Total Tayangan Halaman

Selasa, 04 Agustus 2015

Perjalanan III di Yogyakarta - Hari Keempat

Senin, 27 Juli 2015

Hari keempat ini jatuh pada hari Senin, 27 Juli 2015, yang notabenenya hari pertama anak-anak sekolah. Diperkirakan tempat wisata bakal sepi jadi bisa lebih bebas gitu buat ngalay mengeksplorasi tempat tersebut.

Oke, tempat pertama yang kami kunjungin itu namanya Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, adanya di Kompleks Pangkalan Udara TNI AU Adisucipto, jadi dari sana bisa liat pesawat landing dan take off dari jarak dekat. Masuk komplek ini pun gak sesembarangan masuk perumahan elit (ekonomi sulit) atau perumahan mewah (mepet sawah), lo mesti nitipin KTP atau SIM lo di pos penjaga depan. Sekitar 300 m dari pintu gerbang, nyampe deh di museum. Gue dan Bayu langsung ke depan pintu, tapi eh tapi ternyata kata penjaganya, museum ini lagi tutup karena ada MOS. Ya udah kami foto-foto aja di halaman parkir yang punya banyak koleksi pesawat yang terparkir di sini.

Di halaman museum, depan salah satu pesawat koleksi museum

Lima belas menit kemudian, penjaga tadi manggil kami dan ngebolehin masuk (karena banyak pengunjung juga yang datang tapi kecewa karena tutup). Secara umum, museum ini menceritakan tentang sejarah perkembangan TNI Angkatan Udara dari masa ke masa. Selain itu, museum ini juga dilengkapi semacam hangar yang isinya berbagai macam koleksi pesawat, peluru kendali, helikopter, hingga mesin (jet engine). Beberapa pesawat bahkan bisa dinaiki (bisa masuk sampe kokpit).

Di dalam salah satu pesawat

Puas satu keliling dalam museum, kami beranjak dari sana menuju tempat selanjutnya: Kebun Buah Mangunan, di Kabupaten Bantul, yang jaraknya sekitar 23 km dari Pusat Kota Yogyakarta (via Imogiri Timur). Awalnya sepanjang Imogiri Timur jalanannya lancar-lancar aja, tapi mulai menanjak dan berliku setelah melewati makam raja Imogiri. Tarif masuk Kebun Buah Mangunan hanya Rp5000 per orang. Fasilitas yang tersedia antara lain toilet, mushalla, flying fox, outbond, dan penangkaran rusa timor. Di kebun buah Mangunan, jangan berharap menemukan kebun buah yang petik sendiri, apalagi musim kering begini. Tidak sepeti namanya, apa yang menjadi daya tarik di tempat ini adalah pemandangan dari atas tebing berupa perbukitan yang dibelah oleh Kali Oyo yang berhilir di Samudra Hindia. Walaupun sedang musim kering, pemandangannya bagus banget, bingung gimana jelasinnya. Menurut gue, mirip Tebing Keraton di Bandung, tapi di sini lebih kering dan ada sungainya. Banyak orang-orang muda yang berfoto dan berselfie ria di tempat ini (kebanyakan mungkin mahasiswa, karena anak sekolah udah masuk). Sekitar 1,5 jam kami habiskan waktu buat foto-foto dan istirahat di tempat ini.



Hampir jam 14.30, saatnya pulang. Sebelum itu, kami makan siang dulu di Kota Yogyakarta. Sudah jauh-jauh ke Yogya, gak afdol rasanya kalo nggak makan gudeg mie Aceh di Bungong Jeumpa. Ya, restoran khas Aceh ini didirikan oleh seorang Aceh yang kuliah di Yogya. Gue ngeliat beberapa cabangnya di seluruh penjuru kota Yogyakarta. Namun, kali ini kami makan di Bungong Jeumpa cabang Seturan Square, Jalan Raya Seturan. Terdapat belasan varian nasi goreng, mie aceh, roti cane, dan martabak yang tersedia. Varian harga berkisar antara 13000-27500 per porsi mie Aceh. Setelah sempet galau beberapa menit, akhirnya gue dan Bayu mesen Mie Aceh Sapi Special (Rp20000). Untuk minum, gue pesen Es Teh Tarik (Rp11000) dan Bayu mesen Stamina Juice (Rp11000). Stamina Juice ini merupakan campuran antara jus tomat, wortel, jeruk, dan seledri. Tak lama pesanan datang dan gue nyobain, rasanya uenak tenan! Apalagi ketika sesendok mie aceh dipadukan dengan acarnya. Asam, pedas, gurih, bercampur menjadi satu kesatuan rasa yang top markotop! Untuk Es Teh Tarik, busanya sampe tumpeh-tumpeh, rasanya pun lebih enak daripada teh susu yang biasa gue bikin di rumah. Mak nyusss deh!





Untuk Bungong Jeumpa, gue beri nilai:
Kebersihan: 4
Rasa: 5
Kenyamanan/Suasana: 4
Harga: 3,5
Pelayanan: 4,5
Rating: 4,2

Abis itu kami pulang, kekenyangan *burp* :v

Malamnya, gue dan Bayu berencana makan malam di luar. Tujuan makan malam kali ini adalah Papiti Milk di Ring Road Utara Yogyakarta. Semacam kedai yang bermenu andalan aneka macam susu, namun gak cuma anak muda yang nongkrong di sini. Banyak segerombolan keluarga yang makan malam di sini, karena gak hanya susu, makanan berat semacam nasi putih, sup, sayur, bebek, ayam, nasi goreng, ikan, tahu, tempe, roti bakar, dan masih banyak lagi ada di sini. Harganya pun relatif terjangkau. Roti Bakar harganya antara Rp5000-10000. Susu (bisa murni, rasa-rasa, pake madu, pake jahe, dll) harganya antara Rp6000-11000. Di sini gue pesen roti bakar Nanas + Keju dan Green Tea Milk, sedangkan Bayu pesen Chocorio Milk. Gue liat di menu, ada yang namanya Mister Teler, apa itu? Akhirnya gue dan Bayu sepakat mesen itu satu porsi (dimakan berdua). Ternyata yang datang adalah sejenis Es Teler yang ditambahin daging durian. Mantap! Bener-bener bikin teler! :'v

Untuk Papiti Milk, gue beri nilai:
Kebersihan: 3,5
Rasa: 4
Kenyamanan/Suasana: 3,5
Harga: 4
Pelayanan: 3,5
Rating: 3,7


Perjalanan III di Yogyakarta - Hari Ketiga

Minggu, 26 Juli 2015

Hari minggu memiliki event rutin bagi masyarakat Yogyakarta: Pasar Sunday Morning. Lokasinya memanjang dari Jalan Olahraga hingga Jalan Prof. Dr. Drs. Notonagoro, Universitas Gadjah Mada, Kota Yogyakarta. Di tempat ini banyak banget menjual... apapun, ya, apapun. Mulai dari kuliner, baju, sepatu, aksesoris gadget, dan lain-lain, layaknya car free day di kota-kota lain.

Parkir di Jalan Olahraga, jam 06.30 pagi, gue dan Bayu menyusuri pasar sunday morning yang sudah ramai oleh pedagang yang masih beres-beres baru buka lapak. Dari ujung sampe ujung, liat-liat aja yang unik-unik dan targetin "calon hal yang bakal dibeli". Udah sampe ujung? Balik lagi, kali ini beli beneran. Hal pertama yang kami beli itu sarapan. Sama kayak di Bandung, gue kalo sarapan milihnya nasi kuning. Harganya juga sama dengan di Bandung. Lalu gue ngeliat bola-bola sayur gitu, lumayan jajanan anak kecil, bikin nostalgia. Berasa makan takoyaki. Harganya cuma Rp500 per butir. Abis itu, gue dari tadi udah ngebet banget beli yang namanya Es Krim Pot. Dari tadi menjamur dimana-mana, dan gue belom pernah ngeliat yang kayak gitu di tempat lain. Es Krim Pot ini wadahnya pake pot bunga plastik kecil warna-wani gitu, terus diisiin es krim vanilla, stawberry, dan coklat. Abis itu dikasih bubuk oreo yang tebel banget sampe nutupin es krimnya, jadi kalo diliat dari atas jadi kayak tanah beneran. Di atas oreonya dikasih jelly warna coklat yang bentuknya memanjang, jadi kayak cacing-cacingan. Sebagai penutup, dikasih hiasan berupa bunga warna kuning kecil. Harganya Rp15000, tapi cukup worth it sih, gue aja sampe kenyang. Rencananya pengen nyobain Pempek Panggang, malah gak jadi karena kekenyangan. Ya udah sebagai penutup gue beli es beras kencur yang tradisional banget (sering beli kalo ke Yogya, tapi jarang nemu di Jakarta/Bandung). Harganya Rp3000 aja.

Gue dan es krim pot :v

Agak siangan dikit (jam 12 kurang), gue dan Bayu kembali keluar rumah. Tujuannya ke Museum Biologi UGM, sebelumnya ngeliat kedai Es Bang Jo di Jalan Kaliurang, ya udah gue coba. Rasanya enak, harganya terjangkau (Rp7500), gue dan Bayu waktu itu mesen rasa Red Velvet. Toppingnya berupa taburan coklat chip dan keju parut. Recommended deh :v

Jalan lagi, ternyata Museum Biologinya lagi tutup, ya udah kami ke Puro Pakualaman, deket dari Museum Biologi. Foto-foto bentar, soalnya agak sepi gitu, jadi bingung mau kemana. Akhirnya gue inget di list target gue, ada Rujak Es Krim Pak Sony yang biasanya mangkal di parkiran Puro Pakualaman. Ya udah kami ke sana. Rujak Es Krim itu rujak serut yang di atasnya dikasih beberapa sendok es krim putih (vanilla kali ya?). Awalnya gue ngerasa aneh, gimana ceritanya bisa memadukan rasa pedas, asam, manis, dan dingin dalam satu sendok rujak es krim. Gue penasaran rasa apa yang bakal dominan. Ternyata rasanya yang dominan..... enak coy! Top markotop deh! Rasanya bener-bener bikin gue pengen nambah lagi, apalagi kalo ditambahin sambel rujak yang tersedia di meja makan. Harganya cuma Rp5000 (mungkin udah naik, efek musim lebaran). I'm falling in love with Rujak Es Krim :')

Rujak Es Krim Pak Sony, Puro Pakualaman

Beranjak dari Pakualaman, kami parkirin motor di samping Taman Pintar. Pengen liat-liat buku, literally liat-liat. Kalaupun ada yang menarik, gak akan gue beli karena gak bawa duit :v. Lalu kami pindah ke halaman Taman Pintar. Kami gak masuk ke taman pintar karena 1,5 tahun lalu udah pernah masuk. Banyak hal yang berubah dalam 1,5 tahun, terutama di terowongan pancuran air :')

Pindah lagi ke kilometer nol. Kebetulan lagi ada acara gitu di halaman Monumen Serangan Umum 1 Maret, ya udah kami istirahat di sana bentar, sambil makan cilok. Abis itu Bayu kebelet buang air, jalan deh ke Benteng Vredeburg. Pengen numpang toilet doang. Tapi toiletnya ada di dalam kawasan benteng, makanya satpam benteng gak ngizinin kami minjem toilet tanpa tiket masuk. Ya udah kami beli tiket, Toh cuma Rp2000 per orang. Kami sebenarnya gak niat ke Benteng Vredeburg soalnya 2,5 tahun lalu pernah ke sana. Tapi karena "udah beli tiket", ya abis make toilet gak langsung pulang dong, tapi foto-foto dulu sampe sore menjelang.

Di Kilometer Nol Kota Yogyakarta

Senin, 03 Agustus 2015

Perjalanan III di Yogyakarta - Hari Kedua

Sabtu, 25 Juli 2015,

Berikutnya adalah hari sabtu, 25 Juli 2015. Setelah semalam sebelumnya istirahat, hari ini gue siap menjelajahi Yogyakarta lagi. Hari ini gue dan Bayu mau nelusuri Jalan Kaliurang, ke atas (utara).

Dimulai sejak jam 9 pagi, kami keluar dari rumah Bayu di Jln. Kaliurang Km. 9,3 dengan sepeda motor. Belom sarapan, kami memutuskan untuk cari sarapan dulu. Sekilas gue ngeliat, kuliner-kuliner di Yogya udah cukup banyak "dijajah" oleh kuliner-kuliner dari Bandung-Bogor-Jakarta. Seperti kue lapis talas, nasi goreng mafia, brownies amanda, dll. Destinasi kami buat sarapan hari ini juga termasuk kuliner Bandung sebenarnya, tapi yang punya orang Yogya, yaitu Siomay Kang Cepot. Lokasinya di Jalan Kaliurang Km. 8, di sisi kiri jalan jika datang dari arah selatan. Menu yang ditawarkan macam-macam siomay. Mulai dari siomay ikan tenggiri, siomay sapi, siomay ayam, kol, tahu, telor, dll. Siomay ikan tenggiri pun digolongkan jadi dua: Siomay Asli Tenggiri Sedang dan Siomay Asli Tenggiri Super. Harganya berkisar Rp1500-5000 per buah siomay. Sayangnya, waktu itu Siomay Asli Tenggiri Super, siomay sapi, dan siomay ayam lagi gak ada, ya udah deh gue dan bayu ambil yang Siomay Asli Tenggiri Sedang, telor, dan tahu. Rasanya enak banget. Gue pikir siomay yang enak cuma ada di Bandung, ternyata Siomay Kang Cepot ini rasanya top makotop! Ikan tenggirinya terasa banget, dan bumbunya, walaupun gue ga suka pedas tapi pesan bumbu yang pedas, cukup nyaman di lambung (padahal biasanya gue sakit perut kalo makan pedes pagi-pagi :v).

Gue, di depan kedai siomay kang cepot
Untuk Siomay Kang Cepot, gue beri penilaian:
Kebersihan: 3,5
Rasa: 4
Kenyamanan/Suasana: 3
Harga: 3,5
Pelayanan: 3,5
Rating: 3,5

Kenyang walaupun tanpa makan nasi, gue dan Bayu meluncur ke Museum Gunungapi Merapi (MGM). Letaknya di lereng gunung Merapi, tepatnya di Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Museum ini isinya tentang infomasi dan pendidikan peihal kegunungapian (khususnya Gunung Merapi), serta aktivitas-aktivitas tektonik dan vulkanik. Tiket Masuknya Rp5000 per orang. Waktu gue dan Bayu masuk, langsung disambut sama miniatur Gunung Merapi yang bertengger di tengah ruangan yang bentuknya agak bunder gitu.

Gue, di depan miniatur Gunung Merapi

Overall, museum ini isinya mirip dengan Museum Geologi di Bandung, tapi bedanya di sini lebih concern membahas Gunung Merapi dan gak ada tulang-tulang manusia/hewan purba kayak di Bandung. Cocok buat rekreasi edukatif, terutama buat orang yang gak ngerti geologi.... macam gue dan anak-anak SD (waktu itu ada anak-anak sekolahan yang lagi study tour di sana :v).
Bayu, di depan MGM

Abis itu, gue dan Bayu kembali menanjak menuju Kaliurang. Masuk gerbang kaliurang, kena retribusi Rp7000 buat sepeda motor yang berboncengan (kalo hari kerja taifnya Rp5000). Melampaui km 0 Kaliurang, terus naik ke atas, ketemu pos retribusi lagi, pintu masuk Telogo Nirmolo Kaliurang. Tarifnya Rp6000 per orang. Pas masuk udah disambut monyet-monyet yang ngarep dikasih makan sama pengunjung. Monyet disini gak nyerang, gak seganas di Uluwatu :v

Pertama-tama kami ke gardu pandang, foto-foto dulu lah sebentar. Lalu naik ke atas, menanjaki gunung. Kemana? Goa Jepang! Menurut petunjuk sih "cuma" satu kilometer, tapi ya karena nanjak dan banyak tangga terjal yang harus dinaiki jadi kesannya jauh, sekitar 15-20 menit untuk sampai ke mulut goa pertama. Perjalanannya mirip penanjakan dari Goa Pawon ke Stone Garden (Cipatat), namun disini lebih banyak tangga yang terjal banget. Di sepanjang track pendakian ada 2-3 penjual minuman yang siap "mendukung" anda untuk naik ke atas. Kenapa gue tadi bilang "goa pertama"? Ya, inilah yang membedakan Goa Jepang di Yogya dengan Goa Belanda di Bandung. Jika Goa Belanda di Bandung itu besar dan memiliki banyak lorong dan ruangan hingga menembus gunung, Goa Jepang di Yogya ini terdiri atas sekitar 25 mulut Goa yang beberapa diantaranya saling tersambung, sedangkan yang lainnya tidak. Setiap goa memiliki ruangan-ruangan yang tidak luas. Di depan goa ada bapak-bapak yang menyewakan senter dan headlamp. Kami nyewa dua headlamp (@ Rp5000 sampe abangnya pulang). Goa ini dipenuhi oleh kelelawar-kelelawar kecil yang menghasilkan guano yang baunya semerbak ke penjuru goa :v

Ketika akan menuju goa ketujuh, sandal gue putus, yaudah terpaksa turun gunung dan diagendakan kembali di lain hari :(

 Gue, di depan salah satu mulut goa bersama orbs

Bayu, di salah satu mulut goa

Tak terasa udah jam 2 siang, waktunya makan siang. Gue dan Bayu keluar dari kawasan Taman Nasional lalu menuju kaliurang bawah untuk mencari makan siang. Kami putuskan untuk makan makanan non-nasi lagi. Pilihan tertuju pada Bakso Granat di Jalan Kaliurang Km 8. Sebenarnya Bakso Granat ini banyak banget cabangnya (sepengelihatan saya di Yogya), kami milih yang deket rumah aja. Begitu datang, pelayannya dengan sigap menjelaskan menu yang ia bawa. Gue dan Bayu sama-sama mesen Bakso Granatz Senior (Gede) dan minumnya Es Teh Gentong yang ukurannya jumbo. Rasanya? Maknyusss..... Terdapat irisan cabe rawit yang "bersembunyi" layaknya ranjau di dalam daging bakso, belum lagi jika ditambah dengan sambal yang tersedia di meja. Kalo mau di bawa pulang sebenarnya bisa, tersedia paket granat yang udah dibekukan, jadi gak basi kalo sampe kota asal. Harganya sekitar 150-200rb an, isinya sekitar 5 butir bakso yang gede, dan bumbu-bumbu instan (kuahnya bikin sendiri).

 Harga makanan

Harga minuman
Untuk Bakso Granat, gue beri nilai:
Kebersihan: 4
Rasa: 4
Kenyamanan/Suasana: 3
Harga: 3
Pelayanan: 4
Rating: 3,6

Udah, abis itu pulang, udah kesorean. Lagipula sendal gue udah mangap-mangap. Dilanjutkan hari ketiga: Minggu, 26 Juli 2015 :v

Minggu, 02 Agustus 2015

Perjalanan III di Yogyakarta - Hari Pertama

Jumat, 24 Juli 2015,

Ada sebuah rencana yang gue telah buat semenjak gue meninggalkan Kota Yogyakata tanggal 10 Januari 2014 lalu pada The Lone-Greget Journey: Semarang-Yogyakarta II. Rencana itu berupa rencana mengunjungi kota Yogyakarta lagi pada tahun berikutnya. Nggak gampang membuat rencana matang sejak satu tahun sebelum eksekusi. Banyak perubahan yang terjadi, baik di atas kertas maupun di lapangan, jadwal sekitarnya yang sekiranya akan mengganggu. Ternyata benar, rencana yang digadang-gadang pada Januari 2015 pupus karena suatu hal. Rencana perjalanan ini pun dialihkan hingga enam bulan kemudian: pasca Lebaran.

Tertanggal 24 Juli 2015, bertepatan hari jumat, gue berangkat menuju Kota Yogyakarta (St. Lempuyangan) dengan Kereta AC Ekonomi Gajahwong dari St. Besar Pasar Senen (Gerbong 4, kursi A1), Jakarta Pusat. Tiket kereta udah gue beli sejak akhir Juni (sebulan sebelumnya).

Gue udah di stasiun sejak jam 06.00 pagi. Ternyata keretanya udah ngetem di peron. Ya udah gue langsung masuk dan nyari tempat duduk gue. Gue bengong aja sampe pukul 06.45 kereta yang gue tumpangi berangkat. Perjalanan sendirian ini bikin gue mesti sabar dan menahan diri untuk nggak beranjak dari tempat duduk untuk ke toilet atau sekadar meluruskan kaki, sampe delapan jam lebih. Pukul 15.10, gue turun dari kereta, menenteng koper dan memanggul sebuah tas ransel yang cukup gede. Bayu udah nungguin gue di depan pintu masuk stasiun. Gue jadi inget, hari jumat juga, di jam yang sama, delapan puluh pekan sebelumnya, gue untuk terakhir kalinya ketemu orang ini :v.

Oke, lanjut. Perjalanan panjang ini bikin gue capek dan laper banget. Gue inget kalo ga salah di deket stasiun Lempuyangan, Jln. Sutomo (sisi selatan Fly Over Lempuyangan) ada kedai yang jadoel banget, namanya Kedai Rakjat Djelata. Dari namanya aja udah kentara banget suasana kedai ini. Jadul banget. Semuanya diatur agar atmosfer Jawa kunonya menguar ke seluruh penjuru kedai ini. Mulai dari makanan, kursi dan meja, interior, hingga peralatan makan dan minum. Cuma satu yang agaknya mengganggu suasana jadulnya: tersedia wifi.

Di sana gue mesen nasi (2500) + ayam bakar (9000) + sate kulit (2500) dengan minum segelas es teh leci (4000). Bayu mesen nasi (2500) + sambel terong (4000) + sambel brambang asem (1000) + oseng sayuran (2500) + mercon bakso (5000) dengan minum sebotol saparela (7000). Sebagai penutup, gue mesen roti bakar strawberry keju (8500) yang penyajiannya unik, yaitu disajikan di atas talenan kayu. Selain itu, rasanya juga enak banget. Gula jawa yang khas dari roti ini juga terasa. Pokoknya cocok deh.



Dari skala 5, gue nilai Kedai Rakjat Djelata ini:
Kebersihan: 4
Rasa: 3,5
Kenyamanan/Suasana: 4
Harga: 3,5
Pelayanan: 3
Rate: 3,6

Sebagai pembuka perjalanan, Kedai Rakjat Djelata udah sukses bikin gue bener-bener sadar bahwa gue ada di Jogja (untuk ke sekian kalinya) :D

Senin, 15 Juni 2015

Di Selasar Masjid

Status: Thinking

Terima kasih untuk Bapak Sugiantoro, yang telah membuat saya berpikir untuk menuliskan apa yang telah kita diskusikan di hari ini.

Hari ini, Senin, 15 Juni 2015, gue berkesempatan kembali mengunjungi SMA Negeri 8 Jakarta, sekolah tercinta, rumah kedua gue selama kurun periode 2009-2012, tempat yang menyebabkan siklus pencernaan gue bergeser dua jam lebih awal dari orang normal (Sarapan: dari jam 07.00 bergeser menjadi jam 05.00, Makan siang: dari jam 12.00 bergeser menjadi jam 10.00, Makan malam: dari jam 19.00 bergeser menjadi jam 17.00), tempat menumpahkan dan mendapatkan segala emosi dan pikiran. Mulai dari kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, hingga cinta (?).

Kunjungan dibuka dengan menyapa lapak soto ayam somad ujang yang ternyata pindah lapak. Awalnya dia jualan di sisi "belakang" sekolah, di atas trotoar. Namun gue ngeliat dia jualan soto ayam di sebuah halaman rumah orang lain. Tapi gak apa-apa, all is ok.

Memasuki gerbang utama sekolah, ngeliat adek-adek angkatan 2016 dan 2017 kelayap-kelayap nyiapin pekan remed. Huhuhuhu. Ah jadi kangen masa-masa empat tahun silam....

Lalu ketemu beberapa guru: Bu Elly, Bu Nanie, Pak Sugiyanto, Pak Wangsa, Pak Bin, Pak Teguh, Bu Sa'adiah, Pak Saepudin, Pak Edi, Bu Desi, Bu Ferry, Pak Sugiantoro, dll.

Gue juga mampir-mampir ke kantin smandel, tapi tutup semua, padahal pengen makan ayam keju :(, yaudah mampir aja deh ke kelas XI IPA B, kelas gue dulu, tahun ajaran 2010-2011. Aroma kelasnya sangat khas, mengingatkan gue akan kenangan yang tersimpan dalam atmosfer kelas ini....

Makan siang gue hari ini di Soto Ayam Somad, bareng beberapa angkatan 2016 dan alumni yang kebetulan lagi mampir juga. Udah langganan anak-anak smandel sih nih tempat, sudah turun temurun huehuehue. Gue pesen nasi soto ayam + ekstra telur + ekstra kulit ayam. Lengkap dengan minuman Es Jesus (Es Jeruk Susu).

Oke itu tadi intronya, sebenarnya yang mau gue tekankan dari postingan-di-bawah-standard ini adalah nasehat Pak Sugiantoro, Guru Fisika gue (walaupun belom pernah diajar beliau), tentang beberapa hal. Beliau menyampaikan itu ketika duduk bareng gue di kursi panjang depan selasar masjid daarul irfan (masjid sekolah gue).

Pertama, tentang kaderisasi. Beliau berpendapat bahwa kaderisasi atau Masa Orientasi Siswa di sekolah dengan metode agitasi, bahkan "ngerjain adek kelas" itu sebenarnya boleh-boleh aja, asalkan esensinya nyata dan tidak dilandaskan oleh emosi dendam dari tahun sebelumnya. Misalnya nyuruh adek kelas ngambil sesuatu di lantai satu dari lantai tiga, dengan kondisi: mata ditutup, atau tangan terikat, atau berjalan ngesot. Semua itu kan beresensi agar kita lebih mensyukuri apa yang kelebihan yang kita punya dibandingkan oleh orang-orang yang kurang beruntung, bukan? (walaupun agak ngerjain sih hehehe)

Kedua, gue menanyakan kepada beliau tentang Kurikulum 2013 yang sedang ngetrend di kalangan insan pendidikan formal. Gue nyeritain tentang murid gue di Bandung yang dikasih PR sama gurunya tapi dasar-dasar teorinya belom dikasih sama gurunya di sekolah. Beliau menanggapi, "Analoginya, gimana jadinya kalo ada beberapa anak yang saya kasih kunci mobil dan mobilnya? Apa yang bakal kamu lakukan? Tentu akan ada anak yang nanya 'ini buat apa pak? gimana caranya pak?', ada juga yang kebingungan, ada juga yang mencari petunjuk di manual book atau internet, dan lain-lain. Sebenarnya saya berharap yang pertama dan ketiga: Bertanya atau mencari tahu. Yah, tapi begini, dari mindset kurikulum sebelumnya atau dari keluarga sang anak, mungkin sudah ada anggapan bahwa yang bertanya adalah yang bodoh, sehingga anak menjadi tertekan. Bertanya menjadi hal yang tabu. Coba kamu bayangkan, di sekolah kita, nilai setiap anak dipajang di mading umum. Gimana gak tertekan anak-anak itu? Dia akan merasa malu, tertekan, hingga akhirnya menutup diri". Namun menghilangkan mindset itu butuh waktu yang tak sedikit, metodenya pun harus tepat. Metode mengapresiasi pun tak cukup.

Ketiga, menyambung dari topik sebelumnya, yakni mengenai passion. Beliau berkomentar bahwa niatkan belajar itu untuk mencari tahu, timbulkan rasa penasaran. Jika itu telah muncul, maka nilai akademik akan mengikuti. Namun jika sebaliknya, yang ada hanyalah beban dalam hati yang akan terus mengganggu jiwa. Anak-anak itu, harus mempunyai jiwa bebas dalam belajar, bukan terikat oleh tuntutan (nilai). Ibarat kata seorang seniman, seorang seniman akan membuat karya seni tanpa menghiraukan apakah karyanya itu akan diapresiasi oleh orang lain atau tidak, berapa nilai jualnya kelak, dia tidak peduli. Dia mengerjakan itu semata-mata karena kepuasan batin semata.

"Orang yang punya passion/minat,", lanjutnya, "akan selalu menghadapi masalah, dan ingin menghadapi masalah. Coba  kamu lihat murid-murid yang punya passion dan yang tidak punya passion. Murid yang punya passion ketika dia menerima masalah (karena punya passion pada masalah tersebut), dia menerimanya dengan senang hati. Mereka banyak bepengalaman dalam mengatasi masalah, berbeda dengan mereka yang tidak punya passion, dia akan selalu lari dari masalah, bagaimana pun caranya".
"Maka dari itu, saya tidak pernah mendo'akan murid saya agar hidupnya selalu lancar tanpa hambatan dan masalah, tapi saya selalu do'akan mereka agar hidupnya selalu menghadapi masalah, dan selalu mempunyai solusi dan jalan keluar bagi masalah tersebut" -Pak Sugiantoro-
Kemudian gue nanya tentang ada murid gue yang dipaksa orang tuanya masuk jurusan tertentu, bagaimana solusinya? Beliau menjawab, "Kalo saya jadi anaknya, saya akan jawab, 'bapak dulu jurusan apa? dipaksa orang tua gak? coba deh, gimana rasanya kalo belajar tapi dipaksa dan gak sesuai dengan minat? Gak enak kan', kalo saya sih begitu".

Kemudian gue kembali bertanya, "Gimana kalo sebaliknya pak? ada orang yang ngebet banget pengen masuk jurusan A, tapi ketika takdirnya di jurusan B, dia malah jeblok nilainya". Beliau menjawab, "Benarkah itu terjadi di kenyataan? Saya khawatir, itu artinya, dia menginginkan jurusan A bukan karena minat dari dalam dirinya, tetapi dari faktor luar. Ada motivasi lain dari luar yang menekannya. Uang misalnya, tuntutan orang tua (seperti kasus sebelumnya), jabatan yang tinggi, dan lain-lain. Passion/minat itu tidak pernah memaksa pemiliknya untuk mengikutinya, tidak pernah menekan. Jadi, jika ada orang yang saking ngebetnya jurusan A dan ketika nggak dapet malah gak semangat, itu namanya bukan minat/passion".

Salam,



Muhammad Iqbal Tawakkal
Bukit Duri, 15 Juni 2015

Sabtu, 13 Juni 2015

Change

Status: Thinking-Sensing

Berubah. Gue ngerasa ada yang berubah. Terutama temen-temen lama gue sih. Mereka berubah. Memang perubahan itu suatu hal yang wajar. Akan tetapi, entah kenapa ya, temen-temen gue berubah menjadi kondisi yang lebih buruk. Iya, lebih buruk. Bukan standar akhir zaman tapi. Bahkan temen-temen deket gue. Masih terasa hangatnya kebersamaan dengan mereka, kekonyolan mereka. Namun semua berubah, ketika semua berpisah di jalan cagak.

Gak nyangka aja sih, perubahan dimensi waktu dan jarak menyebabkan ini terjadi. Seolah-olah jalan yang lurus-lurus adalah benang tipis yang harus dilalui, sebuah simbol dari seleksi alam. Gue gak bilang bahwa gue sok-sokan masih ada di jalan yang lurus, tapi setidaknya, gue punya temen-temen baru yang selalu selected dan selective dalam bergaul. Lingkungan? Mungkin lingkungan bisa jadi kambing hitam balibul yang empuk untuk dimangsa. Akan tetapi, tetep aja, lingkungan nggak memilih orang, tapi oranglah yang memilih lingkungan. Jadi, kalo ada orang yang menyalahkan lingkungan atas terpengaruhnya seseorang, itu adalah salah, menurut saya.

Misalnya, ada temen deket gue yang tau-tau udah jadi pembalap, lalu jadi DJ.

Ada juga yang tadinya anti-pacaran, anak rohis pula, tau-tau ketika masuk kuliah, langsung jadian.

Ada lagi yang awalnya mikir anti-rokok, lalu ikut-ikutan ngerokok.

Menurut lo, itu kenapa kira-kira? Salah siapa? Salah lingkungan yang mempengaruhikah? Salah diri sendiri yang "salah gaul" kah? Salah orang tua yang kurang ngawasin kah? Salah temen-temennya yang gak jagainkah? Mungkin jika pembaca merasa tesindir, akan menjawab dua kemungkinan: 1) salah semua pihak, atau 2) gak salah siapa-siapa, perubahan itu alami.

Gue sadar, kita ini semacam anak muda (terlalu tua untuk disebut "anak" sebenarnya), yang akan menerima apapun yang akan dilemparkan kepadanya demi pembangunan jati dirinya yang belum sempurna. Akan tetapi, sikap selektif dalam bergaul itu penting. Jati diri lo terbuat dari apa, tergantung dengan siapa lo bergaul dan bagaimana lo menjaga diri lo. Jati diri lo terbuat dari apa, akan mempengaruhi masa depan lo, anak/istri/suami lo kayak apa nantinya, ditentukan oleh lo mulai dari sekarang. Mikir gak sih?

"Ya elah, namanya juga anak muda, nanti kalo udah nikah gue bakal berubah kok"
Gue sama sekali gak yakin akan hal itu. Ketidakpercayaan gue itu seperti resolusi tahun baru yang tiap tahun dilakukan dengan omdo-omdo tak terarah.

Miris lho ngeliat temen-temen lama gue begini berubahnya. Rasanya ingin gue kumpulin, lalu ajak ngobrol mereka satu per satu, dengan pertanyaan yang sesederhana "Kenapa lo jadi begini?", dan gue gak ngerasa mengenal mereka lagi, jika jawaban mereka tidak memuaskan.

Lo tau? Semua tulisan ini hanya akan berakhir pada suatu kalimat oang yang ingin kefuturannya ditoleransi, dan ini cara paling awam untuk kabur dari sebuah diskusi,

"Semua orang beda-beda bal"

Sekian.

Teknik Presentasi

Status: Thinking - Sensing

Awal Juni ini, gue mau ngasih beberapa tips buat orang-orang yang akan dan sedang presentasi. Sejauh mata memandang, gue ngeliat beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh presenter, terutama mahasiswa, yang terkadang tidak tahu etika dan menganggap presentasi itu hanya formalitas tanpa pertanggungjawaban secara detil. Sepele sih, tapi akan muncul kesan tersendiri bagi penonton.

1. Berpakaianlah sebaik mungkin.
Cobalah perhatikan penampilan. Penampilan yang sesuai dapat meningkatkan kepercayaan diri. Pakailah pakaian yang rapi, dan lebih formal (namun jangan terlalu formal). Kenakanlah kemeja dan celana bahan, serta sepatu tertutup. Sebagai mahasiswa, walaupun diantara penonton hanya ada satu dosen, tidak memperhatikan penampilan diri sama saja tidak menghormati dosen lho.

2. Pasang ekspresi senormal dan sepercaya diri mungkin.
Saya seing mendapati mahasiswa dalam membawakan presentasi dengan ekspresi yang kurang meyakinkan. Bahkan sales obat keliling masih lebih baik dalam meyakinkan penyimaknya. Pasanglah senyum yang simetris, jangan mengalihkan pandangan terus-menerus ketika ditanya dan menerangkan. Presenter yang tidak dapat percaya pada dirinya hanya akan meninabobokan penonton.

3. Jadikan power point / prezi sebagai bantuan, bukan acuan.
Salah satu kejanggalan yang paling sering dilakukan presenter ketika melakukan presentasi: diperbudak operator komputer. Arah pembicaraan presenter sering kali dikendalikan oleh apa yang ditampilkan oleh slide power point / prezi, bukan apa yang dibicarakan presenter. Bahkan sering kali jika mahasiswa atau pelajar melakukan presentasi, membaca slide adalah hal yang wajar. Seharusnya, slide hanya memberikan visualisasi dari apa yang akan dijelaskan oleh presenter. Selain itu, sering kali presenter membawa secarik kertas atau membawa tab ketika di atas panggung. Cobalah untuk membuat slide yang berisi hanya judul dan gambar yang dapat membantu saja. Jangan menuliskan penjelasan di slide. Gunakan mindset "ini retorika/story telling".

4. Jangan menggunakan kata-kata tertentu yang membuat anda tidak meyakinkan.
Kunci dari presentasi adalah kepercayaan diri. Kepercayaan diri itu bukan sifat genetis, melainkan sifat mental yang akan tumbuh pada saat tertentu. Latihlah. Dalam presentasi, salah satu ciri orang yang tidak percaya diri / tidak paham materi presentasi adalah orang yang sering melontarkan kata-kata "dan lain-lain", "kira-kira seperti itu", serta intonasi suara yang tidak cocok ketika mengakhiri dan memulai kalimat. Dua frasa dalam tanda kutip tadi, sebagian besar orang, hanya digunakan dalam menutupi ketidaktahuannya serta ketidakpahamannya dalam memberikan penjelasan materi yang dibawakannya.

Sekian dulu, sori jika tulisannya terkesan "kejar setoran".