiri kemudian meningkatkan loyalitas kepada organisasi. Aku minta maaf jika aku kurang kongkret, Charlie, tapi itu bisa menjadi petunjuk dalam hidupmu di organisasi ini"

"Delta. Kamu harus sadari bahwa dalam bergaul, prinsip adalah hal mendasar yang wajib dimiliki setiap manusia, sepolos apapun. Walaupun kita sering menyebut orang polos seakan tidak tahu cara memegang prinsip dan menyikapi gangguan akan prinsipnya itu. Ketahuilah, Delta, dalam memegang prinsip, itu seperti memegang bara api dalam sebuah tanur. Namun, kau tahu, apa yang dapat mendinginkan itu semua? Secara teknis, cuek akan menjawabnya. Jika ada segerombol manusia yang mengajakmu berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsipmu, sikapilah dengan santai, bercanda, bahkan jadikan penolakanmu sebagai guyonan yang akan mendinginkan hatimu yang sedang akan tergoda. Mudah, Delta. Jangan terbawa perasaan. Kau memiliki do and don't dalam sebuah Standard Operating Procedure dari prinsipmu. Belajarlah disiplin pada dirimu sendiri."

"Bravo. Aku akan memberikan suatu pemikiranku yang ideal, berupa analogi tepatnya, namun tidak pernah proporsional jika dilakukan oleh siapa pun, bahkan mungkin oleh kamu sendiri. Menikah itu seperti membeli mangga. Penanam sekaligus pedagangnya adalah sang orang tua atau wali sang wanita. Dia merawatnya sejak kecil, melindunginya dari serangan hama, dan mendo'akannya semoga mangga-mangganya kelak menjadi buah yang bermanfaat bagi orang lain dan cocok dengan lambung dari orang yang akan memakannya. Kamu paham, akan ada seorang pemuda yang menginginkan sebuah mangga dari bapak itu, namun ia belum siap membelinya, belum punya uang atau sebagainya, katanya. Ia setiap hari memandangi pohon mangga-mangga itu, lama kelamaan mulai mendekati pohon itu. Kamu tahu, bagi bapak itu, pemuda itu tidak lain ada dua kemungkinan: pencuri atau hama. Dalam denotatifnya, pemuda tersebut adalah orang yang berpacaran dengan sang wanita (maling) atau teman-teman pergaulannya yang menjerumuskannya (hama). Haruskah aku menjelaskan hal itu untukmu, Bravo? Intinya, kamu akan seperti maling dan hama, jika kamu terlalu mengidam-idamkannya terlalu lama bahkan hingga tergila-gila. Jika benar kau belum sanggup, bertahanlah, mapankanlah. Jika sudah sanggup, datangilah bapak itu baik-baik, dan pilihlah yang sudah matang dan terbaik. Jika kamu mengidam-idamkannya sejak dari pohon, kau akan mendapatkan kekecewaan besar, jika mangga yang kamu incar ternyata membusuk sebelum siap panen, dicuri orang lain atau dibeli orang lain."

"Charlie. Jumlah anggota itu penting demi efisiensi dan kenyamanan bekerja sama, Charlie. Saya cukup yakin, positif, rasa memiliki suatu organisasi akan cenderung sulit ditanamkan pada jumlah anggota besar. Akan selalu ada orang-orang yang dominan, satu-dua-tiga, segelintir, koleris, yang akan selalu merasa memiliki organisasinya. Biasanya mereka akan dianggap pimpinan, bos besar, tuan tanah, atau istilah apapun yang berkembang dalam menyebut majikan dalam zaman feodal oleh anggota-anggota lain yang berjumlah banyak itu. Aku tidak bicara apakah semua orang senang dengan kelompok kecil atau kelompok besar, tidak, ini hanya berdasarkan sepengelihatanku yang rabun, Charlie. Jumlah anggota juga penting untuk meratakan kedekatan emosional seorang pemimpin terhadap anggotanya. Apakah kau sudah paham dengan perasaan, kebutuhan, keinginan, harapan terdalam, dan jalan berpikir dari setidaknya seratus orang temanmu di luar sana, Charlie? Kujamin tidak sepenuhnya. Hanya beberapa. Jangan berandai akan memahami anggotamu yang luar biasa banyak, jika memahami semua orang yang kau anggap teman saja kau tak mampu. Jagalah tim ini tetap kecil, Charlie, agar kau memahaminya, satu per satu, hingga kau mengenal cara berjalan setiap anggota. Jika demikian, kau akan memahami dirimu sendiri sehingga kau tak salah arah, dan anggotamu akan memahamimu dan membantumu untuk memahami dirimu."

"Delta. Penting bagiku untuk memberitahumu hal ini. Tidak penting apakah seseorang lebih senang bergaul dengan sedikit orang atau banyak orang, namun ia harus menciptakan zona nyaman dalam pergaulannya. Akan kuberikan apa yang disebut dengan Lingkaran Pergaulan. Kau tentu akan protes dengan istilah zona nyaman yang kuberikan bukan? Delta, zona nyaman yang kumaksud, lebih cenderung kepada sebuah zona pergaulan yang berisikan orang-orang kepercayaanmu, sahabatmu, yang akan mendukung prinsipmu, menjaga prinsipmu, dan siap mengembalikanmu kepada jalan yang sesuai dengan prinsipmu, terutama setelah kamu cukup lama bergaul dengan orang yang dengan sengaja atau tidak sengaja siap menjerumuskanmu. Lingkaran ini tempatmu kembali, Delta. Mereka itu seperti susu murni yang siap menetralkanmu setelah kamu memasuki ruangan asam sulfida. Jika kau tidak memilikinya, kau akan berada pada suatu persimpangan, rasa bimbang akan merajaimu dalam kesendirian, atau bahkan, yang akan lebih parah, kau akan tanpa ragu terjerumus tanpa rasa keraguan. Sadarkah itu, Delta?"

Alpha menyeruput kembali gelas sodanya. Diikuti kawan-kawannya yang lain. Hujan masih membasahi jendela ruangan kayu tersebut.

(bersambung...)

Perjalanan III di Yogyakarta - Hari Kesembilan

Sabtu, 1 Agustus 2015

Telah berganti bulan. Bulan Juli telah mengundurkan diri, gue pun juga mengundurkan diri dari kota Yogya sore ini. Ya, pagi terakhir di Yogya dihabiskan dengan sarapan nasi gosong (:v). Siang ini, Ridwan, salah satu temen deket gue waktu SMA yang kuliah di Semarang, kebetulan lagi di Yogyakarta, akhirnya gue dan Bayu ketemuan sama dia di hotel tempat dia nginep, di hotel Melia Purosani. Ketemuan, gak enak kalo ngobrol di tempat, sambil jalan deh akhirnya, nyari makan siang. Mau makan Soto Ayam Klaten Pak Min, udah kehabisan, akhirnya ke Malioboro Mall, ditraktir Ridwan makan pizza hehehe....



Abis kenyang, nyokap gue di Jakarta minta dibeliin gudeg kalengan di Jalan Wijilan, ya udah gue jalan kaki ke sana dari Malioboro Mall, ditemenin mereka berdua, sambil ngobrol dan ketawa-ketawa gak jelas. Emang, aslinya gudeg itu kalo di bawa pulang pake kendi, tapi cuma bertahan 24-30 jam. Tapi sekarang ada yang namanya Gudeg Kaleng, bisa tahan 1-2 tahun dalam kaleng. Harganya Rp30000 (naik Rp5000 dari 1,5 tahun lalu). Isinya gudeg, krecek, dan telur. Nettonya 300 gram. Untuk rasa, gue percaya Jalan Wijilan tempatnya gudeg-gudeg terenak se-DIY :3

Hari ini panas banget. Gak tahan dan bikin pusing, kembali ke hotel terasa jauh gitu (oke, ini lebay). Tapi udah hampir jam 14.30. Gue gak bisa berlama-lama lagi. Gue mesti pulang ke Jakarta. Pamit dengan Ridwan, Bayu nganterin gue ke rumah buat ngepak barang. Jam 15,30, gue diantar Bayu ke Apotek Kentungan di Perempatan Jalan Kaliurang - Ring Road Utara. Di sanalah gue bakal dijemput mobil travel. Jam 16.00, Bayu pamit, ninggalin gue yang belom dijemput travel yang belom dateng :'v (oke, ini #sedih #tega #dramatis).

Sekian, maaf mengganggu~

Perjalanan III di Yogyakarta - Hari Kedelapan

Jumat, 31 Juli 2015

Menjelang malam terakhir di Yogyakarta, agenda kami hari ini dimulai setelah shalat jumat. Destinasi pertama kami adalah Kraton Ratu Boko, letaknya di bukit seberang Candi Prambanan. Jadi kalo mau ke sana dari arah kota, ikutin aja jalan ke arah prambanan via jalan solo, nanti ada belokan ke kanan petunjuknya ke arah candi ratu boko. Tiket Masuknya Rp25000 per orang dan parkir motornya Rp3000. Emang ini tempat udah dikelola sangat apik sehingga kesan pertama gue "kayak resort coy". Candi Ratu Boko ini terletak di atas bukit, sehingga dari sana bisa ngeliat kota Yogya sekaligus Candi Prambanan yang berdiri megah dari kejauhan. Satu kekurangannya: panas... kering... butuh banyak jajan minuman di sini (kalo gak bawa minuman). Tempat ini sepertinya masih tahap pengembangan dan pembangunan. Masih banyak tenda-tenda tukang batu gitu dan masih banyak petak-petak yang sepertinya pondasi dari calon candi yang akan dibangun.






Puas berpanas-panas ria dan berfoto ria, kami mealnjutkan perjalanan ke arah selatan. Melalui Jalan Raya Prambanan-Piyungan yang kemudian tembus ke Jalan Wonosari, kami menelusuri Jalan Raya Wonosari hingga ke kota Wonosari untuk mencari jangkrik dan belalang goreng yang khas Gunung Kidul. Buat oleh-oleh antimainstream gitu hehehe. Akhirnya kebeli juga. Setoples jangkrik/belalang goreng dibandrol Rp40000. Rasa belalang gorengnya juga ada 3 pilihan: bacem, gurih, dan pedas.

Puas mengobati rasa penasaran akan oleh-oleh, kami melanjutkan perjalanan untuk makan malam terakhir: Sate Klathak Pak Pong di Jalan Stadion Sultan Agung (Jalan Imogiri Timur Km. 10). Dari kemaren-kemaren sebelumnya kami lewat jalan Imogiri gak nemu-nemu, ternyata mesti belok ke jalan stadion sultan agung *facepalm*. Sebelum ke sana, kami foto-foto dulu di perbatasan Bantul-Gunungkidul yang "eyecatching" banget (menurut gue dan beberapa orang yang narisi di sana :v)



Di perbatasan Bantul - Gunungkidul

Lanjut perjalanan, sampe Sate Klathak Pak Pong udah maghrib. Ya udah shalat maghrib dulu di sana. Abis itu pesen. Cukup rame tempatnya. Memadai juga mejanya, karena sampe-sampe meja buat tamu tersedia di bangunan di seberang jalan. Kami pesen sate klathak 5 porsi (soalnya katanya satu porsinya cuma dua tusuk, jadi ragu gitu. Harga satu porsi satenya adalah Rp19000), nasi dua porsi, dan es jeruk dua gelas. Ternyata eh ternyata... satenya gede banget. Gue beli satenya kebanyakan :v


Rasanya juga top markotop! Juara deh. Ini sate terenak ketiga yang gue pernah makan setelah sate kambing muda di Tegal dan sate maranggi di Sadang. Gue sampe nambah nasi dan segelas es teh manis (as always ._.). Puas banget dan bener-bener jadi penutup perjalanan yang sangat memuaskan.

Tanpa ragu, gue beri nilai untuk Sate Klathak Pak Pong ini:
Kebersihan: 4,5
Rasa: 5
Kenyamanan/Suasana: 4,5
Harga: 4
Pelayanan: 4,5
Rating: 4,5

Perjalanan III di Yogyakarta - Hari Ketujuh

Kamis, 30 Juli 2015
Hari ketujuh ini sebenarnya mau ke pantai selatan di kab. Gunung Kidul, tepatnya pantai Drini. Tapi karena satu dan lain hal, jadinya hari ini.... libur :'v

Pukul 14.00 siang, di tengah kegabutannya, gue dan Bayu berniat nyari Bacem Kepala Kambing H. Sukirman di Pasar Colombo. Gak masuk list target gue, tapi setahun lalu pernah gue rekomendasikan untuk jadi target. Oke sip.

Gak terlalu susah ternyata untuk menemukan warung makan yang terbilang sedehana ini. Letaknya di sisi timur Pasar Colombo. Namun waktu kami ke sini, warungnya masih tutup. Bukanya jam 15.00 lewat. Akhirnya kami nongkrong dulu di kedai Es Bang Jo, barang setengah jam lah. Setelah penantian, akhirnya kami samperin warung H. Sukirman itu. Orangnya sih masih beres-beres, tapi begitu katanya udah buka, ya udah kami langsung masuk. Makanan pun disajikan: Baceman kepala kambing (campur) dua porsi lengkap dengan sambal kecapnya, nasi dua porsi dan dua gelas es jeruk. Isi baceman campur itu ada mata, lidah, cungur, otak, dan lain-lain. Gue cicipi, awalnya ragu akan "kepala" ini, tapi ternyata rasanya enak lah. Gak ngira kepala kambing yang gue kira bakal "dibuang" ternyata bisa diolah jadi baceman yang enak begini. Gue sampe nambah nasi dan nambah minum. Setelah gue pengen bayar, harganya tak terkira coy, gak sampe Rp50000. Cuma Rp46000 untuk makan sekenyang itu berdua! Mantap lah!

Nilai gue berikan untuk Baceman Kepala Kambing H. Sukirman ini:
Kebersihan: 4
Rasa: 4,5
Kenyamanan/Suasana: 4
Harga: 5
Pelayanan: 4
Rating: 4,3