Jumat, 24 Juli 2015,
Ada sebuah rencana yang gue telah buat semenjak gue meninggalkan Kota Yogyakata tanggal 10 Januari 2014 lalu pada The Lone-Greget Journey: Semarang-Yogyakarta II. Rencana itu berupa rencana mengunjungi kota Yogyakarta lagi pada tahun berikutnya. Nggak gampang membuat rencana matang sejak satu tahun sebelum eksekusi. Banyak perubahan yang terjadi, baik di atas kertas maupun di lapangan, jadwal sekitarnya yang sekiranya akan mengganggu. Ternyata benar, rencana yang digadang-gadang pada Januari 2015 pupus karena suatu hal. Rencana perjalanan ini pun dialihkan hingga enam bulan kemudian: pasca Lebaran.
Tertanggal 24 Juli 2015, bertepatan hari jumat, gue berangkat menuju Kota Yogyakarta (St. Lempuyangan) dengan Kereta AC Ekonomi Gajahwong dari St. Besar Pasar Senen (Gerbong 4, kursi A1), Jakarta Pusat. Tiket kereta udah gue beli sejak akhir Juni (sebulan sebelumnya).
Gue udah di stasiun sejak jam 06.00 pagi. Ternyata keretanya udah ngetem di peron. Ya udah gue langsung masuk dan nyari tempat duduk gue. Gue bengong aja sampe pukul 06.45 kereta yang gue tumpangi berangkat. Perjalanan sendirian ini bikin gue mesti sabar dan menahan diri untuk nggak beranjak dari tempat duduk untuk ke toilet atau sekadar meluruskan kaki, sampe delapan jam lebih. Pukul 15.10, gue turun dari kereta, menenteng koper dan memanggul sebuah tas ransel yang cukup gede. Bayu udah nungguin gue di depan pintu masuk stasiun. Gue jadi inget, hari jumat juga, di jam yang sama, delapan puluh pekan sebelumnya, gue untuk terakhir kalinya ketemu orang ini :v.
Oke, lanjut. Perjalanan panjang ini bikin gue capek dan laper banget. Gue inget kalo ga salah di deket stasiun Lempuyangan, Jln. Sutomo (sisi selatan Fly Over Lempuyangan) ada kedai yang jadoel banget, namanya Kedai Rakjat Djelata. Dari namanya aja udah kentara banget suasana kedai ini. Jadul banget. Semuanya diatur agar atmosfer Jawa kunonya menguar ke seluruh penjuru kedai ini. Mulai dari makanan, kursi dan meja, interior, hingga peralatan makan dan minum. Cuma satu yang agaknya mengganggu suasana jadulnya: tersedia wifi.
Di sana gue mesen nasi (2500) + ayam bakar (9000) + sate kulit (2500) dengan minum segelas es teh leci (4000). Bayu mesen nasi (2500) + sambel terong (4000) + sambel brambang asem (1000) + oseng sayuran (2500) + mercon bakso (5000) dengan minum sebotol saparela (7000). Sebagai penutup, gue mesen roti bakar strawberry keju (8500) yang penyajiannya unik, yaitu disajikan di atas talenan kayu. Selain itu, rasanya juga enak banget. Gula jawa yang khas dari roti ini juga terasa. Pokoknya cocok deh.
Dari skala 5, gue nilai Kedai Rakjat Djelata ini:
Kebersihan: 4
Rasa: 3,5
Kenyamanan/Suasana: 4
Harga: 3,5
Pelayanan: 3
Rate: 3,6
Sebagai pembuka perjalanan, Kedai Rakjat Djelata udah sukses bikin gue bener-bener sadar bahwa gue ada di Jogja (untuk ke sekian kalinya) :D
Total Tayangan Halaman
Minggu, 02 Agustus 2015
Senin, 15 Juni 2015
Di Selasar Masjid
Status: Thinking
Terima kasih untuk Bapak Sugiantoro, yang telah membuat saya berpikir untuk menuliskan apa yang telah kita diskusikan di hari ini.
Terima kasih untuk Bapak Sugiantoro, yang telah membuat saya berpikir untuk menuliskan apa yang telah kita diskusikan di hari ini.
Hari ini, Senin, 15 Juni 2015, gue berkesempatan kembali mengunjungi SMA Negeri 8 Jakarta, sekolah tercinta, rumah kedua gue selama kurun periode 2009-2012, tempat yang menyebabkan siklus pencernaan gue bergeser dua jam lebih awal dari orang normal (Sarapan: dari jam 07.00 bergeser menjadi jam 05.00, Makan siang: dari jam 12.00 bergeser menjadi jam 10.00, Makan malam: dari jam 19.00 bergeser menjadi jam 17.00), tempat menumpahkan dan mendapatkan segala emosi dan pikiran. Mulai dari kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, hingga cinta (?).
Kunjungan dibuka dengan menyapa lapak soto ayam somad ujang yang ternyata pindah lapak. Awalnya dia jualan di sisi "belakang" sekolah, di atas trotoar. Namun gue ngeliat dia jualan soto ayam di sebuah halaman rumah orang lain. Tapi gak apa-apa, all is ok.
Memasuki gerbang utama sekolah, ngeliat adek-adek angkatan 2016 dan 2017 kelayap-kelayap nyiapin pekan remed. Huhuhuhu. Ah jadi kangen masa-masa empat tahun silam....
Lalu ketemu beberapa guru: Bu Elly, Bu Nanie, Pak Sugiyanto, Pak Wangsa, Pak Bin, Pak Teguh, Bu Sa'adiah, Pak Saepudin, Pak Edi, Bu Desi, Bu Ferry, Pak Sugiantoro, dll.
Gue juga mampir-mampir ke kantin smandel, tapi tutup semua, padahal pengen makan ayam keju :(, yaudah mampir aja deh ke kelas XI IPA B, kelas gue dulu, tahun ajaran 2010-2011. Aroma kelasnya sangat khas, mengingatkan gue akan kenangan yang tersimpan dalam atmosfer kelas ini....
Makan siang gue hari ini di Soto Ayam Somad, bareng beberapa angkatan 2016 dan alumni yang kebetulan lagi mampir juga. Udah langganan anak-anak smandel sih nih tempat, sudah turun temurun huehuehue. Gue pesen nasi soto ayam + ekstra telur + ekstra kulit ayam. Lengkap dengan minuman Es Jesus (Es Jeruk Susu).
Oke itu tadi intronya, sebenarnya yang mau gue tekankan dari postingan-di-bawah-standard ini adalah nasehat Pak Sugiantoro, Guru Fisika gue (walaupun belom pernah diajar beliau), tentang beberapa hal. Beliau menyampaikan itu ketika duduk bareng gue di kursi panjang depan selasar masjid daarul irfan (masjid sekolah gue).
Pertama, tentang kaderisasi. Beliau berpendapat bahwa kaderisasi atau Masa Orientasi Siswa di sekolah dengan metode agitasi, bahkan "ngerjain adek kelas" itu sebenarnya boleh-boleh aja, asalkan esensinya nyata dan tidak dilandaskan oleh emosi dendam dari tahun sebelumnya. Misalnya nyuruh adek kelas ngambil sesuatu di lantai satu dari lantai tiga, dengan kondisi: mata ditutup, atau tangan terikat, atau berjalan ngesot. Semua itu kan beresensi agar kita lebih mensyukuri apa yang kelebihan yang kita punya dibandingkan oleh orang-orang yang kurang beruntung, bukan? (walaupun agak ngerjain sih hehehe)
Kedua, gue menanyakan kepada beliau tentang Kurikulum 2013 yang sedang ngetrend di kalangan insan pendidikan formal. Gue nyeritain tentang murid gue di Bandung yang dikasih PR sama gurunya tapi dasar-dasar teorinya belom dikasih sama gurunya di sekolah. Beliau menanggapi, "Analoginya, gimana jadinya kalo ada beberapa anak yang saya kasih kunci mobil dan mobilnya? Apa yang bakal kamu lakukan? Tentu akan ada anak yang nanya 'ini buat apa pak? gimana caranya pak?', ada juga yang kebingungan, ada juga yang mencari petunjuk di manual book atau internet, dan lain-lain. Sebenarnya saya berharap yang pertama dan ketiga: Bertanya atau mencari tahu. Yah, tapi begini, dari mindset kurikulum sebelumnya atau dari keluarga sang anak, mungkin sudah ada anggapan bahwa yang bertanya adalah yang bodoh, sehingga anak menjadi tertekan. Bertanya menjadi hal yang tabu. Coba kamu bayangkan, di sekolah kita, nilai setiap anak dipajang di mading umum. Gimana gak tertekan anak-anak itu? Dia akan merasa malu, tertekan, hingga akhirnya menutup diri". Namun menghilangkan mindset itu butuh waktu yang tak sedikit, metodenya pun harus tepat. Metode mengapresiasi pun tak cukup.
Ketiga, menyambung dari topik sebelumnya, yakni mengenai passion. Beliau berkomentar bahwa niatkan belajar itu untuk mencari tahu, timbulkan rasa penasaran. Jika itu telah muncul, maka nilai akademik akan mengikuti. Namun jika sebaliknya, yang ada hanyalah beban dalam hati yang akan terus mengganggu jiwa. Anak-anak itu, harus mempunyai jiwa bebas dalam belajar, bukan terikat oleh tuntutan (nilai). Ibarat kata seorang seniman, seorang seniman akan membuat karya seni tanpa menghiraukan apakah karyanya itu akan diapresiasi oleh orang lain atau tidak, berapa nilai jualnya kelak, dia tidak peduli. Dia mengerjakan itu semata-mata karena kepuasan batin semata.
"Orang yang punya passion/minat,", lanjutnya, "akan selalu menghadapi masalah, dan ingin menghadapi masalah. Coba kamu lihat murid-murid yang punya passion dan yang tidak punya passion. Murid yang punya passion ketika dia menerima masalah (karena punya passion pada masalah tersebut), dia menerimanya dengan senang hati. Mereka banyak bepengalaman dalam mengatasi masalah, berbeda dengan mereka yang tidak punya passion, dia akan selalu lari dari masalah, bagaimana pun caranya".
"Maka dari itu, saya tidak pernah mendo'akan murid saya agar hidupnya selalu lancar tanpa hambatan dan masalah, tapi saya selalu do'akan mereka agar hidupnya selalu menghadapi masalah, dan selalu mempunyai solusi dan jalan keluar bagi masalah tersebut" -Pak Sugiantoro-Kemudian gue nanya tentang ada murid gue yang dipaksa orang tuanya masuk jurusan tertentu, bagaimana solusinya? Beliau menjawab, "Kalo saya jadi anaknya, saya akan jawab, 'bapak dulu jurusan apa? dipaksa orang tua gak? coba deh, gimana rasanya kalo belajar tapi dipaksa dan gak sesuai dengan minat? Gak enak kan', kalo saya sih begitu".
Kemudian gue kembali bertanya, "Gimana kalo sebaliknya pak? ada orang yang ngebet banget pengen masuk jurusan A, tapi ketika takdirnya di jurusan B, dia malah jeblok nilainya". Beliau menjawab, "Benarkah itu terjadi di kenyataan? Saya khawatir, itu artinya, dia menginginkan jurusan A bukan karena minat dari dalam dirinya, tetapi dari faktor luar. Ada motivasi lain dari luar yang menekannya. Uang misalnya, tuntutan orang tua (seperti kasus sebelumnya), jabatan yang tinggi, dan lain-lain. Passion/minat itu tidak pernah memaksa pemiliknya untuk mengikutinya, tidak pernah menekan. Jadi, jika ada orang yang saking ngebetnya jurusan A dan ketika nggak dapet malah gak semangat, itu namanya bukan minat/passion".
Salam,
Muhammad Iqbal Tawakkal
Bukit Duri, 15 Juni 2015
Sabtu, 13 Juni 2015
Change
Status: Thinking-Sensing
Berubah. Gue ngerasa ada yang berubah. Terutama temen-temen lama gue sih. Mereka berubah. Memang perubahan itu suatu hal yang wajar. Akan tetapi, entah kenapa ya, temen-temen gue berubah menjadi kondisi yang lebih buruk. Iya, lebih buruk. Bukan standar akhir zaman tapi. Bahkan temen-temen deket gue. Masih terasa hangatnya kebersamaan dengan mereka, kekonyolan mereka. Namun semua berubah, ketika semua berpisah di jalan cagak.
Berubah. Gue ngerasa ada yang berubah. Terutama temen-temen lama gue sih. Mereka berubah. Memang perubahan itu suatu hal yang wajar. Akan tetapi, entah kenapa ya, temen-temen gue berubah menjadi kondisi yang lebih buruk. Iya, lebih buruk. Bukan standar akhir zaman tapi. Bahkan temen-temen deket gue. Masih terasa hangatnya kebersamaan dengan mereka, kekonyolan mereka. Namun semua berubah, ketika semua berpisah di jalan cagak.
Gak nyangka aja sih, perubahan dimensi waktu dan jarak menyebabkan ini terjadi. Seolah-olah jalan yang lurus-lurus adalah benang tipis yang harus dilalui, sebuah simbol dari seleksi alam. Gue gak bilang bahwa gue sok-sokan masih ada di jalan yang lurus, tapi setidaknya, gue punya temen-temen baru yang selalu selected dan selective dalam bergaul. Lingkungan? Mungkin lingkungan bisa jadi kambing hitam balibul yang empuk untuk dimangsa. Akan tetapi, tetep aja, lingkungan nggak memilih orang, tapi oranglah yang memilih lingkungan. Jadi, kalo ada orang yang menyalahkan lingkungan atas terpengaruhnya seseorang, itu adalah salah, menurut saya.
Misalnya, ada temen deket gue yang tau-tau udah jadi pembalap, lalu jadi DJ.
Ada juga yang tadinya anti-pacaran, anak rohis pula, tau-tau ketika masuk kuliah, langsung jadian.
Ada lagi yang awalnya mikir anti-rokok, lalu ikut-ikutan ngerokok.
Menurut lo, itu kenapa kira-kira? Salah siapa? Salah lingkungan yang mempengaruhikah? Salah diri sendiri yang "salah gaul" kah? Salah orang tua yang kurang ngawasin kah? Salah temen-temennya yang gak jagainkah? Mungkin jika pembaca merasa tesindir, akan menjawab dua kemungkinan: 1) salah semua pihak, atau 2) gak salah siapa-siapa, perubahan itu alami.
Gue sadar, kita ini semacam anak muda (terlalu tua untuk disebut "anak" sebenarnya), yang akan menerima apapun yang akan dilemparkan kepadanya demi pembangunan jati dirinya yang belum sempurna. Akan tetapi, sikap selektif dalam bergaul itu penting. Jati diri lo terbuat dari apa, tergantung dengan siapa lo bergaul dan bagaimana lo menjaga diri lo. Jati diri lo terbuat dari apa, akan mempengaruhi masa depan lo, anak/istri/suami lo kayak apa nantinya, ditentukan oleh lo mulai dari sekarang. Mikir gak sih?
"Ya elah, namanya juga anak muda, nanti kalo udah nikah gue bakal berubah kok"
Gue sama sekali gak yakin akan hal itu. Ketidakpercayaan gue itu seperti resolusi tahun baru yang tiap tahun dilakukan dengan omdo-omdo tak terarah.
Miris lho ngeliat temen-temen lama gue begini berubahnya. Rasanya ingin gue kumpulin, lalu ajak ngobrol mereka satu per satu, dengan pertanyaan yang sesederhana "Kenapa lo jadi begini?", dan gue gak ngerasa mengenal mereka lagi, jika jawaban mereka tidak memuaskan.
Lo tau? Semua tulisan ini hanya akan berakhir pada suatu kalimat oang yang ingin kefuturannya ditoleransi, dan ini cara paling awam untuk kabur dari sebuah diskusi,
"Semua orang beda-beda bal"
Sekian.
Teknik Presentasi
Status: Thinking - Sensing
Awal Juni ini, gue mau ngasih beberapa tips buat orang-orang yang akan dan sedang presentasi. Sejauh mata memandang, gue ngeliat beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh presenter, terutama mahasiswa, yang terkadang tidak tahu etika dan menganggap presentasi itu hanya formalitas tanpa pertanggungjawaban secara detil. Sepele sih, tapi akan muncul kesan tersendiri bagi penonton.
Awal Juni ini, gue mau ngasih beberapa tips buat orang-orang yang akan dan sedang presentasi. Sejauh mata memandang, gue ngeliat beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh presenter, terutama mahasiswa, yang terkadang tidak tahu etika dan menganggap presentasi itu hanya formalitas tanpa pertanggungjawaban secara detil. Sepele sih, tapi akan muncul kesan tersendiri bagi penonton.
1. Berpakaianlah sebaik mungkin.
Cobalah perhatikan penampilan. Penampilan yang sesuai dapat meningkatkan kepercayaan diri. Pakailah pakaian yang rapi, dan lebih formal (namun jangan terlalu formal). Kenakanlah kemeja dan celana bahan, serta sepatu tertutup. Sebagai mahasiswa, walaupun diantara penonton hanya ada satu dosen, tidak memperhatikan penampilan diri sama saja tidak menghormati dosen lho.
2. Pasang ekspresi senormal dan sepercaya diri mungkin.
Saya seing mendapati mahasiswa dalam membawakan presentasi dengan ekspresi yang kurang meyakinkan. Bahkan sales obat keliling masih lebih baik dalam meyakinkan penyimaknya. Pasanglah senyum yang simetris, jangan mengalihkan pandangan terus-menerus ketika ditanya dan menerangkan. Presenter yang tidak dapat percaya pada dirinya hanya akan meninabobokan penonton.
3. Jadikan power point / prezi sebagai bantuan, bukan acuan.
Salah satu kejanggalan yang paling sering dilakukan presenter ketika melakukan presentasi: diperbudak operator komputer. Arah pembicaraan presenter sering kali dikendalikan oleh apa yang ditampilkan oleh slide power point / prezi, bukan apa yang dibicarakan presenter. Bahkan sering kali jika mahasiswa atau pelajar melakukan presentasi, membaca slide adalah hal yang wajar. Seharusnya, slide hanya memberikan visualisasi dari apa yang akan dijelaskan oleh presenter. Selain itu, sering kali presenter membawa secarik kertas atau membawa tab ketika di atas panggung. Cobalah untuk membuat slide yang berisi hanya judul dan gambar yang dapat membantu saja. Jangan menuliskan penjelasan di slide. Gunakan mindset "ini retorika/story telling".
4. Jangan menggunakan kata-kata tertentu yang membuat anda tidak meyakinkan.
Kunci dari presentasi adalah kepercayaan diri. Kepercayaan diri itu bukan sifat genetis, melainkan sifat mental yang akan tumbuh pada saat tertentu. Latihlah. Dalam presentasi, salah satu ciri orang yang tidak percaya diri / tidak paham materi presentasi adalah orang yang sering melontarkan kata-kata "dan lain-lain", "kira-kira seperti itu", serta intonasi suara yang tidak cocok ketika mengakhiri dan memulai kalimat. Dua frasa dalam tanda kutip tadi, sebagian besar orang, hanya digunakan dalam menutupi ketidaktahuannya serta ketidakpahamannya dalam memberikan penjelasan materi yang dibawakannya.
Sekian dulu, sori jika tulisannya terkesan "kejar setoran".
Sabtu, 30 Mei 2015
Inelastisitas Waktu
Status: Thinking - Judging
Jam ngaret, adalah suatu istilah umum yang digunakan orang Indonesia kepada suatu kondisi dimana agenda yang dijadwalkan berjalan terlambat. Dari anak-anak, remaja, hingga dewasa, banyak yang menganut paham indispliner ini. Tak cuma pelajar dan pengangguran, bahkan pejabat penting pun banyak yang tak sensitif terhadap ketepatan waktu. Sebenarnya apa yang menyebabkan mereka tidak tepat waktu? Secara garis besar, dari pengalaman, saya mengelompokkannya menjadi dua sebab: ketidaksadaran dan individualisme.
Jam ngaret, adalah suatu istilah umum yang digunakan orang Indonesia kepada suatu kondisi dimana agenda yang dijadwalkan berjalan terlambat. Dari anak-anak, remaja, hingga dewasa, banyak yang menganut paham indispliner ini. Tak cuma pelajar dan pengangguran, bahkan pejabat penting pun banyak yang tak sensitif terhadap ketepatan waktu. Sebenarnya apa yang menyebabkan mereka tidak tepat waktu? Secara garis besar, dari pengalaman, saya mengelompokkannya menjadi dua sebab: ketidaksadaran dan individualisme.
1. "Kenapa gue telat? hahaha, emang sengaja. Emang gue di agenda ini sebagai apa? gak penting-penting amat, jadi gak masalah kan?"
Itu adalah pengakuan pertama mengapa seseorang telat: Kurang dianggap penting dalam agenda itu. Kalau bahasa hiperboliknya "saya hanya ampas tahu yang bercampur keringat pembuatnya". Salah satu sebabnya adalah karena dalam agenda tersebut, telalu banyak orang yang terlibat, sehingga ia merasa hanya satu dari sekian banyak orang yang diundang ke agenda tersebut. Ia merasa kehadirannya dan ketidakhadirannya tidak akan berdampak apa-apa dalam agenda tersebut. Rendah hati itu bagus, rendah diri itu kurang bagus, namun merasa sekecil debu sehingga kesalahannya tidak akan dianggap fatal adalah suatu kesalahan.
2. "Orang lain lebih butuh gue daripada gue butuh dia"
Alkisah....
A: "Gue minjem kalkulator dong besok jam 6.30, gue ujian jam 07.00 dan kalkulator gue ilang. Ketemu di tempat X ya"
B: "ya"
*esoknya*
*B baru datang ke tempat perjanjian 6.45*.
A: "Kok lo telat sih?"
B: "Lo ini ye, udah minjem, protes pula. Masih untung gue kasih"
Sikap B menunjukkan bahwa ia tidak peduli dengan nasib A. Tidak ikhlas membantu. B merasa bahwa A lebih butuh dia daripada sebaliknya, sehingga B merasa bisa sewenang-wenang dalam mengambil keputusan (telat atau tepat waktu). Hal semacam ini juga sering terjadi pada pembicara-pembicara seminar yang sering datang telat dari perjanjian antara dia dan panitia acara.
3. "Agenda tidak penting buat saya"
Mungkin orang yang telat itu merasa agendanya tidak penting dan tidak menyenangkan (serta tanpa tekanan), maka dari itu langkahnya dari rumah ke tempat perjanjian pun sesuai dengan niat dalam hatinya. Misalkan sekolah mengadakan study tour ke luar kota. Orang yang gak terlalu niat cenderung bakal melambatkan dirinya dalam bersiap-siap dan melangkah.
Jangankan ketika ia sibuk (memprioritaskan hal lain), ketika ia lowong pun, jika tidak niat, jangan berharap bisa datang on time.
4. "Selow mah sama temen sendiri, paling ditungguin"
Kekeluargaan! Ah ya, itu suatu nilai yang dapat menjadi bumerang bagi suatu kelompok. Rasa nyaman satu sama lain dalam suatu kelompok pertemanan, hingga akhirnya mereka pun nyaman berbuat kesalahan kepada "keluarganya" yang tidak bisa ia perbuat dengan orang lain seenaknya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Salah satunya adalah disiplin waktu. Ya, terkadang teman jadi makhluk yang sangat pemaaf untuk segala kondisi-kondisi remeh (salah satunya adalah ketepatan waktu). Bukan tidak mungkin janjian jalan-jalan dengan kawan-kawan anda yang dijadwalkan berangkat pukul 07.00, baru full team pukul 11.30 tanpa rasa resah sedikitpun.
5. Udah kebiasaan, susah diubah.
Alasan klasik nan fatal, tak perlu dijelaskan.
6. Kesiangan.
Alasan klasik nan kadaluarsa, pikirkan sendiri.
Sekian, maaf kalau kata-katanya tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dengan benar. Kalo ada tambahan lain, nanti saya edit (kapan-kapan).
Terima kasih.
Sabtu, 16 Mei 2015
TeSIS 2010: Sebuah Bekal
Status: Feeling - Sensing
Salah satu pengalaman hidup paling tak-terlupakan dalam hidup saya adalah Temu Sosial dan Ilmiah Smandel (TeSIS) yang rutin dilaksanakan oleh SMA Negeri 8 Jakarta. Kegiatan berupa penelitian ke desa terpencil serta membuat karya tulisnya dan dipaparkan dalam sebuah sidang merupakan, menurut saya, suatu pembelajaran yang tak-ternilai harganya. Agenda ini merupakan agenda yang cukup besar bagi sekolah kami, meskipun "hanya" masuk menjadi nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya dan teman-teman angkatan 2012 lainnya mengalami kegiatan ini pada tahun 2010, yang kali ini diadakan di desa Situraja Utara, Kabupaten Sumedang sebuah desa berjarak 14 km dari Kota Sumedang, atau 59 km dari kota Bandung, Jawa Barat. TeSIS 2010 ini diadakan pada hari Kamis, 14 Oktober 2010 selama tiga hari dua malam, hingga Sabtu, 16 Oktober 2010.
Salah satu pengalaman hidup paling tak-terlupakan dalam hidup saya adalah Temu Sosial dan Ilmiah Smandel (TeSIS) yang rutin dilaksanakan oleh SMA Negeri 8 Jakarta. Kegiatan berupa penelitian ke desa terpencil serta membuat karya tulisnya dan dipaparkan dalam sebuah sidang merupakan, menurut saya, suatu pembelajaran yang tak-ternilai harganya. Agenda ini merupakan agenda yang cukup besar bagi sekolah kami, meskipun "hanya" masuk menjadi nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya dan teman-teman angkatan 2012 lainnya mengalami kegiatan ini pada tahun 2010, yang kali ini diadakan di desa Situraja Utara, Kabupaten Sumedang sebuah desa berjarak 14 km dari Kota Sumedang, atau 59 km dari kota Bandung, Jawa Barat. TeSIS 2010 ini diadakan pada hari Kamis, 14 Oktober 2010 selama tiga hari dua malam, hingga Sabtu, 16 Oktober 2010.
Dalam pekerjaan ini, saya ditempatkan di kelompok 5, dari total ada 42 kelompok yang menampung 419 orang. Jadi satu kelompok terdiri dari 10 murid. Anggota kelompok 5, selain saya, antara lain: Aris Prianto, Haidar, Richard Handoko Damanik, Adistya Devvira Avviantari, Inas Amirah Hanan, Bilgis Biladi, Ardhila Aida Nirmala, R.R. Miranda Mutia, dan Angginta Ramdani Ibrahim. Dari kami bersepuluh, terpilih Aris Prianto sebagai ketua kelompok kami. Kami semua berasal dari kelas yang sama, yakni kelas XI IPA B. Sejak seminggu sebelum keberangkatan, setiap kelompok diminta untuk menentukan tema atau topik dari penelitian yang akan dilakukan di Desa Situraja Utara. Tema yang diajukan boleh dalam lingkup IPA (alam) maupun IPS (sosial), tidak harus sesuai dengan kelompok kelasnya. Kelompok 5 memilih topik mengenai Gambaran Kegiatan Remaja Desa Situraja Utara Dalam Rangka Mengisi Waktu Luang, sebuah topik, yang menurus saya, tidak sulit untuk dibayangkan, teknik penelitian maupun objek yang akan diuji.
Kamis, 14 Oktober 2010, 06.00 pagi, kami seangkatan berkumpul di lapangan SMA Negeri 8 Jakarta untuk apel pagi menjelang keberangkatan ke Desa Situraja Utara. Ada yang hanya membawa ransel kecil, ransel besar, bahkan ada yang membawa koper untuk menampung semua keperluannya dalam 3 hari dua malam. Saya termasuk golongan yang membawa koper dan ransel (saya bukan orang yang pandai dan berpengalaman dalam berpergian). Pembukaan (apel pagi) dibuka dengan kata sambutan dari Kepala SMAN 8 Jakarta saat itu, Pak Nanang Gunadi serta kepala komite.
Pukul 08.00 pagi, beberapa bus yang diparkir di lapangan parkir bengkel kereta PT. KAI mulai berangkat membawa kami, para siswa dan guru serta staff (panitia). Perjalanan yang panjang melalui jalan tol, dari Cawang hingga Cileunyi, Kab. Bandung. Istirahat tercatat dua kali: di KM. 57 (Kab. Karawang), serta di Universitas Padjadjaran (Jatinangor, Kab. Sumedang). Pukul 11.50, setelah perjalanan empat jam, kami sampai di Alun-Alun Desa Situraja. Kami disambut oleh warga, dikumpulkan di alun-alun. Saat itu, adzan dzuhur tepat berkumandang dari Masjid Besar Situraja, di sebelah Alun-Alun.
Kamis, 14 Oktober 2010, 06.00 pagi, kami seangkatan berkumpul di lapangan SMA Negeri 8 Jakarta untuk apel pagi menjelang keberangkatan ke Desa Situraja Utara. Ada yang hanya membawa ransel kecil, ransel besar, bahkan ada yang membawa koper untuk menampung semua keperluannya dalam 3 hari dua malam. Saya termasuk golongan yang membawa koper dan ransel (saya bukan orang yang pandai dan berpengalaman dalam berpergian). Pembukaan (apel pagi) dibuka dengan kata sambutan dari Kepala SMAN 8 Jakarta saat itu, Pak Nanang Gunadi serta kepala komite.
Pukul 08.00 pagi, beberapa bus yang diparkir di lapangan parkir bengkel kereta PT. KAI mulai berangkat membawa kami, para siswa dan guru serta staff (panitia). Perjalanan yang panjang melalui jalan tol, dari Cawang hingga Cileunyi, Kab. Bandung. Istirahat tercatat dua kali: di KM. 57 (Kab. Karawang), serta di Universitas Padjadjaran (Jatinangor, Kab. Sumedang). Pukul 11.50, setelah perjalanan empat jam, kami sampai di Alun-Alun Desa Situraja. Kami disambut oleh warga, dikumpulkan di alun-alun. Saat itu, adzan dzuhur tepat berkumandang dari Masjid Besar Situraja, di sebelah Alun-Alun.
Patok Penanda Jarak di depan Alun-Alun Situraja: 59 km dari Bandung, 14 km dari Sumedang, dan 28 km dari Cilengkrang.
Selepas shalat dzuhur berjama'ah di Masjid Besar Situraja, peserta diarahkan untuk memasuki sebuah jalanan berbatu di seberang alun-alun. Di sana, sepanjang jalan itu, tarian khas daerah setempat yang dilakoni anak-anak menggiring kami kepada suatu rumah yang penuh dengan penduduk. Mereka adalah "orang tua asuh" kami selama dua malam ke depan. Setiap warga di sana membawa tongkat rotan dengan kertas di ujungnya bertuliskan nama kelompok, sebagai menanda bahwa dialah orang tua asuh dari kelompok tersebut. Kami, kelompok 5, seperti yang telah kami ketahui sejak pembekalan di Jakarta, mendapat orang tua asuh bernama Bapak Asep Taris. Beliau diwakilkan oleh istinya untuk menjemput kami. Kami kemudian berjalan kaki, menuju rumah beliau. Jauh juga ternyata. Di tengah jalan, kami bahkan menyetop mobil bak terbuka untuk kami tumpangi. Untung saja dibolehkan.
Kelompok 5 selfie di mobil bak terbuka
Akhirnya sampai juga. Rumah Bapak Asep Taris ternyata berada persis di pinggir jalan raya Sumedang-Wado-Malangbong, sekitar 1 km dari Alun-Alun Situraja. Kami membagi rumah. Pria di rumah Bapak Asep Taris, dan Wanita di rumah sebelahnya (juga kerabat Bapak Asep Taris). Bu Iin Mutmainnah, mentor kelompok kami dalam TeSIS 2010 ini, juga ditempatkan bersama para wanita di rumah tersebut.
Pada malam harinya, di seketariat panitia (menggunakan semacam aula/ruang serba guna) diadakan briefing tutor dan pengarahan kepada masing-masing ketua kelompok. Anggota kelompok yang menemani kebanyakan hanya menunggu di luar sekretariat. Sepulang dari tempat itu, kami bergadang bersama mentor di ruang tamu tempat wanita kelompok 5 menginap untuk menyepakati apa yang akan dilakukan besok harinya serta membuat kuesioner kecil-kecilan sebagai sarana penelitian. Malam itu disepakati beberapa pertanyaan untuk diajukan dalam sebuah kuesioner dan lokasi penelitiannya adalah SMP Negeri 1 Situraja dan SMA Negeri 1 Situraja yang berada di belakang Alun-Alun Situraja.
Esok harianya, hari Jumat, 15 Oktober 2010, pukul 09.00 kami, kelompok 5 bersama mentor kami, Bu Iin, berangkat menuju Alun-Alun Situraja dengan menumpang angkot. Sebelum menuju SMA Negeri 1 Situraja, kami membeli bekal minum serta memperbanyak kuesioner sesuai jumlah target responden di tempat fotokopi. Kami meminta izin kepada pihak sekolah terlebih dulu. Kami membagi tugas menjadi tiga bagian untuk menyebar di tiga kelas berbeda. Setelah mendapat suara, kami bergeser ke sekolah sebelahnya, yaitu SMP Negeri 1 Situraja. Kami melakukan hal yang sama. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit dan menyenangkan juga rupanya. Di sela-sela menunggu teman kami yang di dalam kelas, kami sedikit-sedikit mengambil gambar.
Pada malam harinya, di seketariat panitia (menggunakan semacam aula/ruang serba guna) diadakan briefing tutor dan pengarahan kepada masing-masing ketua kelompok. Anggota kelompok yang menemani kebanyakan hanya menunggu di luar sekretariat. Sepulang dari tempat itu, kami bergadang bersama mentor di ruang tamu tempat wanita kelompok 5 menginap untuk menyepakati apa yang akan dilakukan besok harinya serta membuat kuesioner kecil-kecilan sebagai sarana penelitian. Malam itu disepakati beberapa pertanyaan untuk diajukan dalam sebuah kuesioner dan lokasi penelitiannya adalah SMP Negeri 1 Situraja dan SMA Negeri 1 Situraja yang berada di belakang Alun-Alun Situraja.
Esok harianya, hari Jumat, 15 Oktober 2010, pukul 09.00 kami, kelompok 5 bersama mentor kami, Bu Iin, berangkat menuju Alun-Alun Situraja dengan menumpang angkot. Sebelum menuju SMA Negeri 1 Situraja, kami membeli bekal minum serta memperbanyak kuesioner sesuai jumlah target responden di tempat fotokopi. Kami meminta izin kepada pihak sekolah terlebih dulu. Kami membagi tugas menjadi tiga bagian untuk menyebar di tiga kelas berbeda. Setelah mendapat suara, kami bergeser ke sekolah sebelahnya, yaitu SMP Negeri 1 Situraja. Kami melakukan hal yang sama. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit dan menyenangkan juga rupanya. Di sela-sela menunggu teman kami yang di dalam kelas, kami sedikit-sedikit mengambil gambar.
Foto bersama kelompok 5 dan mentor kami, Bu Iin (keempat dari kiri) di depan SMA Negeri 1 Situraja
Agenda hari itu cukup sampai kepada penelitian, hanya saja, pada malam harinya, kami harus mempersiapkan presentasi yang akan ditampilkan pada esok harinya, sabtu pagi. Malam itu bergadang lagi. Walaupun ya, saya dan beberapa teman lainnya akhirnya gugur lebih dulu karena kelelahan. Salah satu malam paling memutar otak adalah malam itu. Rasa dikejar deadline, bingung, dan lelah, bercampur menjadi satu.
Keesokan harinya, Sabtu, 16 Oktober 2010, jam 08.00 pagi, kami dikumpulkan di sebuah gedung Sekolah Dasar yang dipinjam oleh pihak panitia sebagai tempat kami presentasi. Presentasi dibagi menjadi beberapa ruangan dengan beberapa guru yang ditugaskan sebagai penguji di sana. Presentasi yang dipaparkan berisikan Latar Belakang Penelitian, Rumusan Masalah, Metode Penelitian, Hasil Penelitian (Data), serta Simpulan. Penguji beberapa kali menanyakan dan mempertanyakan banyak hal, namun dalam suasana yang lebih santai (karena sidang sebenarnya dilaksanakan pada 05 Februari 2011) namun tetap serius, untuk memastikan setiap kelompok mendapat hasil penelitian yang diharapkan dalam dua hari terakhir.
Selepas presentasi, semua kembali ke rumah orang tua asuh, istirahat (Kami, kelompok 5 memilih untuk menikmati mie bakso dekat rumah orang tua asuh). Diberi waktu untuk berkemas dan salam perpisahan dengan orang tua asuh hingga dikumpulkan kembali di Alun-Alun Situraja setelah shalat dzuhur. Pukul 13.00, kami berangkat menuju Jakarta dengan bus yang sama ketika kami berangkat. Menjelang maghrib, kami tiba di lingkaran setan SMA Negeri 8 Jakarta.
Catatan Perjalanan: Situs Goa Pawon, Cipatat, Kab. Bandung Barat, 17 Januari 2015
Status: Introvert - Sensing
Dalam rangka mengakhiri libur panjang akhir semester ganjil, saya dan dua orang teman saya, Riksa dan Budi berencana mengunjungi salah satu tempat wisata di Kab. Bandung Barat, yaitu Situs Goa Pawon dan Stone Garden. Kami mengawali perjalanan dari Cisitu, tempat kos kami selama kami kuliah di Institut Teknologi Bandung, pada pukul 8.00 pagi. Dengan angkot Cisitu-Tegallega, kami menuju Stasiun Hall. Kami turun di Stasiun sisi selatan. Kami memberi tiket KRD (Kereta Rakjat Djelata) seharga Rp1500,00/orang untuk satu kali perjalanan. Cukup murah untuk perjalanan 14 km. Keretanya pun cukup nyaman. Sepi, bersih, dan tersedia colokan listrik di setiap kursinya.
Saya, Riksa, dan Budi menikmati perjalanan singkat itu, hanya 15 km. Sesampai di stasiun, kami mencari angkot. Tentu saja angkot yang benar, angkot yang memang dapat mengantarkan kami ke situs Goa Pawon. Bertanya ke beberapa supir angkot, akhirnya dapat juga. Angkot berwarna kuning yang memiliki pintu penumpang di bagian belakang, berbeda dengan angkot pada umumnya yang memiliki angkot penumpang di sisi kiri mobil. Perjalanan agak lebih jauh terasa. Melewati Pasar Padalarang, kami melalui jalur Padalarang-Cianjur, jalur antar kota. Sekitar 30 menit menaiki angkot dengan trayek menuju Rajamandala tersebut, kami diturunkan di pinggir jalan raya antarkota tersebut. Di seberang jalan terdapat gapura yang menunjukkan bahwa itu adalah jalan menuju Goa Pawon.
Di mulut gapura terdapat pangkalan ojek, motor-motor berjejer berharap kami akan menyewa mereka untuk mengantarkan kami ke Goa Pawon. Budi berkata, "Jalan kaki aja, biar greget". Oke, kami memutuskan untuk jalan kaki. Sepanjang pejalanan udaranya sejuk, menjauh dari asap truk dan bis AKAP yang melintas sepanjang jalan raya Cianjur-Padalarang. Suasana pedesaan dengan jalanan aspal yang naik-turun, serta suara jangkrik dari ilalang pinggir jalan menemani perjalanan kami. Sekitar 15 menit berjalan kaki, kami mendapati jalan cagak dengan papan penanda di tengahnya. Kami mengambil gambar sebentar, lalu mengambil jalur kanan.
Tepat pilihan kami. Sepuluh menit kemudian, kami sampai di pintu masuk Goa Pawon. Kami membeli tiket masuk seharga Rp5500 per orang (sudah termasuk asuransi). Hal petama yang kami lihat bukan Goa Pawon yang tersohor itu, melainkan tempat parkir kendaraan, di sisi kirinya terdapat pendopo dengan maket peta kawasan wisata Goa Pawon. Selama 30 meter kami berjalan lurus, terdapat banyak kawanan monyet liar menemani kami. Semoga mereka tidak macam-macam, pikir saya. Kami menaiki beberapa batu, lalu tiba di mulut goa. Bau kotoran kelelawar menguar kemana-mana, membuat Budi tidak tahan akan baunya. Saya yang belum pernah mengendus bau kotoran kelelawar justru merasa biasa saja. Kotoran-kotoran kelelawar itu, terlihat dibungkus karung dan dikumpulkan di salah satu sudut goa. Saya membayangkan, pemilik dari tulang-tulang yang ditemukan di goa ini (sekarang di Museum Sri Baduga, Tegallega, Kota Bandung), pernah bermukim di goa ini. Hmmmm, seperti apa ya kehidupannya?Teringat pelajaran sejarah yang pernah diajarkan saat SMA dulu oke, lupakan. Kami ambil gambar sebentar, mengingat Budi tidak tahan dengan baunya.
Kami keluar dari Goa Pawon, bermaksud istirahat sejenak di Pendopo di dekat lapangan parkir. Di sana, kami menikmati bekal yang kami bawa dari Bandung dan bercengkrama hingga pukul 12.00. Perjalanan dilanjutkan ke Stone Garden. Juru parkir di sekitar pendopo menunjukkan bahwa jalan ke Stone Garden adalah menaiki bukit di seberang lapangan parki itu. Kami mendaki sekitar 20 menit. Agak terjal juga tanjakannya. Sesampai di puncak, kami istirahat sebentar, ke toilet umum. Lalu di jalan yang ke kiri, terdapat pintu masuk stone garden dengan tarif Rp3000 per orang. Cukup murah. Perjalanan tiga menit kemudian, kami mendapati hamparan luas bukit dengan batu-batu putih seolah-olah tumbuh dari dalam tanah berumput itu. Semua rasa lelah sekejap sirna. Indah sekali.
Dalam rangka mengakhiri libur panjang akhir semester ganjil, saya dan dua orang teman saya, Riksa dan Budi berencana mengunjungi salah satu tempat wisata di Kab. Bandung Barat, yaitu Situs Goa Pawon dan Stone Garden. Kami mengawali perjalanan dari Cisitu, tempat kos kami selama kami kuliah di Institut Teknologi Bandung, pada pukul 8.00 pagi. Dengan angkot Cisitu-Tegallega, kami menuju Stasiun Hall. Kami turun di Stasiun sisi selatan. Kami memberi tiket KRD (Kereta Rakjat Djelata) seharga Rp1500,00/orang untuk satu kali perjalanan. Cukup murah untuk perjalanan 14 km. Keretanya pun cukup nyaman. Sepi, bersih, dan tersedia colokan listrik di setiap kursinya.
budi (kiri) dan riksa (kanan) di Kereta Rakjat Djelata (KRD)
Saya, Riksa, dan Budi menikmati perjalanan singkat itu, hanya 15 km. Sesampai di stasiun, kami mencari angkot. Tentu saja angkot yang benar, angkot yang memang dapat mengantarkan kami ke situs Goa Pawon. Bertanya ke beberapa supir angkot, akhirnya dapat juga. Angkot berwarna kuning yang memiliki pintu penumpang di bagian belakang, berbeda dengan angkot pada umumnya yang memiliki angkot penumpang di sisi kiri mobil. Perjalanan agak lebih jauh terasa. Melewati Pasar Padalarang, kami melalui jalur Padalarang-Cianjur, jalur antar kota. Sekitar 30 menit menaiki angkot dengan trayek menuju Rajamandala tersebut, kami diturunkan di pinggir jalan raya antarkota tersebut. Di seberang jalan terdapat gapura yang menunjukkan bahwa itu adalah jalan menuju Goa Pawon.
Di mulut gapura terdapat pangkalan ojek, motor-motor berjejer berharap kami akan menyewa mereka untuk mengantarkan kami ke Goa Pawon. Budi berkata, "Jalan kaki aja, biar greget". Oke, kami memutuskan untuk jalan kaki. Sepanjang pejalanan udaranya sejuk, menjauh dari asap truk dan bis AKAP yang melintas sepanjang jalan raya Cianjur-Padalarang. Suasana pedesaan dengan jalanan aspal yang naik-turun, serta suara jangkrik dari ilalang pinggir jalan menemani perjalanan kami. Sekitar 15 menit berjalan kaki, kami mendapati jalan cagak dengan papan penanda di tengahnya. Kami mengambil gambar sebentar, lalu mengambil jalur kanan.
saya (kiri) dan riksa (kanan) di jalan cagak menuju objek wisata goa pawon
Tepat pilihan kami. Sepuluh menit kemudian, kami sampai di pintu masuk Goa Pawon. Kami membeli tiket masuk seharga Rp5500 per orang (sudah termasuk asuransi). Hal petama yang kami lihat bukan Goa Pawon yang tersohor itu, melainkan tempat parkir kendaraan, di sisi kirinya terdapat pendopo dengan maket peta kawasan wisata Goa Pawon. Selama 30 meter kami berjalan lurus, terdapat banyak kawanan monyet liar menemani kami. Semoga mereka tidak macam-macam, pikir saya. Kami menaiki beberapa batu, lalu tiba di mulut goa. Bau kotoran kelelawar menguar kemana-mana, membuat Budi tidak tahan akan baunya. Saya yang belum pernah mengendus bau kotoran kelelawar justru merasa biasa saja. Kotoran-kotoran kelelawar itu, terlihat dibungkus karung dan dikumpulkan di salah satu sudut goa. Saya membayangkan, pemilik dari tulang-tulang yang ditemukan di goa ini (sekarang di Museum Sri Baduga, Tegallega, Kota Bandung), pernah bermukim di goa ini. Hmmmm, seperti apa ya kehidupannya?
one trip, one selfie
Budi (kiri) sedang mengambil gambar eksotisnya goa pawon
saya (kiri) dan budi (kanan) di batu gerbang, stone garden
salah satu sudut hamparan batu (maaf jika saya mengganggu pemandangan :v)
Sekitar satu jam kami bernarsis ria, mengambil beberapa puluh foto. (Memang, seharusnya SD Card handphone harus terlebih dulu dikosongkan jika akan berpergian ke wisata alam). Puas dan mulai lelah membuat kami melihat jam tangan. Ah sudah pukul 13.30. Kami kembali ke gerbang tiket stone garden. Kami memesan ojek disana. Tiga ojek motor siap mengantarkan kami ke jalan raya Cianjur-Padalarang. Ongkosnya Rp10000. Cukup mahal sebenarnya, ternyata jarak tempuhnya sangat dekat. Lebih dekat daripada ketika kami melewati pintu masuk yang awal. Pengendara ojek yang saya tumpangi bercerita bahwa wisata stone garden ini tergolong baru, sekitar pertengahan 2014 lalu dibuka, cukup fenomenal, yang bisa disandingkan dengan objek wisata Goa Pawon. Tidak banyak yang diceritakan karena singkatnya perjalanan dengan motor ini.
Kami kemudian menaiki angkot yang sama menuju stasiun Padalarang, membeli karcis, lalu sampai di Stasiun Hall, Bandung pada pukul 14.45. Untuk ongkos dari Cisitu (diluar ongkos makan), setidaknya merogoh kocek:
Angkot Cisitu-Tegallega (bolak-balik): 2 x Rp3000 = Rp6000,-
KRD (bolak-balik): 2 x Rp1500 = Rp3000,-
Angkot Padalarang-Rajamandala (bolak-balik): 2 x Rp5000,- = Rp10000,-
Situs Goa Pawon: Rp5500,-
Stone Garden: Rp3000,-
Ojek motor: Rp10000,-
Total: Rp37500,-
N.B.: KRD saat itu masih disubsidi pemerintah, sekarang tarifnya (non subsidi) sebesar Rp4500,- per orang.
Langganan:
Postingan (Atom)










